Oleh: pinjambuku | 27 April 2011

Tentang Waktu dan Hal-Hal yang Tak Penting Itu

betawi hari ini,

ketika ada hujan dan mesti berangkat ke pabrik seperti biasa, lalu minum kopi seperti biasa, sambil nongkrong dan ngobrol tak jelas dengan sesama buruh yang tak jelas, dan semacam itu….

pagi2 bangun kesiangan karena liat bola sampai pagi. tapi kalo kesiangan kan bukan bangun pagi2 ya? apalagi kalo liat bolanya sampai pagi, berarti tidak tidur tapi bangun… eh, bangun atau terjaga ya? lho, kalo terjaga kan artinya kita lagi tidur trus terbangun, itu istilah terjaganya bener. kalo dari sore tidak tidur sampai pagi nunggu bola, artinya bukan terjaga tapi begadang… ah, jadi ingat lagunya bang rhoma: begadang jangan begadang, kecuali ada artinya, liat bola dan menang jagoannya… itu baru bener! yang gak bener kalo pake taruhan, itu judi namanya: judi! Jreeet! meracuni keimanaaaan…. Judi! Jreeeet! meracuni kebenaraaaaan….

Baca Lanjutannya…

Oleh: pinjambuku | 25 Agustus 2010

s.a.k.i.t

Hari ini aku sakit. Tetap ke pabrik seperti biasa, seperti dua tahun lebih terakhir tanpa cuti dan bolos. Tapi entah kenapa, tadi pagi ada niat untuk tidak berangkat kerja. Benar2 tidak ingin melewati rute rutin berdebu jelaga asap motor dan pabrik dan kemacetan yang mampet. Tapi tetap saja aku berangkat, aku tak ingin membiakkan sakit dan menularkannya ke orang rumah. Alangkah hidup tak banyak pilihan. Dan aku di sini, di pabrik ini, kesakitan, letih dengan sekian berita dan cerita. Jadi, siapakah yang sakit? Aku? Atau dunia?

Oleh: pinjambuku | 18 Desember 2008

Puisi, Catatan Kaki

JAKARTA

I

Setiap kali duduk di meja kantin itu, selalu ia teringat pada sebait sajak, yang berkisah tentang kesepian dan perih yang menyelinap di antara orang-orang. Ia kesepian. Ia rindu pada rumah, rumah dan semua yang ada di kota asal yang harus ditinggalkannya. Ia rindu pada orang-orang dan suasana, pada sapaan dan tawa yang tumbuh di bibir setiap orang, pada ejekan dan makian yang hangat dan akrab, pada lamunan yang tak penting dan nostalgia yang terus berdering nyaring. Ia rindu pada sepi yang lain, bukan sepi yang beku di udara pendingin ruangan, bukan sepi mengering di panas matahari, bukan sepi yang terbakar oleh curiga dan dengki.

Ia kesepian setiap kali duduk di meja kantin itu, setiap duduk di ruang kerjanya, setiap malam menjelang tidur dan ketika ia terbangun kesiangan. Ia selalu bergegas dan kehabisan waktu untuk meresapi kesunyian hidupnya. Ia rindu sepi, yang melintas-lintas dan menggodanya untuk pergi, untuk pulang ke rumah lama yang telah ditinggalkannya.

Ia tahu, rumah itu telah hilang, kota lama itu telah hilang, orang-orang itu telah lama berubah. Ia tahu rindunya bagai rindu pungguk merindukan bulan.

Di kota ini, lampu-lampu berlomba di tempat terang, dan kegelapan menyembunyikan nista setiap orang.

Ia kesepian.

Oleh: pinjambuku | 10 Desember 2008

Surga dan Neraka

Suatu ketika seorang manusia diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan Tuhannya dan berkata, “Tuhan ijinkan saya untuk dapat melihat seperti apakah Neraka dan Surga itu”.

Kemudian Tuhan membimbing manusia itu menuju ke dua buah pintu dan kemudian membiarkannya melihat ke dalam.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang sangat besar, dan di tengahnya terdapat semangkok sup yang beraroma sangat lezat yang membuat manusia tersebut mengalir air liurnya. Meja tersebut dikelilingi orang-orang yang kurus yang tampak sangat kelaparan.

Orang-orang itu masing-masing memegang sebuah sendok yang terikat pada tangan masing-masing. Sendok tersebut cukup panjang untuk mencapai mangkok di tengah meja dan mengambil sup yang lezat tadi.

Tapi karena sendoknya terlalu panjang, mereka tidak dapat mencapai mulutnya dengan sendok tadi untuk memakan sup yang terambil.

Si Manusia tadi merinding melihat penderitaan dan kesengsaraan yang dilihatnya dalam ruangan itu.

Tuhan berkata, “Kamu sudah melihat NERAKA”
Baca Lanjutannya…

Oleh: pinjambuku | 17 September 2008

5 Buku Puisi: Jalan Baru Penyair Penuh Nyali

“Love Talks to Love”


Lama sudah abai pada puisi,
rindu datang tinggal kenangan lama,

tapi tak banyak, tak ada lagi, sajak yang mengharubiru seperti dulu.
Lalu ketemu blalangkupukupu, katanya salah seorang jawara di rimba mailinglist
dan aktivis dunia maya—yang tak cukup kupahami petanya
yang jelas produktivitas dan dokumentasi puisi karyanya
membuatku ragu untuk membacanya: aku ragu pada diriku sendiri
yang tak lagi punya nyali dengan puisi.

Lalu ia, si blalangkupukupu itu, meluncurkan 5 buku puisinya.

Gila!!! Siapa bilang puisi telah mati? Siapa bilang menerbitkan buku harus berbelit-belit
dengan urusan teknis dan duniawi? Inilah puisi!
Ayo, siapa berani membacanya? Siapa setia berkarya seperti dirinya?
Siapa mau memberi bukti dan bukan promosi dan janji seperti iklan dan politisi?
Mau jadi penyair? Bersyairlah!
Mau jadi penulis? Menulislah, dan terbitkanlah

dengan berani dan penuh nyali!!!

Inilah dia:

blalangkupukupu: 5 antologi sajak


Dan ini adalah kutipan lengkap pengantar si penyair atas puisi-puisi:

Baca Lanjutannya…

Oleh: pinjambuku | 10 September 2008

Suatu Hari Ketika Aku Rindu Jogja

“maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk di bawah hujan rintik-rintik–SDD”

Selalu, setiap membaca tentang Jogja, aku jadi kangen. Ya, seberubah apapun kota itu, ada banyak hal yang membuat aku tak bisa benar-benar melupakannya. Sekali ini, aku membaca kembali tentang keraton. Tentang para penghuni tanah magersari. Berbeda dengan kasus pemerintahan, tentang status keistimewaan dan jabatan gubernur yang tidak jelas juntrungnya, keseharian orang-orang biasa dalam cerita itu membuat aku kembali merindukan Jogja. Aku rindu pada kehidupan yang biasa-biasa saja, yang sederhana, yang penuh persaudaraan dan cinta.
Baca Lanjutannya…

Oleh: pinjambuku | 27 Agustus 2008

Mencari Jalan Hidup, Menemu Pilihan-Pilihan

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya….

Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang….

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Sebuah artikel inspiratif dari Andy F. Noya. Tentu saja, cerita ini terasa indah karena disampaikan oleh seseorang yang telah mencapai kesuksesan. Bisa jadi ini malah menjerumuskan untuk kita, orang-orang kecil yang masih harus terus menjadi pejalan jauh. Tapi, tak ada yang tak mungkin dalam hidup. Mari kita mulai dengan menjadi pembaca yang baik, murid budiman…

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>


Lentera Jiwa

oleh: Andy F. Noya

Baca Lanjutannya…

Oleh: pinjambuku | 16 Agustus 2008

CITA-CITA ANAK KITA

Berhala Materi:

Pendidikan dalam Penjara Profesi

“… belajar agama hanya berguna untuk mereka yang ingin menjadi agamawan atau hanya berguna untuk kehidupan di akhirat…”

“Susan, Susan, Susan. Kalau gede, mau jadi apa?” Demikian sebuah lagu anak-anak yang sangat populer sekian tahun lalu. Lagu itu tidak banyak lagi dinyanyikan kini, tapi pertanyaan yang muncul dalam lagu tersebut terus berulang jadi kalimat standar dalam percakapan antara orang dewasa dan anak-anak yang baru mereka kenal. Jauh sebelum lagu itu diciptakan dan akan hidup entah sampai kelak kapan, pertanyaan tentang cita-cita dan minat anak-anak akan dunia orang dewasa menjadi bahasan terpenting di semua lapisan sosial. Baca Lanjutannya…

Oleh: pinjambuku | 14 Juli 2008

Hidup Indah Penuh Makna

Judul Buku: Cherish Every Moment, Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 1, 2007
Tebal : xxii + 322 halaman

“Betapa tidak terberkahi hidup dalam kecemasan. Setiap orang harus berjuang menguak ketakutannya.” Alangkah banyak hal dari diri kita yang membenarkan pernyataan yang sangat tajam dan menohok dari Seno Gumira Ajidarma, sastrawan terkemuka Indonesia, dalam novelnya, Negeri Senja ini. Kita tiada hentinya berusaha meraih kebahagiaan, menemukan ketentraman, mencapai hidup yang indah dan damai. Kita ingin selalu berhasil untuk setiap usaha kita, ingin mendapatkan semua yang kita inginkan. Tapi semakin keras usaha kita, rasanya harapan kita makin jauh, kegagalan pun mendekati. Kita menjadi cemas dan takut. Dan hidup kita pun tiada terberkahi. Baca Lanjutannya…

Oleh: pinjambuku | 10 Juli 2008

Matinya Manusia Modern

“E-mail”dan Manusia Super
Rabu, 9 Juli 2008 | 03:00 WIB

NINOK LEKSONO

”Cara hidup kita sekarang ini mengerosi kemampuan untuk konsentrasi yang dalam, lama, dan perseptif, yang merupakan blok pembangun keintiman, kearifan, dan kemajuan kultural.”

(Maggie Jackson, pengarang buku ”Distracted: The Erosion of Attention and the Coming Dark Age”, WST, 8/7)

Manusia modern dilanda dilema: di satu sisi harus menjadi kompetitif dan dengan itu harus punya banyak keunggulan; tetapi di sisi lain ia juga ingin menjalani hidup secara wajar saja, tanpa harus merasa dikejar-kejar untuk menjadi pintar dan serba tahu.

Kini, mengecek pos elektronik (e-mail) merupakan menu harian yang sulit dilewatkan bagi banyak orang. Ketika jumlah e-mail di kotak surat (inbox) semakin banyak, muncul pertanyaan, harus dimaknai apa aktivitas menyimak dan menjawab e-mail itu? Apakah itu aktivitas yang bermanfaat atau tidak? Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.