Oleh: pinjambuku | 7 Juni 2007

Perempuan Setia

Tak ada yang tahu ke mana nasib membawa kita. Juga aku, siapa kira aku akan sampai pada kehidupan yang seperti ini. Menikah, dengan dua anak yang manis, dan bekerja di rumah sendiri, dengan suami yang sepanjang hari ada di samping kita. Apalagi yang belum aku dapatkan? Kebutuhan-kebutuhan materi sudah dapat aku penuhi, berlebih malah, apalagi jika aku mengukurnya dari masa lalu. Rumah dan segala isinya, dua mobil, beberapa tabungan, dulu semua itu hanyalah mimpi. Lebih dari itu, usahaku ini juga telah memberiku nama dan kehormatan, yang membuat aku dapat melanglang ke berbagai kota, ke berbagai pulau, bahkan ke luar negeri. Setidaknya setahun sekali aku mengikuti pameran atau mendapat undangan ke negeri-negeri yang jauh, pameran dan undangan dari dalam negeri hampir datang setiap bulan, yang membuat aku harus benar-benar menyeleksinya agar aku tidak terlalu sering pergi meninggalkan suami dan dua anakku yang selalu membuat aku rindu setiap jauh dari mereka. Siapa mengira kami dapat mencapai semua ini?

Aku bahkan telah bisa membantu keuangan keluargaku. Ayah dan ibuku yang telah mulai menua, yang menurutku layak untuk menikmati hidup lebih dari sekadar dengan uang pensiun mereka yang tak seberapa. Juga saudara-saudaraku, kakak dan adikku, dan keponakan-keponakanku. Tidak, tak ada masalah dengan suamiku. Ia bahkan lebih getol dibanding aku kalau sudah berurusan dengan keluargaku, malah terlalu berlebihan menurutku. Bagaimana lagi, keluarganya tinggal satu kakak yang hidup berkecukupan di Jakarta sana dan seorang adik yang telah ikut bersama kami sejak kuliah. Ya, boleh dikata, suamiku itu hanya milik kami. Atau sebaliknya, ia hanya memiliki kami. Tak ada bedanya.

Kalau ada yang kurang dari ini semua, mungkin hanya karena adik suamiku yang usianya hampir lewat dari kematangan dan belum juga mendapatkan pasangan. Itulah satu persoalan yang selalu ada dalam pikiranku. Mungkin semua itu salah kami juga, ia terlalu sibuk dengan pekerjaan yang kami berikan kepadanya. Ia adalah salah satu bagian penting dalam usaha kami, sebuah usaha kerajinan yang terus saja berkembang dan semakin besar, yang membuat kami semakin kewalahan. Adik kami itu menjadi pemegang catatan produksi usah kami. Dengan tekun ia mencatat keseluruhan transaksi, mencatat pesanan barang, jadwal produksi, kebutuhan barang yang harus kami pesan ke para pengrajin dan menghitung barang yang telah mereka setor, dan semacamnya. Kadang ia mengerjakannya sampai larut malam. Sambil menonton televisi yang khusus kami sediakan untuknya, ia akan menghitung jumlah pesanan yang datang dan jumlah barang yang telah masuk hari itu, untuk kemudian merencanakan pekerjaan di esok hari, entah untuk memastikan pesanan agar selesai tepat waktu atau memberikan order untuk barang-barang baru. Setiap hari begitu, tak ada yang lainnya. Dan tiba-tiba kami, tepatnya aku, menyadari betapa usianya telah hampir kepala tiga.

“Ayah, apakah kau pernah berpikir tentang adik kita?”

Untuk yang kesekian kalinya aku mengajak suamiku membicarakan persoalan ini.

“Apa, Ma?”

“Adikmu itu, sebentar lagi usianya tiga puluh tahun. Itu bulan depan, bukan?!”

“Hai, kau mengingatnya ya?”

“Ya. Lagi pula tadi pagi aku membuka-buka file data karyawan.”

“Heran, sempat-sempatnya membuka file paling tidak kita butuhkan itu. Memang ada apa?”

“Paling tidak kita butuhkan? Ayah ini tidak sopan sekali!”

“Maksudku, kita tidak pernah menempatkan mereka semua sekadar sebagai catatan nama dan angka di atas kertas toh? Semua juga bagian dari kita, sesama pemilik usaha ini. Dari dulu kita punya filosofi seperti itu, bukan?!”

“Ya, usaha ini maju untuk semua, bukan hanya kita.”

“Tak ada karyawan atau pimpinan, apalagi buruh dan pemilik. Seperti itu, bukan?!”

“Apalagi jika itu adalah adik kita, bukankah demikian, suamiku tercinta?”

Suamiku hanya tertawa. Ia tahu kalau aku sedang tidak ingin membahas urusan perusahaan. Suamiku itu memang seperti itu, menempatkan segala sesuatu dengan ringan tanpa beban. Mungkin itu yang membuatnya menjadi kreatif, selalu saja ada desain dan produk baru dari usaha kerajinan kami. Kata orang, usaha kami bisa maju karena kami bisa saling mengisi, aku di bagian manajemen dan marketing, suamiku sebagai desainer dan urusan kreatif lainnya. Menurutku sendiri, usaha ini bisa maju karena kami melakukannya dengan sungguh-sungguh, sepenuh hidup kami, yang kami lakukan dengan penuh cinta dan bahagia. Itu juga yang mungkin dirasakan oleh para karyawan dan pengrajin lepas kami, yang menciptakan satu lingkaran kekeluargaan yang senantiasa kami syukuri. Jadi, bagaimana mungkin kami tidak mencemaskan adik kami yang mulai menua dan sama sekali tidak ada tanda-tanda telah punya pasangan itu?

“Jangan lagi berpikir ia sudah setua itu. Tiga puluh bukanlah batas usia pernikahan. Jaman sekarang gitu lhoh….” Kata suamiku sambil tertawa.

“Jangan bergurau. Kau bilang jaman sekarang? Apa kau mau membandingkannya dengan orang-orang kota yang lebih suka hidup melajang agar bisa terus berfoya-foya itu?”

“Nah, aku lebih suka ia bisa lebih menikmati hidup. Tidak harus berfoya-foya, setidaknya tidak harus selalu tenggelam dalam pekerjaan seperti yang dilakukannya setiap hari.”

“Rasanya itu karena ia takut padamu. Ia ingin menunjukkan bahwa ia memang benar-benar bekerja, bisa berbakti kepadamu….”

“Salah. Ia bekerja bukan untuk berbakti kepadaku, ia bekerja agar hidupnya berarti. Sama seperti kita. Lagi pula, apa aku pernah memintanya untuk bekerja seserius itu? Apa ia tidak melihat kalau aku juga bekerja tapi masih bisa tertawa?”

“Itulah soalnya. Ia melihatmu sebagai parameter kesuksesan, dan itu berbahaya!”

“Berbahaya karena aku adalah orang yang gagal, iya toh?”

Ia tidak tertawa. Aku salah bicara. Pastilah suamiku itu kembali teringat dengan masa mudanya dulu, cita-citanya untuk menjadi pelukis, seniman hebat dengan karya-karya masterpiece. Dan ia kini tenggelam dalam kerja sebagai pengrajin, katanya. Ia adalah pengrajin, bukan seniman tetapi tukang, selalu begitu yang dikatakannya setiap ada orang yang memuji desain-desainnya. Aku tak pernah setuju dengan pembedaan itu, seniman dan tukang. Aku bahkan selalu menempatkan suami dan para pengrajin kami lebih berharga, dan lebih hebat, daripada para pelukis terkenal yang karya-karyanya menjadi koleksi kami. Tapi tak ada gunanya membahas soal ini, tidak juga soal usia adik kami itu. Kami tidak pernah bisa menemukan solusi terbaik untuknya, kami selalu kehilangan akal untuk soal yang satu ini.

“Apakah tidak lebih baik kau bicara kepadanya?” ujarku kemudian. Biarlah ia langsung membahasnya dengan adiknya itu. Aku tak bisa apa-apa.

“Percuma. Ia sudah besar, sudah dewasa, tahu yang terbaik untuk hidupnya. Ia akan tambah tertekan kalau aku bicara padanya.”

“Apa tidak lebih baik dicoba? Ayolah, siapa lagi yang bisa membuka pikirannya jika bukan dirimu?”

“Ia bahkan sudah tahu sebelum aku bicara kepadanya. Percayalah, bukan hanya engkau yang mengkhawatirkannya. Semua orang di sini melihatnya seperti itu. Apa itu kurang?”

“Justru aku tidak ingin ia jadi tertekan dengan keadaan ini.”

“Justru kalau kau terus memikirkan dan membicarakan soal ini, ia akan semakin tertekan.”

“Kita membicarakannya untuk menemukan solusi terbaik. Tak ada niat buruk dalam pikiranku.”

“Aku tahu, aku tahu. Tapi solusi terbaik adalah membiarkannya.”

“Tak ada solusi sama sekali?”

“Ada. Kita tidak mengkhawatirkannya. Terutama engkau. Kalau ada apa-apa, biar aku yang akan bicara padanya. Jadi, tersenyumlah, istriku yang manis….”

Ah, syukurlah. Aku sudah kuatir kalau-kalau kami harus bertengkar karena persoalan ini. Tentulah suamiku itu tahu betapa aku tulus memikirkan adik kami. Betapa aku mencintai adiknya itu sebagai bagian dari dirinya. Ah, apakah suamiku memang benar, bahwa aku terlalu serius? Jangan-jangan aku telah menjelma orang tua masa lalu, yang ribut dengan soal-soal tetek-bengek anak-anaknya seperti yang selalu aku bayangkan dulu. Mungkin aku harus menempatkannya sebagai seorang anak muda, yang memiliki dunianya sendiri. Ah, apakah aku sudah setua ini?

Tapi bisa jadi kami memang tidak benar-benar mengerti adik kami itu. Ia telah menjadi yatim piatu sejak usia sekolah menengah, yang membuat ia ikut kakak tertuanya di Jakarta. Ketika itu kami tidak bisa membantu apa-apa, kami yang menikah dalam usia muda masih terus pontang-panting mencari penghasilan untuk menutupi kebutuhan kami sendiri, terlebih ketika itu anak-anak kami sudah mulai memasuki usia sekolah. Aku bahkan tidak tahu kalau ternyata ia tidak melanjutkan kuliah selepas SLTA, mestinya kakak suamiku itu lebih dari mampu untuk membiayainya. Itulah kenapa kami mengajaknya, kami memaksakan diri untuk membiayainya mengikuti bimbingan belajar dan tahun berikutnya ia diterima di satu perguruan tinggi negeri di kota tetangga. Meski dengan kondisi yang pas-pasan, dan kami sendiri harus bekerja keras untuk itu, setidaknya ia bisa kuliah dengan lancar. Ketika ia lulus dan jadi sarjana, usaha kami sudah mulai berkembang pesat. Jadilah ia ikut bersama kami, ia tidak harus luntang-lantung mencari kerja dan kami sendiri mendapatkan orang yang bisa dipercaya.

Tak ada yang salah dengan itu semua, kecuali betapa ia sedemikian serius bekerja, bahkan jika kami menempatkan diri sebagai majikan pemeras hidup buruh-buruhnya. Berulang kali aku memintanya untuk lebih santai, sesekali mengambil cuti dan berlibur, atau semacam itu. Tapi ia hanya tersenyum mengiyakan, selanjutnya tenggelam dengan pekerjaannya. Ia bahkan tidak pernah sakit, ya, aku jadi ingat, betapa ia tidak pernah tidak masuk kerja karena sakit. Setahuku ia bahkan tidak pernah pergi untuk urusan di luar kerja. Tidak ada orang yang datang mencari dirinya dan memperkenalkan diri sebagai kawan atau kenalannya, semua adalah untuk urusan kerja dan kerja. Selepas jam kerja, di antara lembur dan ini-itu urusan kantor, dia paling-paling hanya di depan tipi atau baca koran-koran hiburan, tidak lebih dari itu. Semua itu berjalan bertahun-tahun, mestinya telah sewindu lebih, sejak ia lulus kuliah dan kini sebentar lagi ia akan sampai pada usia tiga puluh tahun.

Ada yang tak beres pagi ini. Suamiku mondar-mandir saja, seperti orang bingung. Ia masuk ke kamar, ke ruanganku, ke lantai atas, balik lagi menemui adiknya di ruang belakang. Aku tidak tahu harus bilang apa, sepertinya ini urusan pribadi mereka berdua, setidaknya sampai suamiku itu datang kepadaku dan memberi tahu aku apa masalahnya. Di ruang belakang, adik kami terlihat menundukkan kepalanya, menangis terisak-isak.

“Ada apa, Yah?”

“Susah aku. Itu, adikmu!”

“Kenapa? Ada apa?”

“Dia mau jadi pembantu!”

“Pembantu? Apa maksudnya? Ayah jangan bikin bingung dong….”

“Memang bingung. Aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Dia mau jadi pembantu!”

“Pembantu rumah tangga? Apa dia sudah bosan kerja di sini? Mungkin dia kelelahan. Biarkan dia istirahat, kalau perlu biar dia pesiar ke mana saja, ke Bali, misalnya….”

“Sudah aku bilang seperti itu. Tapi dia ngotot untuk ikut pendaftaran jadi pembantu.”

“Pendaftaran? Pendaftaran pembantu rumah tangga? Sarjana mau jadi pembantu rumah tangga? Mau jadi TKW? Tidak takut dengan kekerasan dan macam-macam yang mengerikan itu?”

“Bukan itu. Dia mau jadi pembantunya Ari, seperti yang di tipi.”

“Oh, yang acara ‘Jadi Pembantu Ari’ itu? Bukan sudah selesai? Apa mau ada lagi?”

“Iya, katanya. Hari ini mulai pembukaan pendaftarannya. Kau mau ikut juga?”

“Ayah, bercanda saja. Tapi yang bener dia mau ikut acara macam itu?”

“Iya. Bukan cuma ikut ‘Jadi Pembantu Ari’, jadi apa saja juga mau asal ikut Ari.”

“Maksudnya?”

“Mungkin kita memang salah. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan, jadi tidak punya teman, tidak pernah bergaul. Dia sudah direcoki televisi.”

“Apakah separah itu….”

“Itulah kenyataannya. Dia bahkan bilang kalau mulai bulan depan dia akan berangkat ke Jakarta.”

“Mau ikut kakak, maksudnya?”

“Ya. Tapi terutama biar bisa lebih dekat dengan Mas Ari, katanya.”

“Duh….”

“Dia sudah tergila-gila dengan Ari, artis itu. Apa tidak gila?”

“Apa tidak bisa dibicarakan lagi?”

“Aku tidak tahu, cobaan apa ini. Kita ini salah apa? Gila!”

“Coba nanti aku bicara padanya….”

“Kau lihatlah dulu kamarnya….”

Di kamarnya, aku temukan seluruh dinding dipenuhi dengan poster dan potongan-potongan berita tentang Ari. Majalah dan kliping Ari bertumpuk di sisi ranjang, semua barang-barangnya bertuliskan nama Ari dan kalimat-kalimat yang sama: “I LOVE YOU, ARI”, “MY SWEET ARI”, “ARI FOREVER”, “AKU KAN SETIA, ARI”, “ARI OR DIE”, duh….

Yogyakarta, Maret 2006


Responses

  1. Saya telah membaca Saya Tahu Saya Akan Mati di Laut dari Kang Cecep Syamsul Hari. Adakah puisi di blog ini? Mampir juga di blog saya http://jurnal-sastra.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: