Oleh: pinjambuku | 7 Juni 2007

Balada Motor Tua

Semuanya berantakan. Piring, mangkok, gelas, semua pecah berserakan di tanah. Meja kayu panjang yang sudah reyot sedari mula, kini miring sebab dua dari empat kakinya patah. Kaca gerobaknya juga pecah berantakan. Tapi Yu Surip tidak menangis. Ia hilir-mudik mengemasi barang-barang yang tersisa. Sesekali ia membentak Tamara, anak semata wayang itu menangis ketakutan di bawah pohon cemara. Di ujung tenda, Kang Marmo menceracau, mencaci-maki tak ada juntrungannya. Jelas sekali ia sedang hilang kesadaran. Mabuk.

“Mana suamimu… hrr… sini… Surip… aku pecah kelapamu… hah!” Kang Marmo menceracau. Tak ada yang tertawa dengan salah ucapnya, pastilah yang dimaksudkan bukan kelapa tapi kepala Kang Surip yang akan dihantamnya dengan botol kecap yang kini diacungkannya dengan goyah. Tapi dasar orang mabuk, botol kecap itu kini dalam posisi terbalik, cairan hitam kental mengucur di wajahnya. Botol itu dibantingnya di atas meja yang telah patah kedua kakinya. Bukannya pecah berantakan, botol itu malah menggelinding di papan meja yang miring, menghantam kakinya sendiri, membuatnya jatuh terjengkang ke papan meja yang seketika ambrol. Tubuh Kang Marmo menimpa panci dan wajan alumunium yang tersimpan di bawah meja itu, yang belum sempat diselamatkan Yu Surip, menimbulkan suara berkelontengan bagai ditubruk kucing yang kejar-kejaran mau kawin.

Dengan terkaparnya Kang Marmo di antara panci dan wajan rombeng yang kini semakin tidak berbentuk itu, selesailah satu babak ontran-ontran sore itu. Satuan keamanan dan ketertiban kampus datang dan membawa Kang Marmo ke atas mobil. Beberapa pedagang, mungkin juga para juragan, yang muncul berbarengan dengan kedatangan satpam kampus itu ikut serta ke atas mobil. Orang-orang yang semula mengkeret di balik tenda kini bergerombol dalam beberapa kelompok, saling unjuk muka dengan versi cerita mereka masing-masing. Tinggal Yu Surip yang masih sibuk dengan sisa-sisa keramaian, mengemasi sendok, piring, dan mangkok yang masih bisa diselamatkan, dan terutama untuk menghindari bujukan seorang satpam tua yang terus memintanya untuk ikut ke kantor satuan keamanan dan ketertiban kampus.

Lewat sepuluh tahun Yu Surip berjualan di seputaran kampus ini. Dengan berbekal gerobak dan tenda sederhana, ia mula-mula berjualan bakso, tetapi kemudian berganti-ganti aneka makanan, mulai soto, es kelapa muda, ketoprak, soto, mie ayam, sampai rujak. Bukan, bukan karena ia tidak punya keahlian pada satu masakan yang membuatnya selalu bergonta-ganti menu. Bukan pula karena ia mengikuti musim dan cuaca yang disesuaikan dengan kecocokan jenis makanan. Tidak juga karena ia senang mencoba-coba sesuatu yang baru. Semua itu bukanlah kemauannya sendiri, tapi keadaanlah yang memaksanya demikian. Ia hanya ikut saja apa maunya suaminya.

Masalahnya, Kang Surip adalah tipikal laki-laki yang gampang goyah pendirian. Mungkin itu sesuai dengan postur tubuhnya yang kerempeng, atau batok kepalanya yang kecil, yang membuat otaknya gampang dipengaruhi orang-orang. Lebih parah lagi, ia suka duduk di belakang para mahasiswa yang biasa makan di warungnya, menguping pembicaraan mereka, yang kemudian dijadikannya dasar untuk setiap tindakan. Lebih-lebih ketika ia kemudian mendapat nama panggilan Piyus dari para mahasiswa langganannya, mula-mula sebagai nama walikan dari Surip, tapi kemudian dipaskan juga karena ada sedikit kemiripan wajah dengan seorang tokoh mahasiswa demonstran, yang kini jadi centeng tokoh partai tingkat pusat, Mas Piyus alias Kang Surip ini semakin besar kepala, makin malas bekerja, lebih banyak nongkrong dan melamun, lagaknya sudah seperti mahasiswa. Kang Surip menempatkan diri sebagai pemikir, dengan beraneka ide dan gagasan baru. Karena memang tidak ada saluran lain untuk menguji coba pemikirannya, warungnyalah yang tak lain menjadi sasaran petualangannya.

Jadilah warungnya berganti menu dagangan sesuai dengan ilham yang didapatkannya. Bulan ini soto, bulan berikutnya siomay, kemudian ketoprak, lalu rujak, es degan, balik lagi ke bakso, kembali ke soto, lalu pecel, bolak-balik tiada hentinya. Setiap ditanya, Kang Surip dengan berbusa-busa menerangkan bahwa semua itu sudah dipikirkannya dengan matang, sudah diolah menurut data dan penelitian sesuai selera mahasiswa, semua dalil yang muluk-muluk dibeberkannya, sampai pusing orang-orang mendengarnya. Lagak Kang Surip sudah seperti penyair yang mengungkapkan ilham cemerlang atas puisi-puisinya, yang tak ada juntrungannya.

Tapi Yu Surip ikut saja apa mau suaminya itu. Meski sesungguhnya jalannya warung itu, hidup dan matinya keuangan keluarga itu, berada di tangannya, ia adalah seorang perempuan khas Jawa yang selalu nrimo. Baginya, yang penting adalah bahwa mereka tetap bisa berjualan setiap hari, dan rejeki akan selalu ada di setiap apapun makanan yang mereka jajakan. Tentu saja, semua orang butuh makan dan minum, tak mungkin jualan mereka sama sekali tidak ada yang tak membeli. Lagi pula, dengan selalu berganti menu, para langganannya jadi mendapatkan variasi makanan.

Siapa nyana, jalan hidup mereka ditakdirkan untuk melewati itu semua. Mungkin karena menu yang bervariasi yang membuat warung itu banyak didatangi oleh beraneka orang, meski hanya datang sekali, atau karena sikap Kang Surip yang sok akrab itu, mereka ditawari oleh beberapa mahasiswa untuk berjualan di dekat gedung pusat kegiatan mahasiswa, sekalian ikut mengawasi parkiran motor tidak resmi yang ada di luar pengawasan penjaga gedung itu. Gedung pusat kegiatan mahasiswa itu dipenuhi mahasiswa hampir 24 jam setiap hari, setidaknya selalu ada mahasiswa yang datang dan nongkrong di sana sampai larut malam, selain mahasiswa-mahasiswa miskin yang pura-pura menjadi aktivis kampus tidak lebih agar bisa numpang kos gratis di sana.

Warung keluarga Surip kini bisa buka sampai malam hari, tidak seperti pedagang kaki lima di seputaran kampus yang setiap sore harus menutup tenda mereka. Tidak jarang keluarga kecil itu, Kang Surip, Yu Surip, dan Tamara anak mereka, tidur di sana. Meski di tenda yang tidak permanen, lokasinya yang di pojok bangunan membuat warung itu lebih dari cukup jadi naungan.

Tiga tahun lebih warung itu berjalan, semakin lama semakin menambah lebar senyum di wajah Kang Surip dan Yu Surip. Menu masakan mereka kini tidak lagi berubah-ubah, cukup dengan menu utama nasi sayur lodeh atau pecel, sesekali ditambah soto, lalu lauk dan gorengan, telor, tahu, tempe, bakwan, pisang, dan semacamnya. Teh dan kopi menjadi sumur rejeki yang paling menguntungkan, puluhan atau ratusan gelas setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi. Tiga tahun terakhir ini seperti menjadi akhir perjalanan meletihkan di tahun-tahun sebelumnya. Kini mereka telah berhasil memperbaiki rumah dan membeli sepetak sawah di kampung, mengontrak rumah kecil di perkampungan liar di bekas kuburan Belanda di belakang kampus, juga sebuah motor bebek tua yang menjadi andalan Kang Surip menyalurkan ambisinya untuk gagah-gagahan laiknya pegawai negeri.

Begitulah adanya, warung Yu Surip memang menjadi berbeda dibanding warung-warung tenda kaki lima yang lain. Meski masih belum sesukses para juragan yang memiliki banyak gerobak dagangan, warung itu mulai menimbulkan bibit-bibit iri hati dan kecemburuan. Akan tetapi, kalau iri dan cemburu itu sampai berujung pada pengrusakan dan anarki seperti yang dilakukan Kang Marmo, itu sudah melanggar adat, sudah menyalahi rasa solidaritas dan kekeluargaan sebagai sesama pedagang kaki lima, lebih-lebih sebagai warga perantau sedaerah.

Heni, anak pecinta alam yang bertubuh kekar sehingga sering disangka laki-laki itu mencoba mencari kejelasan.

“Ada masalah apa to, Mak Surip?”

“Biasa, Mbak. Kang Marmo itu kan memang seperti itu, suka mabuk dan ngamuk-ngamuk.”

“Jadi, Mak Surip ndak punya masalah dengan dia?”

“Ya ndak tahu. Pokoknya sejak istrinya purik dan minta cerai, Kang Marmo itu ya begitu itu.”

“Lha ngamuknya kok di sini? Tadi dia nyari-nyari Kang Surip juga. Apa dia ada masalah dengan Kang Surip?”

“Ndak. Ndak ada masalah. Kang Surip itu kan tidak neko-neko, tiap hari juga di sini. Kalau ndak di sini, paling-paling ya nglencer jalan-jalan naik motor… eh, mungkin itu masalahnya, Mbak. Mungkin Kang Marmo itu iri sama suami saya itu. Panas hati kali, dia tidak juga bisa punya motor. Istrinya itu kan ndak mau rujuk sebelum Kang Marmo bisa memberinya motor, Mbak.”

Iri dan cemburu, bersaing saling menunjukkan keberhasilan masing-masing, memang menjadi penyakit akut di kalangan kaum pinggiran seperti para pedagang kaki lima itu. Tak ada habisnya kasus pertengkaran dan pertikaian gara-gara soal yang menyangkut harga diri mereka sebagai perantau. Yang satu punya kalung-gelang emas, yang lain seperti diwajibkan untuk memiliki juga, tetangga yang ini punya televisi baru, tetangga yang satunya akan bergegas ikut memiliki juga, lebih besar, lebih baru, lebih mahal kalau bisa, tidak peduli harus cari utangan atau kreditan.

Paginya, warung Yu Surip tidak buka seperti biasa. Bisa jadi urusan ngamuknya Kang Marmo masih belum selesai didamaikan. Bisa juga satpam kampus melarang mereka jualan lagi, yang biasanya cuma dipatuhi satu-dua hari, sudah itu mereka akan kembali berjualan seperti biasa. Tapi sudah lebih dari seminggu berlalu sejak kejadian itu, tidak ada tanda-tanda Yu Surip akan kembali berjualan di warungnya. Mahasiswa-mahasiswa yang sudah terbiasa makan-minum di warung itu jadi kelabakan, lebih-lebih mereka yang uang kirimannya tipis dan biasa ngutang di warung itu, juga mereka yang biasa nggabrul, makan tanpa pernah bayar, atau spanyol, separo nyolong.

Akhirnya terhembus kabar yang membuat orang-orang mengelus dada. Yu Surip dan anak semata wayangnya telah kembali pulang ke desa, mengolah sepetak sawah yang telah mereka beli dari hasil berjualan di warung itu. Kang Surip sendiri kabur entah ke mana, bersama motor tua dan calon bekas istri Kang Marmo. Kang Marmo sendiri dikabarkan telah sembuh dari kebiasaan mabuk dan semakin tekun berjualan. Bisa jadi ia mendapat kesadaran baru, daripada mabuk dan bermimpi lebih baik bekerja keras agar bisa segera membeli motor yang lebih baru, agar kelak bisa menyalip Kang Surip yang telah melarikan istrinya di atas motor tua.

Rumah Maneka, Maret 2006.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: