Oleh: pinjambuku | 7 Juni 2007

Gerobak Lebaran

Gerobak itu kotak persegi memanjang. Dua setengah meteran panjangnya, dengan lebar dan tinggi tak lebih dari satu meter. Ada sebuah roda kecil di masing-masing sisi gerobak, dengan kayu menjulur di keempat sudutnya sebagai sandaran. Keseluruhan sisi gerobak itu berbahan seng yang mulai berkarat, dengan tambalan seng-seng bekas reklame di banyak sisi—mungkin juga diniatkan sebagai hiasan, meski kusam dan kotor. Ada gambar perempuan cantik yang mengiklankan produk perawatan rambut, ada potret seorang aktor terkemuka menawarkan obat pusing, ada moncong sebuah mobil yang muncul dari satu sisi ke sisi depan gerobak, seakan menjadi petunjuk arah bagi gerobak itu berjalan. Sisi belakang gerobak itu menjadi pintu keluar-masuk, yang terbagi menjadi dua sisi, atas-bawah, yang bisa berfungsi sebagai jendela ketika pintu bawah tertutup dan pintu atas dibuka. Sepasang pegangan kayu yang terjulur kaku seakan menjadi pagar yang menghalangi siapa pun untuk datang ke pintu itu, kecuali untuk mereka berdua, sebagaimana mereka juga tak punya banyak ruang di luar gerobak itu. Gerobak itulah yang menjadi tempat bagi keduanya, tak ada yang lainnya. Tak ada tempat lain bagi mereka, tak ada tempat lain bagi orang lain.

Alangkah renta mereka berdua. Keriput yang menggelambir dan mengkerut, tubuh yang menyusut, rambut yang putih kusam, gigi yang bertanggalan. Bibir kering yang selalu gemelutuk, memaki. Kaki yang gemetaran, kepala yang terkantuk-kantuk, tubuh yang selalu meminta untuk berbaring. Seakan badan tak lagi kuasa menahan tarikan tanah yang hendak mengubur mereka. Seakan jiwa tak kuasa lagi menahan tubuh itu untuk tetap berdiri. Seperti bumi tak lagi jenak menghidupi. Bagai orang usiran yang belum lagi menemu tempat pelarian. Hanya gerobak itu yang mau menampung mereka.

“Hei, ude siang ni. Bangun!” Mpok Saodah merepet sambil terus memilah-milah kertas dan plastik yang baru diambilnya dari tempat sampah. Tak ada jawaban. Perempuan renta itu melongok ke dalam gerobak. Di sana tergolek lakinya, Samiun.

“Nape ndak keluar-keluar lu?”

Tetap tak ada jawaban.

“Sakit lu? Mati? Sekalian mati saja dah….. Kalo sakit malah bikin repot aje….”

Ia terbatuk. Dimasukkannya gelas-gelas plastik bekas ke karung putih di samping gerobak. Ia ambil beberapa lembar kardus yang baru didapatkannya dari tempat sampah pagi itu, diselipkannya ke ruang sempit di sisi gerobak. Tutup-tutup botol dari berbagai jenis disatukannya ke dalam plastik hitam besar yang tersimpan di bawah gerobak.

Ketika Mpok Saodah akan kembali melongok dari jendela gerobak, tiba-tiba pintu bawah terbuka lebar. Sepasang kaki kusam dan kering terjulur keluar, hampir membuat Mpok Saodah terjengkang. Ia kembali memaki-maki, lalu membalikkan badan, kembali sibuk dengan sisa-sisa barang bekas yang telah dikumpulkannya.

Malas-malasan, Samiun keluar dari kamarnya, dari dalam kotak gerobak. Pelan ia melangkah menuju tepian tembok pagar, duduk bersandar di sana. Terkantuk-kantuk, merem-melek, menerawang. Biasanya dia akan ngamuk-ngamuk kalau tidak tersedia secangkir kopi dan sebatang rokok yang jadi teman melamun di setiap pagi. Tapi hampir sebulan ini kebiasaan itu harus dilupakannya dengan berat hati. Tak nyaman rasanya terlalu kentara tak puasa di bulan ramadhan.

“Lebaran kapan?” gumamnya.

“Ape?”

“Lebaran!”

“Besok.”

Ia diam.

“Lebarannya masih besok. Hari ini masih puasa.”

Ia tetap diam. Tapi Mpok Saodah masih meracau. Seakan untuk menyalurkan batuk yang tak bisa ditahannya.

“Kopinya besok. Rokoknya besok. Sehari lagi.”

“Iye!” katanya geram.

“Ape?”

“Iye. Puase. Merepet mulu. Puase tahu!”

“Dibilangin malah nyeramahin. Lebarannya masih besok tahu!”

“Susah ngomong sama orang pikun,” ujarnya pelan, asal saja.

“Orang sudah pikun. Susah dikasih tahu,” ganti Mpok Saodah menggerutu.

Selalu begitu. Keduanya tak pernah tak saling sahut kata. Satu kata berkembang jadi kalimat-kalimat panjang, berleret-leret menyeret apa saja yang ada dalam ingatan mereka. Tak ada yang tahu apa yang menyatukan keduanya. Resep apa yang membuat mereka tetap bersama, setua itu, senestapa itu. Mungkin juga, duka dan derita itu yang membuat mereka harus selalu sepenanggungan. Berbagi derita seringkali lebih melekatkan hubungan dua manusia daripada bahagia yang lekas menguap dan dilupakan.

Mpok Saodah terbatuk hebat. Ia terbungkuk-bungkuk seakan mau muntah. Liur meleleh dari mulutnya. Merah kehitaman.

“Mangkanye, kalau sakit ndak usah kerje,” Samiun menggerutu sambil memalingkan muka.

Mpok Saodah menjawab tak jelas.

“Dibilangin, ngeyel lu. Juragan juga tutup. Ndak bisa dijual itu sampah.”

“Uhuk… uhuk… disimpen… besok-besok juga butuh makan lu… uuuh…. Daripade lu, ngorok melulu!” jawab Saodah membela diri.

“Disimpen-disimpen pale lu! Ntar malem kita pindah tahu. Pikun ya lu? Barang-barangnye mau disimpen di mane? Kalau gerobaknya penuh siape yang kuat ngedorong?”

“Katanye ndak mau lagi ke Iklal… uhuk-uhuk… Masjidnya jauh, ndak kuat lagi….uhuk….”

“Ya, ndak ke Istiqlal lagi. Ke lapangan sono tuh….”

“Ya udah, gerobaknya ditinggal…”

“Ditinggal? Bego apa gila lu? Mau dicuri orang?”

“Lebaran ndak ada yang sempet nyuri….”

“Mau nanggung lu? Brani jamin? Kalau ilang mau tidur di mana?”

“Ya udah….”

“Ya udah ape? Kalau ilang, ya udah? Pake otak lu….”

“Dah, udah….. Gerobaknye lu gendong aje…..”

Pertengkaran yang tak ada habisnya. Bahkan di ujung ramadhan. Tapi hidup terlalu keras untuk mempermasalahkan sekadar perang kata. Setiap hari adalah perang untuk mempertahankan nyawa. Menyambung hidup dengan makan apa saja yang ada atau menahan mati dari lapar berhari-hari yang biasa mereka alami.

Hari beranjak siang. Matahari kian terik, debu beterbangan, angin yang perih di mata terus berputar tiada hentinya. Udara pancaroba ini mungkin yang membuat Mpok Saodah ambruk. Bisa jadi juga kerja yang tiada henti dilakukannya. Setiap saat ini dan itu, ke sana-kemari tiada henti. Selalu saja ada yang dilakukannya. Bolak-balik dari gerobak ke bak sampah, memilah-milah rongsokan, memasukkannya ke kantung yang telah dipisah-pisahkan jenisnya. Selain itu, ia akan mencuci baju, memasak air, menanak nasi, balik lagi ke barang-barang rongsokan yang seakan tiada selesai minta ditangani. Begitu setiap hari. Mengumpulkan barang-barang, memilah-milah, membongkar yang sudah dikumpulkan, menata ulang. Selalu seperti itu. Juga meski sudah beberapa hari batuk menyerangnya. Batuk yang di luar biasanya. Batuk yang kini kian parah saja. Samiun sesekali melarang Mpok Saodah bekerja, yang berlanjut dengan pertengkaran dan makian, yang hanya berhenti ketika Samiun mengalah atau sebab batuk Mpok Saodah yang menghebat tak tertahankan.

Lalu sore datang, seperti menjadi penanda bagi Mpok Saodah untuk berhenti. Tubuhnya tak lagi punya daya. Dadanya sesak, kakinya layu. Tinggal satu tugas lagi, memasak air, menanak nasi, membeli sayur dan lauk. Tapi ia tak lagi memiliki cukup kekuatan.

“Pak… Pak… bangun, Pak!”

“Hmm… ape?”

“Keluar dulu, gih….”

Kaki beringsut keluar, Samiun duduk membungkuk di pintu gerobak. Terkantuk-kantuk ia pandangi Mpok Saodah yang menggelesot di sisi gerobak. Pundaknya tersangga kayu pegangan gerobak, tangannya terkulai tepat di depan muka Samiun.

“Sakit lu?”

“Hmm….uhuk-uhuk… ughh….”

Lekas Samiun keluar dari gerobak. Dipapahnya Mpok Saodah.

“Kau beli saja nasi…. Aku mau tiduran….” Katanya lemah sebelum kemudian merebahkan tubuh di lubang gerobak.

Samiun bingung. Ia mondar-mandir saja. Sesekali dijulurkannya kepalanya ke dalam gerobak. Akhirnya ia duduk bersandar di tepi tembok. Melamun. Matanya menerawang. Bertopang dagu.

Malam merayap. Takbir bergema di mana-mana. Samiun tak mendengarkannya. Ia tak menemukan ketentraman lagi. Mpok Saodah tak mau makan sama sekali, hanya segelas teh manis yang masuk ke perutnya. Samiun bahkan tak berharap ada orang yang datang mengantarkan bingkisan, seperti malam lebaran di tahun-tahun sebelumnya. Ia hanya ingin Saodah keluar gerobak, bahkan meski untuk mengajaknya bertengkar seperti biasa. Ia takut ditinggal sendirian.

Takbir terus berkumandang. Menggema sampai pagi tiba. Pagi yang dingin. Sedingin tubuh Mpok Saodah dalam dekapan Samiun. Adzan subuh membangunkan Samiun, entah dari tidur atau lamunan. Remang-remang cahaya lampu memerah, menambah perih matanya. Ia dekap lagi istrinya tercinta. Dingin. Kaku. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya kini. Matanya berkedip dan berkejapan dalam gelap. Kembali benaknya menerawang. Dikenangnya semua yang telah lewat. Sawah menghijau, nasi putih dan sekerat daging di piring, cangkir alumunium yang telah penyok di pojok gerobak, baju putih berenda, celana butut bertambal, anak-anak yang berlarian dan tertawa-tawa, dahak yang menghitam, kasur, pentungan, beling, kalung emas, pesawat terbang, gerobak bersayap. Mimpi dan kenyataan berbaur jadi satu. Alangkah senyapnya. Betapa sepi hatinya. Ia terbiasa menjalani semuanya berdua dengannya, kini ia harus memutuskannya sendiri.

Ia pun keluar, mengemasi semua barang. Menaikkannya ke atas gerobak, di kedua sisinya, menalikan rafia erat-erat. Merah fajar mengiringi gerobak yang didorongnya ke Barat. Tadinya ia akan datang ke masjid, membaringkan istrinya di sana, meski hanya di berandanya. Tapi masjid telah sepi. Pagarnya terkunci. Hari lebaran. Pastilah orang-orang telah berbondong-bondong ke tanah lapang. Ke sana juga gerobak itu didorongnya. Ia bahkan belum lagi tahu, apakah ia ke sana untuk memanen koran bekas dan rejeki dari orang-orang berbaju putih bersih dan wangi di sana, ataukah ia akan mengikuti semua prosesi itu, takbir dan rukuk, sujud dan doa, kalimat-kalimat indah bagai mutiara, bersalam-salaman dan saling tersenyum dan bertegur sapa. Meski hanya dari jauhan.

Takbir terdengar berulang-ulang. Menggema seakan mengikuti setiap langkahnya. Semakin dekat tanah lapang tempat sholat idul fitri dilaksanakan, semakin keras gema takbir itu di telinganya. Pelan diarahkannya gerobak menyeberangi jalan yang lengang. Dadanya berdegup lemah, langkahnya kian pelan, kemudian berhenti di ujung pojok lapangan. Dibukanya pintu gerobak, dipegangnya kaki istrinya. Dingin. Diguncangkannya. Diam. Ia pandangi barisan-barisan jamaah yang rapi dalam warna senada. Putih dan hanya warna putih memenuhi matanya. Ia tahu, ia tak bisa ada di sana, di barisan itu. Ia bahkan tak lagi bisa mengikuti semuanya, meski hanya memandangnya. Tapi sudah sedekat ini, hatinya tak lagi bisa dipisahkan dari barisan itu. Jiwanya ada di sana. Ia pun masuk ke dalam gerobak, tempatnya dan istrinya menemukan kenyamanan di antara hari-hari panjang di sekian tahun hidup mereka. Dipeluknya tubuh dingin itu, tapi kini tubuhnya sendiri yang seakan akan jadi beku. Takbir terus berkumandang. Ia berbisik ke telinga istrinya tercinta, yang kini begitu dekat, semakin dekat saja. Ini lebaran penghabisan, takbir terakhir yang ia bagikan kepada istrinya. Bibirnya bergumam, menggemakan takdir yang memenuhi rongga dadanya, mengalir ke seluruh nadinya. Takbir itu bergema, bergaung, seakan hendak menggerakkan gerobak itu memasuki barisan putih di tengah tanah lapang. Seakan gerobak itu mengambang dan terbang ke langit, membawa mereka ke surga yang dijanjikan. *****


Responses

  1. amanatnya apa ya. Tolong kasih tau. Trim.

    • amanat apa ya? buat pelajaran sekolah ya? amanat tulisan itu bebas saja, sila dimaknai apa saja. kalau menurutmu apa? namanya sastra, fiksi, atau apapun istilahnya, mestinya tidak hanya punya satu makna. jangankan pembaca, penulisnya saja tidak berhak untuk menafsir tunggal apa yang sudah ditulisnya. begitu kira-kira


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: