Oleh: pinjambuku | 7 Juni 2007

Lelaki yang Menunggu

“KALAU suatu hari kau melihat seseorang duduk sendirian di ruang tunggu stasiun ini, perhatikan baik-baik. Itu adalah aku, yang setia menunggumu….”

Itulah kalimat terakhir yang kudengar darinya, sebelum aku bergegas beranjak. Peluit telah dibunyikan, kereta segera berangkat membawaku pergi dari kota ini. Ya, aku pergi meninggalkannya, lelaki yang bertahun-tahun lamanya mengisi hari-hari selama aku kuliah di kota ini, juga sekian tahun setelah aku bekerja di lain kota.

Aku sudah memastikan bahwa perjalananku ketika itu adalah kedatanganku yang terakhir kepadanya. Tak ada gunanya setiap bulan menempuh semalaman perjalanan di atas kereta yang kian bobrok hanyak untuk menemukan kenyataan yang sama, tidak beranjak ke mana-mana. Ia memang keras kepala, itu aku tahu. Ia terlalu banyak bermimpi, terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, terlalu banyak pertimbangan, banyak kata, semua sudah aku tahu. Tak ada yang lebih bisa memahaminya lebih dari diriku. Aku tidak peduli bahkan ketika tiba saat semua orang memandang iba kepadaku, untuk kesetiaanku kepadanya, untuk keyakinanku akan dapat membawanya menuju jenjang kehidupan berikutnya. Bahkan ketika harapan dan kesabaranku mulai menguap habis, aku masih terus datang kepadanya. Satu bulan yang meletihkan, tapi sekaligus yang selalu aku nantikan. Perjalanan semalaman, dan semalam lagi untuk keberangkatan berikutnya, aku jadikan sebagai bagian dari bahagiaku. Di dunia yang semakin pragmatis, dengan segala kerutinan kerja, yang meletihkan dan membosankan, tak ada kebahagiaan yang lebih berharga dibanding sentimentalisme cinta, dan romantisme kota tua ini. Begitulah yang selalu kukatakan kepada diriku. Tapi akhirnya sampai juga aku pada kerutinan yang sama, keletihan yang membosankan, bahkan memuakkan.

Perjalanan bulanan itu akhirnya berhenti menjadi rutinitas. Aku menjadi letih dengan segenap apa yang ada di antara kami, kebersamaan yang semakin hambar, percakapan-percakapan yang terus berulang, mimpi dan harapan yang semakin lama semakin layu. Ia tidak berubah. Ia dengan mimpi-mimpinya di dunia keseniannya. Sang penyair itu masih sama seperti aku pertama mengenalnya dulu. Bahkan ketika aku berkata kepadanya, bahwa usiaku sudah beranjak semakin tua, bahwa tak ada hal yang perlu diselesaikan pada dirinya, atau pada diriku, jika ia bersedia menikahiku. Ia boleh tinggal di kotaku, ia boleh tetap ada di sini, ia boleh melakukan apa saja, menjadi apa saja. Aku hanya tidak ingin berurusan dengan pertanyaan tiada habis dari orang tuaku, dari semua orang, tentang pernikahan. Aku bilang kepadanya, aku sudah letih dengan perjalanan yang tidak ada gunanya, sentimentalisme dan romantisme remaja yang sudah lama seharusnya aku tinggalkan. Aku bahkan tidak mendengarkan apa yang dikatakannya kepadaku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu. Tak ada gunanya, semua yang ada di batok kepalanya sudah aku hapalkan. Dan memang tidak ada gunanya, apalagi ketika ia dengan sok dramatis bilang akan menungguku sampai kapan pun, dengan segenap cinta, dan seterusnya-seterusnya. Aku hanya tertawa dalam hati ketika ia bilang bahwa setiap akhir bulan, setiap akhir minggu jika perlu, ia akan datang ke stasiun ini, menungguku datang kepadanya.

Tapi aku melihatnya kini. Ia ada di sana, di deretan bangku yang sama. Sepuluh tahun bukan waktu yang cukup lama untuk membuat aku silap pada keseluruhan dirinya. Ini memang pertama aku melihatnya, bahkan pertama kali aku datang ke kota ini. Semenjak perpisahan itu, aku tak pernah lagi menginjakkan kaki di kota ini. Aku memang menghindarinya, terlalu banyak bagian dari kota ini yang telah kucabut paksa dari ingatanku. Aku tak ingin menyimpannya jadi luka. Aku juga tak peduli ketika adikku yang bungsu memilih kuliah di kota ini. Aku sama sekali menolak ketika orang tuaku memaksaku untuk membantu menyelesaikan urusan-urusan di awal kuliah dulu. Sekali ini aku tidak bisa menolak lagi. Akhirnya ia menyelesaikan kuliahnya, ibuku memaksaku untuk datang di hari wisudanya. Aku lama tak menengoknya, sekalian dari acara wisuda pulang bareng ke rumah, ada acara keluarga, katanya. Ya, rumahku, tepatnya rumah orang tuaku, ada di ujung barat laut kota ini, sekitar 3 jam perjalanan. Kini, setelah sekian lama waktu yang mengubur kenangan itu, aku menemukannya di sini, di ruang tunggu peron stasiun ini. Apakah ia sungguh-sungguh dengan ucapannya dulu itu, akan terus menungguku, akan terus datang ke stasiun ini? Apakah ia memang sekeras kepala itu? Apakah ia senaif, setolol, sedramatis, seheroik, atau apapun yang bisa membuat tindakannya itu cukup masuk akal? sepuluh tahun sudah lewat….

Ia duduk di sana. Sendirian. Rambutnya masih seperti dulu, panjang sampai ke bawah bahu. Di tangannya sebuah buku, yang khusuk dibacanya, abai pada lalu-lalang orang yang baru saja turun dari kereta. Tak ada yang berubah pada dirinya. Kutu buku itu masih juga seorang yang asyik dengan dirinya sendiri, dan dunia hanyalah angin yang lewat atau kelebat bayangan yang tak masuk perhitungan. Juga aku.

Aku sama sekali tidak mengharapkannya, tak ada bayangan sedikit pun akan menemukan dirinya setelah sepuluh tahun yang telah lewat. Ia sudah lama aku lupakan. Tak bersisa. Tapi kemudian aku sampai di depannya, tiga meter dari deretan terdepan bangku yang didudukinya, di barisan ketiga. Langkahku berhenti begitu saja, nanar memandang kepadanya. Kesadaranku seperti terbang, sampai seorang bocah menabrakku. Ibu bocah itu memandangku, entah apa yang dikatakannya kepadaku. Aku menemukan kembali kekuatan untuk melangkahkan kaki, hanya untuk kembali menengok kepadanya.

Kembali terngiang ucapannya di pertemuan terakhir kami. Adakah sungguh ia melakukannya, menungguku di ruang tunggu stasiun ini, setiap akhir bulan, setiap akhir pekan, seperti yang diikrarkannya lebih dari sepuluh tahun yang lalu?

Aku teringat kembali dengan semua surat yang dikirimkannya hampir setiap minggu di setahun pertama perpisahan kami. Surat-surat yang tak pernah kubaca, tak satu pun kubuka, langsung kugunting jadi serpihan-serpihan setiap kali sampai kepadaku. Tak ada gunanya membaca tulisan seseorang yang telah menjadi masa lalu, yang dapat membuatku kembali tenggelam dalam mimpi dan harapan kosong seperti yang sudah aku lewati bertahun-tahun kebersamaanku dengan dirinya. Tapi kini aku jadi menyesal membuang semua surat itu tanpa membacanya. Aku sesali diriku yang tak satu kali pun menulis surat kepadanya, agar ia tahu kalau aku benar-benar telah tutup buku pada masa laluku dengan dirinya, setidaknya agar ia tahu bahwa semua suratnya tidak ada gunanya, tak satu pun aku baca.

***

 

IA BENAR. Pilihannya untuk pergi meninggalkanku sepuluh tahun yang lalu sungguh aku hargai, setidaknya setelah sekian tahun kemudian. Perpisahan jadi jalan terbaik untuk kami berdua, setidaknya untukku sendiri. Aku jadi menyadari betapa tak selamanya hidup bisa diselesaikan dengan kata. Sudah seharusnya aku berterima kasih karena ia sama sekali tidak membalas surat-suratku, yang mungkin bahkan tidak dibacanya. Aku tahu benar betapa ia adalah perempuan yang teguh hati, tekadnya tak akan bisa dihalangi oleh siapa saja atau apa saja. Juga ketika dikatakannya bahwa dirinya akan pergi selama-lamanya dari diriku, pergi dari dunia yang selama ini kami selami bersama. Ia akan menempuh hidup baru, di dunia yang baru, yang tak ada lagi jejak masa lalu, tak ada diriku. Dan ia pun hilang bagai ditelan bumi.

Tapi kini ia ada di sini. Di stasiun ini. Di ruang tunggu ini. Ia turun dari kereta yang baru saja tiba, berjalan ke arahku. Ia masih seperti dulu, meski tubuhnya lebih berisi dan rambut kini memanjang sebahu. Apakah masih diingatnya ucapanku kepadanya dulu, bahwa aku akan terus menunggu, di sini, di stasiun ini? Sepuluh tahun sudah berlalu, juga hidupku. Dan aku bukan seorang tokoh dalam satu kisah tentang penantian, tentu saja. Memang aku sempat jatuh dalam nestapa tiada tara di tahun-tahun pertama kepergiannya. Tapi kepedihan itu kemudian memberiku pencerahan, seperti pahitnya obat bagi jiwaku yang rapuh.

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan kepadanya. Kini. Di sini. Di ruang tunggu ini. Aku tak tahu apakah aku bisa berdiri tegak dan mengulurkan tangan kepadanya, bertanya kabar dan semacamnya dan seterusnya. Aku tak tahu apakah aku sanggup untuk tidak kembali larut dalam kenangan masa lalu. Mungkin aku bisa berkata kepadanya, kalau aku sudah keluar dari kepompong lamunan hampa dan busa kata, bahwa aku sudah mulai bisa menulis dan berkarya, seperti yang diharapkannya dulu. Bahwa tulisan-tulisanku terus bermunculan di koran-koran dan media massa. Bahwa karya-karyaku sudah mulai dibukukan, sebagiannya memberi royalti yang lebih dari cukup. Tapi aku tak tahu untuk apa semua itu kusampaikan kepadanya. Lebih dari itu semua, aku tak tahu apa yang harus aku katakan jika ia bertanya, apakah aku menunggunya?

***

 

“KAKAK…. Aduuh, dari tadi aku cari-cari, ternyata ada di sini.” Satu suara mengagetkanku. Adikku setengah berlari menghampiriku.

“Kamu itu, kalau menjemput orang jangan keluyuran dong!” ucapku menutupi kekagetan. Aku tidak ingin ia melihatku dalam ketidaksadaran seperti tadi. Kami segera berpelukan. Betapa lama sudah kami tidak saling jumpa. Adikku kini beranjak dari masa remajanya. Ia telah menjelma sebagai seorang gadis dewasa.

“Sarjana kita ini, masak menjemputku sendirian saja? Mana lelaki pujaan yang katanya mau dikenalkan?” kataku kemudian, menggodanya. Seperti kabar yang kuterima, seusai acara wisuda adikku akan memperkenalkan pacarnya kepada seluruh keluarga, bahkan akan dilanjutkan dengan perkenalan antar keluarga, atau semacam itu. Aku tidak terlalu memperhatikan rencana acaranya, yang penting kini aku sudah datang seperti yang mereka harapkan.

“Ada, Kak. Aku sengaja memintanya menemaniku menjemput Kakak. Biar Kakak tahu lebih dulu,” jawabnya malu-malu. “Aku ingin Kakak mendukungku kalau nanti aku mengenalkannya kepada keluarga kita.”

“Begitu ya? Mana barangnya?” kataku sambil memasang muka serius. Adikku merengut, membuatku tak bisa menahan tawa.

“Dia di ruang tunggu sana, tadi aku tinggal untuk mencari Kakak,” ujarnya kemudian, wajahnya bersemu merah. Pasti ia tidak ingin aku menemukannya sedang berdua-dua dengan kekasihnya. Ah, adikku yang paling kecil ini memang gadis pemalu, seperti yang kukenal sejak dulu.

“Sebentar, Kak. Berhenti di sini dulu.” Adikku menghentikan langkah kami.

“Ada apa, adikku yang manis?” Ia tersenyum-senyum kepadaku. Alangkah bahagianya ia, seperti bocah yang menyembunyikan mainan di balik punggungnya, mengajakku main tebak-tebakan.

“Coba Kakak perhatikan dari sini. Itu, yang di sebelah sana,” katanya sambil mengarahkan pandanganku.

“Yang mana?” Dadaku berdebar. Ia menggerakkan dagunya ke deretan bangku-bangku di ruang tunggu itu.

“Sebelah mana? Mana orangnya?”

“Yang ada di barisan ketiga dari depan. Yang duduk sendirian….”

“Dia?”

“Iya, yang sedang membaca itu. Yang rambutnya panjang itu….”

“Dia….”

“Benar, Kak. Dia seorang penulis. Dia pintar, romantis, setia, Kak.”

“….”

“Bagaimana, Kak? Dia terkenal lho, Kak. Mungkin kami akan segera menikah….”

Tak kudengar lagi kata-kata adikku selanjutnya. Kesadaranku seperti melayang. Aku limbung. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak tahu barus bagaimana. Ia, laki-laki yang menunggu itu, masa lalu yang tak juga lepas dari hidupku.

Rumah Maneka, Maret 2006.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: