Oleh: pinjambuku | 17 Agustus 2015

merdeka menjajah jalan raya, gang-gang, dan lain sebagainya….

View on Path

Oleh: pinjambuku | 30 Juni 2015

#7TahunJakarta

View on Path

Oleh: pinjambuku | 4 Juni 2015

parisian

View on Path

Oleh: pinjambuku | 23 April 2015

malem jumat kurang khidmat kalo belum baca ini buku berkhasiat….
#WorldBookDay

View on Path

Oleh: pinjambuku | 16 April 2015

aku ingin dikubur bersama sekarung kacang dan gigi baru. jadi kalau di makam ada bunyi berisik, itu artinya aku msh di situ ~ gunter grass

View on Path

Oleh: pinjambuku | 21 Februari 2015

perkara memakan rambutan

sekian tahun yang sudah lama sekali dulu, saya bertamu ke satu rumah yang menambah banyak catetan keheranan saya.
bisa jadi karena saya memang ndeso dan udik, mungkin juga karena cupetnya pergaulan saya, yang jelas saya ketemu kagok ketika saya menyebut pak satpam alih2 security, saya panggil pak sopir dibanding driver, dan yang bikin saya senewen ya urusan memakan buah rambutan ini.
jaman dulu itu, saya mikirnya kok sebegitu malesnya sih, makan rambutan saja pakai dikupasin sama mbak-mbak pembantu eh asisten rumah tangga. kalo rambutan sudah disajikan bersih dari kulit dan bahkan bijinya, di mana sensasi makan rambutannya jal? lagian, kalo tujuannya biar tangan tidak kotor dan kuku tetap bersih, tapi rambutannya rak jadi sudah diuwal-uwel sama tangan-tangan mbak-mbaknya itu to?
entah bagaimana ceritanya waktu itu, yang jelas perkara memakan rambutan ini tetap jadi salah satu catatan keheranan terbesar dalam hidup saya.

sampai suatu ketika kemudian
saya kok ya ditawari memakan rambutan dengan cara ini. artinya, sudah dikupas dan tinggal comot lalu kriak-kriuk, njuk tinggal nglepeh bijinya. jebul enak juga je, makan rambutan kayak gini. kenapa dulu itu saya pake setengah mati keheranan ya?
hahahaha….

View on Path

Oleh: pinjambuku | 21 Februari 2015

sedikit demi sedikit lama-lama menjadi penyakit

ceritanya, gara2 sering dikasih dan dioleh-olehi batu, tahu2 sudah segini saja koleksi batu yang tidak disengajanya. lha ini rak bahaya, bisa2 saya juga terkena demam batu kayak banyak rakyat negeri ini–lha, kalo namanya demam, berarti kan penyakit ya…. hahaha

tapi mau bagaimana lagi, lha itu temen2 (dan saya sendiri ) tiap pergi ke mana gitu, kok nemu yang namanya batu specialty yang hanya ada di situ adanya dan beda dengan batu dari daerah lainnya.

contohnya ya ini, ada batu kalimaya, banten, garut, sukabumi, aceh, satam belitong, bacan, bengkulu, dan mbuh dari mana lagi itu.

jadi bener kata lagu jaman dulu, indonesia zamrud khatulistiwa. yang namanya batu saja, ada banyak ragam dan warnanya, yang bisa menghidupi dan bikin hepi (meski bisa merusak alam dan lingkungan).
intinya, kalo masih banyak yang tidak beres di sekitar kita, ada yang berkekurangan baik fisik maupun psikis, material dan spiritual, paling gampang ya bilang saja: pemerintahan dari jaman revolusi sampai jokowi nggak ada yang becus lagi pula malah banyak yang korupsi.
lhah, mau ngomongin batu kok malah nggladrah ini gimana to yo. tobil-tobil….
gara2 batu, goro2 negara ora ana sing ngrewes…. bener2 nggak beres, sodara-sodara!

View on Path

Oleh: pinjambuku | 8 Desember 2014

pagi jakarta
pagi jakartaku
pagi, jakarta
pagi, jakarta!
pagi, jakarta….
pagi di jakarta

jakarta pagi ini

View on Path

Oleh: pinjambuku | 25 November 2014

Listening to Theme from Silk Road by KITARO

bermain awan

mendung menggantung di langit murung
biarkan kitaro menyanyi dengan jarinya
lalu kita akan jadi bingung:
siapa itu yang bermain dengan geludug dan petir?
engkaukah, kitaro?
atau tuhan….

Listening to Theme from Silk Road by KITARO

Preview it on Path

Oleh: pinjambuku | 17 November 2014

subsidi

harga bbm naik, nyamuk2 panik. mereka kini tak bisa semena2 menjelajah kota mencari mangsa.
“boros bensin!” kata mereka.

harga bbm naik, cabe2an panik.
mereka kini tak bisa semena2 menjelajah kota mencari mangsa.
“boros bensin!” kata mereka.

harga bbm naik, terong2 panik.
mereka kini tak bisa semena2 menjelajah kota mencari mangsa.
“boros bensin!” kata mereka.

harga bbm naik, para penyair panik.
mereka kini tak punya banyak waktu lagi,
untuk menulis puisi.
“bikin pamflet dulu, mumpung lagi laku!”

View on Path

Older Posts »

Kategori