Oleh: pinjambuku | 7 Juni 2007

Jalinan Gempa Haru

Tak ada lagi yang tersisa. Kampung kami telah porak-poranda. Rumah-rumah rubuh, rumah-rumah miring dan retak parah, rumah-rumah yang tak lagi bisa ditinggali. Sekolahan yang rata tanah, masjid dan mushola yang kini tinggal puing, kantor desa tinggal sisa-sisa, dengan papan nama yang tak lagi bisa dibaca. Berapa banyak dari kami yang harus menemu ajal, lebih banyak lagi yang berlumur kesakitan, juga trauma-trauma. Telah musnah kedamaian hidup, hilang sudah mimpi-mimpi indah, alangkah nestapa bencana yang kami terima.

Tak ada yang memperkirakan semua ini akan terjadi di daerah kami. Bahkan Kakek Akin, yang usianya paling tua di antara penduduk kampung pun belum pernah mengalaminya. Memang ada beberapa kali gempa yang bisa kami rasakan, getaran kiriman Gunung Merapi nun di utara, yang tidak berpengaruh apa-apa, seakan hanya jadi sapaan dan pengingat keberadaannya. Kami pernah ngeri dengan bencana yang terjadi di Aceh sana, beberapa waktu yang telah lewat. Bencana yang begitu dahsyat, yang membuat kami menyadari betapa alam bisa sedemikian ganas memangsa manusia. Tapi kami bahkan hanya manggut-manggut dan pura-pura paham pada setiap uraian para ahli yang menyatakan bahwa negeri ini adalah wilayah rawan bencana alam. Mau bagaimana lagi, tak ada yang bisa kami lakukan. Kami tak ingin menyimpan kecemasan hanya sebab perkiraan-perkiraan. Tapi kini kami harus menyimpan kecemasan yang dijejakkan oleh pengalaman pahit, ingatan yang mungkin akan jadi cemas untuk seluruh sisa hidup kami.

“Hidup tak harus selalu dicemaskan. Yang sudah lewat bisa jadi memang harus dilupakan. Yang akan datang, tak usah dibebani harapan yang keterlaluan. Tapi, lebih tidak bijaksana jika kita mencemaskan apa yang belum lagi ada.”

Aku memandangnya. Baru sekali ini aku berdekat dengannya, mendengarnya berkata panjang. Hanya mereka yang telah melewati banyak pengalaman hidup yang memiliki kebijakan seperti apa yang diungkapkannya.

Ia tersenyum, kembali berkata kepadaku, “Bumi sedang dalam proses menstabilkan diri. Jadi, gempa susulan semacam ini akan terus terjadi. Mungkin sampai sekian bulan ke depan. Tidak usah cemas, Dik.”

Aku diam saja. Agak malu hati juga, sebab aku juga paham akan apa yang barusan dikatakannya. Mestinya aku tidak terbawa arus kecemasan para penduduk yang berlarian ke tanah terbuka begitu ada terasa gempa kecil seperti tadi. Memang banyak juga yang sama sekali tidak mencoba lari, tapi lebih karena mereka sudah pasrah pada apapun yang akan terjadi. Lagi pula, semua kini hanya berteduhkan tenda dan gubuk-gubuk semata, tak ada lagi rumah dan tembok yang perlu ditakutkan akan roboh dan menimpa mereka.

Demikian juga dengan diriku. Rasanya aku berlari lebih karena solidaritas semata, bukan sebab yang lainnya. Ketika yang lain ribut-ribut dan beramai-ramai ke tanah terbuka, lebih nyaman rasanya berada bersama mereka. Senasib dan sepenanggungan. Dan aku masih di sini, duduk dan merenungkan semuanya, sampai kemudian ia datang dan memberi penghiburan.

Kami bahkan masih memiliki ikatan persaudaraan, meski jauh. Tapi aku tak yakin kalau ia mengenalku. Alangkah dalam jurang yang memisahkan keluarganya dan keluarga kami, bahkan dengan seluruh penduduk kampung ini. Barangkali sejauh jarak yang telah ditempuhnya sekian puluh tahun. Barangkali sedalam upaya kami menguburkan ingatan atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di kampung ini sekian puluh tahun yang telah lewat. Siapa pun tahu ia seorang mantan tapol Pulau Buru, bekas durjana, masih tetap seorang nista tak bertuhan menurut sebagian orang. Tapi bagiku ia adalah seorang korban yang tak akan pernah memiliki kesempatan untuk meminta pembayaran.

Hampir setahun yang lalu ia datang. Bukan, ia tidak datang tapi pulang. Ia pulang kembali ke kampung halamannya sendiri. Ia lahir dan besar di tanah ini. Semua keluarganya ada di sini. Dulu. Dulu sekali. Tapi kini tak ada lagi yang tersisa. Bahkan ia harus membeli tanahnya sendiri, tanah tempat dulu rumah keluarganya berdiri. Mujur baginya, sebab ia tidak membangun rumah tembok sebagaimana kini menjadi kebiasaan di kampung ini. Dibangunnya rumah kayu sebagaimana bentuk rumah di masa lalu, dan sebuah joglo kecil tanpa dinding di bagian depan rumah. Bangunan semacam itulah yang selamat dari bencana ini. Hanya rumahnya dan tak lebih dari hitungan jari rumah beberapa penduduk lain yang masih tegak berdiri di kampung ini. Rumah-rumah lain, juga rumah tembok paling baru dan megah namun tanpa perhitungan konstruksi yang memadai, lebih-lebih rumah tembok dengan bata-bata dan bersemen gamping harus menerima nasibnya, rubuh ambruk tak bersisa. Jika pun masih berdiri, retak dan kerusakan yang parah membuat sebagian besar bangunan itu tak bisa dihuni, juga lebih merepotkan sebab harus bekerja dua kali, meratakannya dengan tanah sebelum bisa membangun rumah baru di atasnya.

“Datanglah ke rumah, Dik. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ia berkata kepadaku, tersenyum, kemudian pergi. Aku bahkan sama sekali tak mengucapkan satu patah kata pun kepadanya. Alangkah tidak sopannya diriku. Alangkah makin bertambah dosa kami kepadanya.

*****

Setahun telah lewat, tapi tak banyak hal yang terjadi di antara kami, penduduk kampung ini dengan lelaki tua itu. Pada awalnya, ia datang setiap pagi, mengawasi pembangunan rumahnya, sore ia akan kembali pergi, entah kemana. Sampai beberapa bulan dilakukannya rutinitas itu, hingga kemudian ia membangun sebuah rumah kecil, lebih tepat disebut kamar atau gubuk, di dekat rumah induk yang sedang dibangun. Di gubuk itu ia tinggal, sambil terus ikut turun mengerjakan pembangunan rumah. Rumah itu kecil saja, dari kayu, tak ada yang mengira akan menjadi sebuah rumah yang elok seperti yang kemudian terlihat setelah jadi. Juga joglo yang dibangun belakangan, tidak seperti joglo dari rumah-rumah besar tinggalan masa lalu yang berwibawa dan angker, joglo yang dibangunnya lebih menyerupai panggung tempat bersantai bagi orang-orang tua dan anak-anak bermain. Tapi serasa ada jarak yang memisahkan kami. Barangkali rasa bersalah di antara kami, atau kebencian yang senantiasa dipelihara oleh negara selama sekian puluh tahun masih mempengaruhi kami. Mungkin juga dendam dan sakit yang dirasakannya kepada kami yang membuat kami tidak tahan untuk berdekat dengannya.

Bencana ini seakan juga telah memecahkan tembok di antara kami dengannya. Mula-mula anak-anaklah yang mulai mendatanginya. Mereka menemukan tempat yang teramat nyaman untuk bermain dan melakukan apa saja. Semua sudut kampung telah menjadi puing yang menyesakkan, tak ada tempat yang membuat mereka jenak seperti joglo rumah itu. Anak-anak itu membawa ibu mereka, bocah-bocah yang belum lagi mengenal rumitnya dunia orang-orang dewasa itu memaksa ibu-ibu mereka membawanya ke sana. Tak ada ibu yang tak menginginkan anaknya gembira, dan kemudian mereka pun menemukan keteduhan di rumah itu. Begitulah, berminggu-minggu sudah rumah itu jadi tempat terbaik bagi kami, tidak hanya anak-anak dan ibu-ibu, tetapi juga remaja dan kaum lelaki, juga mereka yang telah lanjut usia, untuk mengaso dari terik matahari, jadi tempat bermain, jadi arena untuk bertemu, berbagi derita, menyusun canda dan tawa, memulai kehidupan di antara puing-puing bencana.

*****

“Barangkali dulu aku adalah seorang penjahat, meski aku secara pribadi tak pernah tahu kejahatan apa yang telah aku lakukan. Tapi, itu tidak ada gunanya, Anakku.”

Malam ini aku ada di hadapannya. Ia tak lagi menyapaku dengan Dik, Adik, tapi Nak, Anakku. Dalam urutan silsilah keluarga, ia bahkan kakek jauhku.

“Tak ada gunanya berpegang hanya pada satu keyakinan, pada satu kebenaran. Sama seperti dulu aku meyakini bahwa politik adalah jalan terbaik untuk kemakmuran rakyat tapi kemudian menemukan kenyataan bahwa politik adalah jalan terburuk untuk ditempuh oleh seorang manusia.”

“Benarkah Bapak dulu adalah seorang tokoh penting di….” Aku tak mampu melanjutkan kalimatku.

“Bisa jadi begitu… aku sendiri tidak tahu…. Apakah itu penting? Apakah penting membedakan seorang tokoh dan bukan tokoh ketika kita telah memiliki penilaian mutlak kepadanya?” ujarnya. Kalimat yang penuh beban, tapi ia mengucapkannya dengan begitu ringan.

“Aku telah belajar banyak soal itu. Apakah engkau pernah mendengar bahwa aku adalah tokoh juga pada masa revolusi?”

Aku menggelengkan kepala.

“Bisa jadi kini ada juga yang menyebutku sebagai tokoh dari suatu predikat tertentu. Siapa yang tahu….” Ia tersenyum.

“Aku hanya ingin mengatakan, betapa tak ada gunanya memberikan predikat dan sebutan pada seseorang, jika itu membuat kita buta.

“Di masa revolusi dulu, alangkah bencinya aku kepada orang-orang Belanda itu. Alangkah berkobar semangatku setiap meneriakkan kata merdeka. Jiwaku terbakar amarah untuk membunuh mereka semua. Tak peduli mereka itu prajurit atau jenderal, bahkan juga mereka yang bukan orang-orang Belanda tetapi bekerja untuk mereka. Bagiku, Belanda adalah najis yang harus dimusnahkan dari negeri ini, dari bumi ini. Itulah perang, Anakku.

“Dengan jalan itu aku mendapat tempat terhormat di negeri ini. Tapi tempat terhormat itu juga yang kemudian membuat aku terpuruk ke dalam jurang terdalam yang paling mungkin dialami oleh manusia. Kalau saja engkau tahu… mestinya engkau telah belajar tentang itu?”

“Saya telah banyak membaca tentang peristiwa itu. Mungkin saya bisa mengetahui lebih banyak lagi dengan mendengarkan cerita Bapak….” Jawabku. Pelan dan ragu.

“Tidak penting apa yang aku alami. Kurang lebih semua yang engkau baca itu sudah bisa mewakili penderitaan kami sebagai tapol. Yang membuatku merana, semua itu dilakukan oleh bangsa sendiri. Lebih memilukan lagi ketika kemudian aku tahu bahwa bisa jadi kami masih tetap hidup karena ada orang-orang luar yang terus memantau keberadaan kami. Juga mereka yang berasal dari negeri yang pernah sedemikian aku benci. Orang-orang Belanda adalah mereka yang paling aktif menggalang dukungan untuk keadilan kami. Memilukan bukan, dibantu oleh musuh!

“Itu belum seberapa. Ketika akhirnya dibebaskan dari Pulau Buru, ternyata penderitaan kami belum berhenti. Semua ruang kehidupan kami masih tetap dikerangkeng. Kami tidak bisa mencari kerja di mana-mana, tak ada yang boleh mempekerjakan kami, membantu kami. Semua jalan yang bisa membuat kami hidup dengan layak mereka rampas.”

“Saya pernah membacanya, tumpes kelor yang dilakukan oleh pemerintah Orba. Juga pemaksaan pikiran kepada rakyat, agar kami terus membenci dan memusuhi orang-orang seperti Bapak.”

“Bahkan kami seperti dipaksa untuk melepaskan nama kami sendiri. Kau tahu, aku tak pernah bisa mempergunakan namaku dalam tulisan dan terjemahanku. Sudah seperti itu pun, ternyata tetap saja mereka belum puas. Mereka terus memutus setiap jalan yang aku usahakan. Koran-koran dan penerbitan diancam agar tidak memuat dan menerbitkan tulisanku. Juga meski memakai nama samaran, jika ketahuan bukan hanya aku yang menerima akibatnya, tetapi juga orang koran dan penerbitan itu.”

“Apa yang kemudian Bapak lakukan?

“Untungnya, mereka juga merampas rasa putus asa kami. Jadi, apapun kami lakukan untuk terus hidup. Ada yang menjadi kuli bangunan, pemulung, pemungut puntung rokok, mungkin juga ada yang jadi jambret dan perampok. Aku sendiri terus menulis, ada seseorang yang membantuku memberi pekerjaan dari luar. Kau tahu, orang itu berasal dari Belanda!

“Begitulah, dari semula menjadi musuh nomor satu, aku kemudian bertahan hidup dalam ikatan kerja dengan mereka. Bahkan kemudian aku hidup dan tinggal di Belanda. Beristrikan seorang Belanda. Darahku telah menyatu dengan darahnya, anakku ada di Belanda sana.”

Aku memandangnya dengan mata terbuka. Kini aku tahu apa yang terjadi.

“Hahaha…. Kau juga mengira begitu? Aku datang membawa harta dari Rusia sana, bukan?! Para penduduk menuduhku datang dari negeri komunis sana, kembali ke kampung ini untuk menyebarkan dan membangkitkan ajaran komunis, begitu?!

“Tidak. Semua ini aku kumpulkan sedikit demi sedikit dengan kerjaku sebagai penulis di Belanda sana. Ada banyak artikel dan buku yang telah aku tulis, juga terjemahan dan penelitian. Kini istriku telah berpulang, anakku telah beranjak mandiri, dan usiaku telah senja. Aku ingin mati dan dikubur di tanah airku sendiri. Itulah kenapa aku pulang.

“Tapi sebelum itu, aku ingin membaktikan hidupku. Bagaimana pun juga, kampung ini adalah titik tolak seluruh perjalanan hidupku. Mungkin semua keluargaku telah menjadi korban kemanusiaan yang pernah terjadi di negeri ini, tapi itu tidak boleh menjadi halangan bagiku untuk bersatu dengan tanah air tempat aku lahir. Aku pernah mengalami penderitaan sebab keyakinan yang buta dan kebodohan yang dimanfaatkan oleh kaum durjana, kini aku ingin semua itu tidak terulang lagi di masa mendatang. Untuk itu, aku ingin mengajakmu, Anakku….”

Aku tergeragap. Dengan terbata-bata aku bertanya, “Maksud… maksud, Bapak?”

“Aku membawa banyak buku. Buku-buku yang aku kumpulkan bertahun-tahun, juga dari rekan-rekan pelarian yang kurang beruntung dan tak bisa pulang ke negeri ini. Aku juga memiliki jaringan yang cukup luas dengan berbagai lembaga yang bisa membantu kita. Aku ingin membuat semacam perpustakaan, mungkin dengan sekolah membaca dan menulis, lebih bagus lagi jika ada kegiatan-kegiatan kreatif lainnya. Itulah kenapa aku membangun rumah dan joglo ini. Aku sudah tua, takkan sanggup menjalankan ini seorang sendiri. Lagi pula, aku ingin program ini terus berjalan, selama-lamanya. Semua itu ada di tanganmu. Aku tahu engkau, aku tahu siapa dirimu. Aku yakin engkau akan menerima tawaranku ini. Aku yakin semua ini akan berjalan dengan baik.

“Aku tidak butuh apa-apa lagi. Tapi aku juga tidak memiliki yang selain ini. Aku tidak bisa membantu membangun rumah dan memberi makan kepada semua yang menjadi korban bencana di kampung kita ini. Tapi pendidikan juga penting, lebih-lebih untuk anak-anak dan remaja, mereka yang akan menjadi penentu masa depan kampung inim negeri ini. Kalau saja kita semua terdidik dengan benar, kita akan tahu bahwa bencana semacam ini sangat mungkin terjadi. Dan kita bisa mengantisipasinya. Semua yang pahit dalam sejarah kampung kita ini, politik maupun gempa bumi, tidak perlu terulang lagi.”

Aku memandang jauh ke depan. Kegelapan malam tak lagi membutakan pandanganku. Seperti bisa kulihat dengan jelas setiap tapak kampung ini, wajah-wajah yang kukenal begitu akrab, bocah-bocah yang tertawa dan ceria. Aku tersenyum, aku tahu selalu ada makna dari setiap peristiwa, juga bencana bisa jadi jalan menuju kehidupan yang lebih mulia. Aku memandang kepadanya. Ia tersenyum. Kami tersenyum. Tak ada lagi sekat di antara kami. Tak ada kecemasan. Kami telah disatukan oleh cita-cita yang sama. Ikatan itu telah terjalin kembali. Mimpi-mimpi telah tercipta kembali.*****

Yogyakarta, 2006

(–dengan ingatan pada HS)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: