Oleh: pinjambuku | 8 Juni 2007

Amnesia

Maka pada suatu hari emaknya mati begitu saja, kemudian bapaknya menyusul pergi ke alam baka, dan ia menjadi sebatang kara tiada sesiapa, tiada sanak tiada saudara, tiada seorang pun yang sungguh-sungguh dikenalnya dan mengenalnya. Karena tak ada alasan apapun, dan tak mungkin lagi, untuk hidup dalam damai, seperti hari-hari bersama emak dan bapaknya, di rumah kontrakannya, yang akan segera habis masa sewanya, ia berpikir sejumlah uang dari sumbangan orang-orang di hari penguburan emak dan bapaknya lebih baik dipakainya untuk meraih mimpi terakhir yang masih dimilikinya: ibukota. Ia ingin melihat segala yang indah dan mempesona seperti yang selalu dilihatnya di televisi—ia jadi ingat dengan emaknya yang setiap hari menemaninya di depan televisi empat belas inci murahan satu-satunya kekayaan mereka, ia jadi sedih. Dalam nelangsa yang tiba-tiba menyergapnya itu, tekadnya untuk melangkah menuju ibukota semakin menyala. Ia berharap di sana bisa dijumpainya artis-artis pujaan yang ia ingat betul setiap segi wajahnya, lekuk-liku tubuhnya, jadwal bangun dan tidurnya, seluruh pojokan rumahnya, warna baju kesukaannya, mobilnya, lenggak-lenggoknya, nada suaranya, segalanya yang begitu dekat, yang diakrabinya bahkan lebih dikenalinya dibanding ia mengenali dirinya sendiri.

Ia membayangkan betapa bahagia ada di ibukota, setiap hari bersama orang-orang terkenal itu, melihat senyum mereka, berjabat tangan, mungkin ia bahkan bisa berangkulan jika mendapatkan sedikit saja keberuntungan, meski kemujuran jarang singgah dalam hidupnya. Dibayangkannya dirinya tiba di sana dan bertemu dengan orang-orang yang dengan mudah memberi uang itu, meski kadang harus dengan melakukan sesuatu yang memalukan, lebih-lebih untuk orang seperti dirinya yang sangat pemalu, atau menggelikan, atau apapun yang berakhir pada tangis haru bahagia atau tepuk tangan gembira. Alangkah bahagianya ia di sana, ia akan segera berteman dengan mereka semua, tak ada yang tak dikenalnya dan tak mengenalnya. Ia bahkan belum lagi mulai berkemas, tapi dadanya berdebar-debar dengan harapan indah itu. Betapa ia akan segera pergi dari bilik tiga kamar—dapur, kamar, teras setengah terbuka—yang jadi batas hari-harinya. Ia akan meninggalkan tetangga-tetangga cerewet dan pencemooh, yang selalu mau tahu dan sok tahu dengan kehidupannya, yang selalu nyinyir dengan ejekan dan hinaan kepada dirinya dan kedua orang tuanya. Ia akan pergi sejauh-jauhnya dari kampungnya yang berbatas kali di kiri, jembatan di ujung selatan, laut di batas utara, dan tembok dan tebing di sepanjang barat kampung. Ia bahkan tidak merasakan kesedihan meski harus meninggalkan kerlap-kerlip lampu dari rumah-rumah di sepanjang seberang kali yang selalu dilihatnya sebelum tidurnya, juga warna-warni cahaya dari toko-toko dan gedung-gedung dan seluruh penjuru kota yang kadang-kadang dilihatnya dari atas jembatan sana. Ia tidak peduli dengan itu semua, ia sudah tutup buku dengan masa lalu hidupnya.

Dan ia pun mengemasi beberapa baju terbaik yang dimilikinya, ditinggalkannya yang lainnya yang menurutnya tidak akan layak dipakainya di ibukota sana—ia hampir menangis ketika mencoba baju paling bagus dan paling indah yang dimilikinya, yang jarang sekali ia pakai, betapa usangnya, alangkah jauh dibandingkan dengan orang-orang yang akan ditemuinya di ibukota sana. Tapi ia tidak peduli, ia sudah bertekad untuk melupakan segala tetek-bengek rasa malu dan segan dan minder dan apapun yang bisa menghalanginya pergi. Lagi pula, pikirnya, kalau nanti ia di ibukota, ia akan segera bertemu dengan orang-orang yang akan menyalaminya, bertanya kabar, menerka dengan tepat riwayat dan persoalan hidupnya, termasuk tentang baju usangnya, dan kemudian ia akan diberi uang, lalu ia akan membeli baju terbaik di toko terbaik, yang jauh lebih baik dari baju-baju yang berderet di seluruh toko di kotanya ini. Agak sedih juga hatinya mengenangkan semua yang ada, dan tak ada, dalam sepanjang hidupnya di kota yang akan segera ditinggalkannya itu. Ia ingat teman-teman di masa kecilnya, ketika ia dan kedua orang tuanya masih tinggal di satu kampung dan ia bersekolah di satu taman kanak-kanak, masa sekolah terindah yang selalu diingatnya sampai sekarang. Ia juga ingat saat dirinya di usia sekolah dasar, ketika ia memiliki banyak teman, yang baik dan yang jahat, yang mengajaknya bermain lompat tali dan yang mengusirnya pergi, yang terasa lebih nyaman dikenangnya dibanding ketika ia harus mengusir kepedihan dari ingatan saat-saat usia sekolah menengah pertama, keluarganya mulai hidup berpindah dari satu petak ke petak lain, dari satu bilik ke bilik lain, bahkan juga di bedeng-bedeng di pinggir kuburan. Buruk, buruk sekali, ketika itu. Ia tidak mau mengingatnya, ia tidak akan mengenangnya, ia ingin membawa catatan baik dari hidupnya di kota ini, kota pusat wilayah yang hanya sekadar kota kecil atau kampung jika dibandingkan dengan ibukota negeri yang akan didatanginya, yang jadi sebenar-benarnya pusat segala pusat.

Ia pun bergegas, dibuangnya bimbang dan ragu, tak ada lagi sedih dan cemas, tak ada apapun yang bisa menghalanginya kini. Saatnya telah tiba, ia akan segera sampai di stasiun, membeli tiket, masuk gerbong, dan kereta akan berangkat ke ibukota, tak ada lagi yang menghambatnya, menghalangi perjalanannya. Ia menikmati setiap langkah kakinya, wajahnya menatap ke depan, tersenyum untuk segala yang ada di hadapannya. Ia akan menikmati pemandangan di sepanjang jalan, mungkin lampu-lampu dari rumah-rumah di sepanjang pinggiran rel kereta, mungkin ia akan menemukan kampungnya dulu, yang berada persis sebelum batas kota, yang kini telah berubah menjadi satu pusat kota tersendiri dan bersambung dengan perumahan-perumahan, di tempat yang dulu diingatnya sebagai sawah dan perbukitan. Sesudah itu, ia akan melihat kota-kota yang lain, akan melihat laut dan pelabuhan, melihat hutan dan sawah, melihat pepohonan yang hitam di kegelapan malam, dan di atas sana bintang-bintang seperti ikut berlari bersama kereta yang ditumpanginya. Bintang-bintang yang akan menjadi temannya di mana pun dirinya berada. Ia akan dapat melihatnya, setiap malam, selama-lamanya, sebelum ia mati dan dikuburkan di kegelapan timbunan tanah, seperti emak dan bapaknya. Tapi sebelum itu, ia akan melihat bintang-bintang itu dari ibukota, dan ia akan melihat bintang-bintang yang lain, seperti yang selama ini dilihatnya di televisi.

“Ke mana kereta itu pergi, Mak?”

“Ke ibukota, anakku.”

“Di sana ada apa saja, Mak?”

“Apa saja yang membuatmu gembira setiap hari.”

“Ada permen warna-warni?”

“Ada. Permen pelangi namanya.”

“Makanan yang enak-enak?”

“Berlimpah.”

“Baju-baju baru?”

“Baju yang wangi, sepatu berpita, tas dengan renda-renda….”

“Apalagi, Mak?”

“Semua yang kamu mau, anakku.”

“Semua?”

“Semuanya.”

“Jauhkah ibukota itu, Mak?”

“Jauh. Jauh sekali. Nanti kalau kau sudah besar, Mak akan mengajakmu ke sana.”

“Benar, Mak?! Sungguh?! Janji?!”

“Iya, anakku. Sekarang tidurlah….”

“Jauh ya, Mak?”

“Iya, melewati banyak kota….”

“Di jalan ada apa saja?”

“Melewati kota demi kota, kampung dan desa, gunung, danau, padang rumput, sungai, hutan, sawah, perbukitan….”

“Apalagi, Mak?”

“Lampu yang berkelip-kelip di malam hari, bintang-bintang di langit, bulan dan mega-mega….”

“Apalagi?”

“Tirai hujan, gerimis, embun, pelangi….”

“Lalu….”

“Kambing dan domba, sapi dan kerbau….”

Ia tergeragap bangun. Setengah sadar dilihatnya seseorang yang melangkah menjauh setelah menginjak ujung kakinya. Cepat-cepat ia duduk, dikuceknya wajahnya, dan ia tersadar kalau ia telah benar-benar tertidur di lorong kereta seperti yang lainnya, tidur di atas alas koran yang kini cerai-berai tak karuan. Bau kamar mandi yang kotor bercampur karat besi dan keringat orang-orang menerpa hidung, ia tempelkan hidungnya ke atas lengan, hanya untuk menghirup bau pekat yang sama. Beberapa orang berseliweran, sebagian yang lain tengah sibuk mengemasi barang-barangnya, beberapa pedagang masih terus saja lalu-lalang sambil berteriak menawarkan dagangan, dan mereka berseru membangunkan orang-orang, menyebutkan perhentian berikutnya, nama satu kota yang tak dikenalnya. Ia belum lagi sampai di ibukota. Orang-orang yang terkapar dalam tidur seperti tak peduli dengan semua itu, menggelesor di lantai kereta dengan nyaman, seperti tak ada gangguan. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba melawan kantuk dan letihnya. Ia tak tahu masih berapa lama lagi kereta akan berjalan membawanya ke ibukota, tak ada yang bisa ditanya, dan ia tak berani bertanya. Tapi ia tidak peduli, ia tidak bersedih meski tak ada tempat duduk kosong di kereta, meski ia tidak bisa melihat jendela, meski ia tidak tahu apakah di luar ada lampu-lampu dan bintang atau tidak, ia hanya merasa bahwa semua ini akan segera selesai, dan ia pasti sampai di ibukota. Akhirnya ia tak bisa menahankan kantuknya, tapi kini tak ada tempat baginya untuk menggeletakkan tubuh, seluruh lantai telah penuh, dan ia hanya bisa tidur sambil meringkuk jongkok merangkul lututnya sendiri. Kereta yang menderu dengan suara kelontang yang berirama seperti meninabobokkannya, dan gerbong yang bergoyang membuatnya tidur bagai dalam buaian. Kedua sudut bibirnya seperti tertarik ke atas, ia tersenyum dalam tidur, alangkah indah impian tentang ibukota.

Pagi menjelang siang, sampai juga ia di ibukota. Ia tidak peduli meski kereta itu sampai teramat terlambat, seperti biasa kereta ekonomi paling murah selalu telat karena harus mengalah dan memberi jalan untuk kereta cepat, yang lebih mahal, yang tak ada lalu lalang pedagang, yang semua penumpangnya bisa pulas di kursi berbantal dan berselimut nyaman dan sampai sesuai jadwal, mestinya. Ia bahagia, ia telah sampai di ibukota. Ia tidak peduli dengan apapun yang lainnya, kereta itu bahkan belum benar-benar berhenti ketika ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melompat dan menginjakkan kakinya di tanah ibukota. Ia teramat sangat bahagia. Ia telah sampai pada mimpinya, sebentar lagi ia akan bertemu dengan semua bintang yang selama ini hanya ada dalam angan-angan, yang selama ini hanya ada dalam bayangannya.

Dan siang itu juga ia masuk televisi, terselip di antara sekian berita yang berseliweran tanpa alasan. Syukurlah, ia menjadi salah satu berita yang dianggap perlu untuk diberi durasi lebih, mungkin karena darah yang dikeluarkanya cukup banyak sehingga kelihatan dramatis, mungkin juga karena ada cukup banyak orang yang berkerumun sehingga ketika masuk ke televisi menjadi seperti peristiwa genting dan penting. Tapi sungguh, apa yang dialaminya di hari pertama di kali pertama di langkah pertama diinjakkannya kakinya di ibukota memang lebih dari sekadar genting, tak peduli penting atau tidak penting tapi jelas tak seorang pun yang akan melewatkannya, entah untuk apa, tapi pasti tidak untuk mengalaminya sendiri, bahkan dalam mimpi. Alangkah malangnya ia, belum lagi ia sungguh menapakkan kakinya di tanah ibukota, itu juga kali terakhir kakinya berjejak di bumi fana ini.

“Sebuah kecelakaan tragis terjadi pagi ini di Stasiun Kota. Seorang perempuan yang tengah menyeberang rel tertabrak kereta api yang sedang melintas. Belum diketahui identitas perempuan itu.” Seorang perempuan pembawa berita membacakan kisah itu, tidak lupa memasang wajah serius, dan kemudian tersenyum di akhir kalimat.

“Pagi tadi di Stasiun Kota seorang perempuan muda yang baru saja turun dari kereta tertabrak kereta yang sedang melintas. Korban yang identitasnya belum diketahui tersebut mengalami luka yang sangat parah. Kepala Stasiun menyatakan bahwa korban telah dibawa ke rumah sakit pusat, keluarga atau siapa saja yang mengenali korban dapat menghubungi rumah sakit bersangkutan,” seorang penyiar dari stasiun televisi lain membaca berita yang sama.

“Seorang gadis tanpa identitas terserempet kereta api di Stasiun Kota. Seorang saksi mata berhasil merekam kejadian itu dengan mempergunakan handphone-nya. Berikut ini kami tayangkan selengkapnya peristiwa mengenaskan itu.”

Ia ada di sana, dengan darah yang berceceran dan jeritan-jeritan. Ia tergeletak, terkapar tak berdaya, diam, bisu, beku, sesudah itu kabur, seperti ada kabut yang membawanya pergi entah ke mana. Mungkin ada yang sekilas mengingatnya, mempercakapkan kejadian itu sambil menikmati makan siang, sebagian yang lain segera melupakannya untuk menemukan kejadian-kejadian yang lain, peristiwa-peristiwa berikutnya.

Tak ada yang mengingatnya, mestinya, jika esok berikutnya tidak ada koran yang menuliskannya, sebagian dalam kolom kecil di sudut halaman, sebagian yang lain menempatkannya di halaman pertama, dengan judul panjang berhuruf kapital. Sebagian orang merangkainya bersama ingatan pada gambar-gambar mengenaskan yang tertayang di layar kaca di hari sebelumnya, untuk kemudian segera melupakannya. Begitulah hidup, terlebih di sebuah kota metropolitan, megapolitan, ibukota negeri dengan berjuta penghuni dan peristiwa yang datang silih berganti.

Seharusnya semuanya selesai, seandainya ia mati. Jika ia mati, tak ada yang kehilangan. Tapi ia tak mati, meski tetap saja tak ada yang kehilangan. Ia tak mati, seakan tahu bahwa dirinya belum lagi sungguh-sungguh menginjak tanah ibukota. Tapi ia bahkan tak akan pernah lagi bisa melakukannya, kedua kakinya diamputasi. Tapi bukan itu masalahnya, sebulan sudah berlalu dan rumah sakit itu tak tahu harus menagih pembayaran ke mana, bahkan mereka tidak memperoleh satu jawaban apapun untuk setiap pertanyaan yang mereka ajukan kepadanya, siapa namanya, di mana alamat rumahnya, asli ibukota atau dari daerah mana, siapa keluarganya yang bisa dihubungi, apakah engkau tahu siapakah dirimu dan apa yang terjadi padamu? Ia tersenyum, dan menangis, dan terdiam, dan termangu, dan matanya berkaca-kaca, entah sedih atau bahagia—sedih untuk semua yang telah terjadi pada dirinya, bahagia untuk nyawa yang masih dimilikinya, mungkin. Tak seorang pun tahu apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Ia amnesia, itulah kesimpulan yang diambil oleh para dokter. Adakah yang lebih tragis dari itu semua, kehilangan kedua kaki dan memori di hari pertama sampai di ibukota. Tapi ia memiliki dunianya sendiri, terbaring di ranjang putih, matanya lekat menatap televisi, tersenyum dan tertawa, menangis dan berurai air mata.

Tak ada yang tak mungkin di ibukota, juga apa yang kemudian terjadi padanya. Tidak, ia tidak menjadi pengemis buntung kaki yang berkerumun di berbagai perempatan jalan, ia tidak menjadi si sakit yang menangisi kemalangan nasib kedua kakinya. Ia masih di rumah sakit itu, belum lagi diserahkan ke Dinas Sosial, seperti yang direncanakan oleh rumah sakit itu dalam warta yang dikirimkannya ke media. Sebaliknya, koran dan televisi menyambutnya dengan kilatan blitz dan sorot lampu kamera, entah siapa yang memulai, mereka berlomba-lomba mewartakannya dalam bentuk kepedihan dan tragedi yang harus diberi iba dan air mata oleh para penonton dan pembaca mereka. Ya, itulah yang terjadi, orang-orang kembali mengingat dan diingatkan dengan kilasan peristiwa kecelakaan yang menimpa dirinya, dan kemudian, terutama, pada kedua kakinya yang buntung dan wajahnya yang diandaikan sebagai ekspresi seorang yang mengalami amnesia, dan kemudian kesebatangkaraan dan tiada sesiapa dari dirinya yang membuat nasibnya akan berhenti di sebuah panti sosial. Orang-orang tergeragap, bergegas mengunjukkan rasa iba yang masih ada dalam diri mereka, mungkin iba yang sesungguhnya, bisa jadi iba yang pura-pura dan sekadar agar disebut sebagai manusia yang manusiawi, ada juga iba sebagai rasa syukur karena bukan dirinya sendiri yang mengalami. Orang-orang mengelus dada mereka sendiri, di depan televisi mereka atau di balik lembaran koran, ada juga yang kemudian mengangkat gagang telepon, berbagi dengan entah siapa. Dan kemudian, ada sebagian dari mereka yang menghubungi kantor-kantor media itu, dan rumah sakit itu, bertanya ini dan itu, dan ketika seorang artis sambil lalu menanyakan kepada seorang wartawan yang sedang mewawancarainya, jadilah berita itu tidak berhenti sebagai berita orang hilang—dalam hal ini orang hilang yang tak bisa pulang. Untuk pertama kali dalam sepanjang hidupnya ia ada, ia sebagai sosok, bahkan sebagai pokok dari berita itu sendiri, meski dalam label “Gadis X”, “Perempuan Anu”, “Pasien Amnesia”, “Korban Kereta”, dan semacamnya, yang tak satu pun mengunjukkan nama sebagaimana orang-orang yang menyebutnya demikian memiliki nama mereka sendiri.

Adakah ia bahagia? Apakah yang dirasakannya, dipikirkannya, seandainya bisa, seandainya orang-orang tahu isi hatinya? Mungkin ia menikmati itu semua, ataukah ia menderita karenanya, ia yang amnesia dan yang membuat orang-orang merasa harus mensyukuri hidupnya sendiri dan wajib mengunjukkan empati, lebih-lebih dan mungkin terutama karena bahkan seorang artis, yang nun tinggi di sana, yang menjadi panutan, telah memberi tanda bagi para penggemarnya untuk menjadi bagian dari dirinya yang memiliki kasih dan perhatian kepadanya. Orang-orang berbondong-bondong datang, artis2 yang lain tidak mau ketinggalan untuk ikut ambil bagian, dan kemudian para politisi, yang selalu tahu kapan untuk mengunjukkan diri, lalu para petinggi itu pun tidak ingin kehilangan muka, segera dikeluarkannya perintah ini dan itu, dan terutama komentar-komentar dalam bahasa terbaik yang mereka miliki agar media memberitakannya, siapa tahu kedudukan mereka akan dapat meningkat dengan lebih pesat, setidaknya ada kemungkinan tambahan program dan proyek dan dana yang lebih besar.

Tapi ia hanya tersenyum dan menangis, mungkin senyum dan tangis bahagia, atau senyum gembira dan tangis duka, bisa jadi senyum dan tangis untuk derita yang tak bisa ditanggungkannya. Tak ada yang tahu, tak ada yang bisa menerkanya dengan pasti, dan sebab itu semua orang menyatakan tafsir mereka masing-masing, sesuai dengan misi dan kepentingan pribadi mereka sendiri. Tak ada yang peduli pada gadis itu, sesungguhnya, sebenarnya, barangkali. Adakah ia tenggelam dalam impian lamanya, yang bertabur bintang, ataukah ia telah tenggelam dalam kenyataan itu, ia dan bintang seperti yang diimpikannya tentang ibukota, mungkin ia larut dalam kepedihan paling tragis dari hidupnya, atau entah yang lain yang memiliki seribu kemungkinan. Tak ada yang tahu, ia tak tahu, tak seorang pun tahu. Semua mengalir begitu saja, dengan kelak-kelok di sana dan di sini, riak dan pusaran di beberapa bagian, dan waktu meninggalkannya di sana. Koran-koran tak menuliskannya lagi, televisi telah lama menghapusnya dari data rekaman, dan orang-orang pun melupakannya, mungkin sebagian dari mereka masih memiliki rangkaian kisah dan kata dan gambarnya, tapi untuk kemudian mereka pun akan segera melupakannya. Begitulah hidup, terlebih di sebuah kota metropolitan, megapolitan, ibukota negeri dengan berjuta penghuni dan peristiwa yang datang silih berganti, yang berdetak dari satu amnesia ke amnesia berikutnya. *****


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: