Oleh: pinjambuku | 8 Juni 2007

Malam Buta

Orang tua itu menatap barisan yang memanjang berujung di kegelapan malam. Ia tak tahu, apakah mata tuanya yang tak lagi awas, atau malam yang gelap membatasi pandangnya, atau mungkin barisan itu memang sedemikian panjang tak berujung. Orang-orang itu berdiri dalam diam. Mereka mematung dan tunduk. Menggigil. Sesekali bentakan di sana-sini, selebihnya adalah sunyi yang mencekam. Lebih mencekam, jauh lebih menakutkan, daripada malam-malam pada tahun-tahun terakhir yang begitu berat. Tapi ini bukanlah akhir, mereka semua tahu ada sesuatu yang lebih mengerikan yang akan mengikuti malam gelap ini. Terutama bagi mereka yang ada dalam barisan itu. Mereka tahu tidak ada harapan, tidak ada doa, tidak ada apa pun yang bisa menghentikannya. Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan mundur, tak ada jalan keluar. Di kanan kiri jalan obor-obor menyala, tangan-tangan memegang senjata: parang, arit, linggis, bambu runcing, celurit, pisau, senapan….

Seseorang menghampiri orang tua itu. Tubuh tegapnya menyimpan ketegasan. Ia memang tidak memegang senapan seperti yang lainnya, tapi pistol yang tersandang di pinggangnya seakan menjadi tanda bagi kekuasaannya, seperti sumbu kecil bagi rangkaian dinamit semua senjata yang ada di sana. Orang tua itu tahu bahwa di tangan lelaki itulah arah barisan ditentukan. Kapan barisan itu akan diberangkatkan, menuju ke mana, dan bagaimana nasib mereka, semua ada dalam genggamannya. Ia adalah pemegang komando, dan yang lainnya mau tidak mau adalah prajurit-prajuritnya, berseragam atau pun tidak.

“Bapak kenal orang-orang itu?”

Lelaki itu bertanya kepadanya. Nada suara itu tak ingin diterjemahkannya kini, di malam yang gelap buta ini.

“Ya,” jawabnya lemah, “yang dari kampung ini….”

Suaranya seperti mencelos di retakan-retakan tanah kering di kakinya. Seperti tak berjejak. Tak menemukan titik akhir. Seperti barisan orang yang digiring bagai kerbau itu, dari kampung-kampung di sekitar kawasan hutan jati yang merangas bagai mewartakan kematian itu.

“Bapak tahu siapa saja mereka?”

“Ya….”

“Semua mereka orang-orang merah….”

Kenapa ia merasa suara lelaki itu seperti suaranya sendiri, yang mengambang, ragu-ragu, goyah yang tak bisa dipastikan di kegelapan yang terasa semakin pekat.

“Mereka semua orang-orang merah!”

Lelaki itu mengulangi ucapannya, kini dengan ketegasan yang menolak penafsiran lain, kemungkinan lain. Seperti hendak memberi kepastian untuknya, mungkin juga untuk dirinya sendiri. Orang tua itu tidak menjawab. Memang tidak perlu.

Kelompok-kelompok orang masih terus berdatangan, mengantarkan mereka yang dimasukkan ke dalam barisan yang semakin memanjang. Para pengantar itu, sebagian langsung bersiaga di luar barisan, sebagian yang lain kembali pergi, entah ke mana. Tak ada suara, tak juga bisikan. Hanya suara letusan senapan yang sesekali terdengar di jauhan, entah untuk mengantarkan peluru ke tubuh mereka yang melawan, atau tak melawan, entah hanya untuk menegaskan bahwa semua ini adalah nyata. Bukan mimpi.

“Tugas saya adalah membersihkan daerah ini. Saya pastikan tidak akan ada yang terlewat seorang pun!”

“Terima kasih, Pak….”

Orang tua itu tidak tahu, terima kasih untuk apa. Begitu ganjil ucapan terima kasih dalam suasana seperti ini, bahkan jika itu berarti untuk keselamatannya sendiri. Terlalu kelam kemungkinan yang ada di depan, setelah semua yang terjadi belakangan ini.

Beberapa hari sebelumnya, lelaki itu datang kepadanya. Ia datang seperti yang lainnya, orang-orang asing yang datang jauh sebelum ia datang, yang mulai berdatangan dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan terakhir. Ada terlalu banyak orang asing yang datang dan pergi, mungkin hanya lewat, dan tak ada yang tahu, apakah yang telah terjadi di negeri ini. Ada terlalu banyak berita dan simpang-siur, kisah-kisah kesedihan berbaur dengan slogan dan pekik pertempuran, berebut kebenaran masing-masing. Lelaki itu menyelesaikannya, dengan berita yang jelas dan tegas, bahwa negeri ini sedang dilanda revolusi, pertempuran melawan pemberontakan. Lelaki itu menyatakan bahwa di pusat kekuasaan telah terjadi usaha kudeta. Beberapa jenderal telah dibunuh dengan keji oleh para pemberontak. Tetapi usaha kup tersebut dapat digagalkan. Sebagian besar dedengkot telah tertangkap, sebagian yang lain melarikan diri ke daerah-daerah, mungkin untuk menyusun kekuatan, seperti yang sudah terjadi dalam sejarah sebelumnya. Sekali ini kemungkinan semacam itu tidak boleh terulang. Untuk itu, harus dipastikan bahwa pemberontakan tersebut dihancurkan hingga ke akar-akarnya, sekecil apapun mereka, juga di daerah terpencil seperti kampung ini. Ia menegaskan, bahkan di kampung seperti ini, yang terpencil, di pinggiran hutan, terisolir, jauh dari pemerintahan, dan sebab-sebab lain, penumpasan itu harus dilakukan dengan keras. Agar tidak ada bibit yang tersisa, sekecil apapun, yang akan sulit dikontrol oleh pusat. Orang tua itu percaya kepadanya. Ia punya pistol, ia punya orang-orang bersenapan, dan terutama karena lelaki itu datang untuk mengamankan daerah itu, menciptakan ketertiban, seperti yang sudah dikatakannya kepadanya.

Orang tua itu tidak pernah membayangkan bahwa semua gegap-gempita yang terjadi pada tahun-tahun terakhir itu harus berujung pada tragedi seperti ini. Tentu saja dirinya, dan semua yang memiliki akal sehat, atau hati nurani, berharap akan ada peleraian untuk permusuhan-permusuhan yang tidak perlu, yang telah terjadi di antara mereka, para penduduk kampung ini. Tak apa kalau itu soal partai, atau bendera, tapi jika kemudian orang-orang membawa-bawa agama dan Tuhan dalam pertikaian, siapa yang bisa mengetahui akhir dari itu semua.

Tak seorang pun dari orang-orang kampung ini yang cukup layak untuk dianggap mengerti politik. Tidak juga dirinya sendiri, tidak juga mereka yang ada di barisan itu. Ya, tentu saja, hampir seluruh penduduk pernah datang ke tanah lapang, saat keramaian dan pawai dan pidato mengundang siapa pun untuk datang. Tapi keramaian besar semacam itu tidak terjadi setiap hari. Ia pastikan itu terjadi tak lebih dari hitungan sebelah jari, bahkan dalam sepanjang hidupnya. Apakah harus dihitung juga keramaian yang dilakukan oleh orang-orang kampung itu sendiri, dan sedikit orang dari kampung-kampung tetangga, rapat barisan yang dilaksanakan menurut kelompok-kelompok yang berbeda. Itu pertemuan organisasi dan partai, yang tidak jauh berbeda dengan berkumpulnya orang-orang dalam keramaian untuk merayakan kelahiran bayi, atau sunatan, atau pernikahan, juga kematian. Tak ada yang salah dengan itu semua, berkumpul menurut jenis pekerjaan atau mengikuti tokoh-tokoh panutan mereka, untuk memperjuangkan kepentingan mereka masing-masing. Semua orang melakukannya, dan tak ada larangan untuk itu, kalau tidak bisa dibilang malah dianjurkan. Ya, satu-dua orang, beberapa orang, di kampung ini memang cukup bersedia bekerja keras untuk soal-soal semacam itu, sebagian karena cukup berpendidikan dan luasnya pergaulan, sehingga mereka merasa punya kewajiban untuk memimpin yang lain. Tetapi sebagian besar yang lain karena terlalu bodoh dan takut untuk menolaknya, untuk tidak ikut ini dan itu, entah itu rapat, atau pawai, atau entah apa lagi. Ia tak tahu banyak, ia memang tidak merasa perlu untuk ikut terlibat. Terlibat berarti berada pada salah satu pihak dan menjadi musuh bagi pihak lain. Ia jelas tidak ingin melakukannya. Tapi itulah yang terjadi kini. Ia berada di depan lelaki itu karena ia harus memilih. Tidak, ia tidak memilih. Ia telah dipilih oleh lelaki itu. Itulah soalnya.

“Bapak, periksalah mereka. Kami tidak ingin salah orang. Perhatikan baik-baik, jangan sampai ada orang-orang Bapak yang terbawa.”

‘Orang-orang Bapak’, alangkah ganjilnya. Apakah yang dimaksud adalah tetangga-tetangganya, saudara-saudaranya, kerabat-kerabat jauhnya? Bukankah semua yang ada di kampung ini adalah juga tetangga, adalah saudara, adalah kerabatnya, tanpa terkecuali? Lalu kenapa kini ia harus membedakannya? Bagaimana mungkin ia harus memilih jika pilihan itu akan membawa akibat yang teramat sangat pahit bagi mereka yang tak terpilih?

“Bapak adalah pemimpin di sini. Bapak harus tegas. Jangan ada yang luput dan belum kami amankan.”

“Saya?”

“Ya. Jangan takut, setelah malam ini, orang-orang merah itu tak akan ada lagi di kampung ini.”

Orang tua itu tercekat. Suara lelaki itu berat dan tegas, seperti mengancamnya.

Apakah yang harus dilakukannya kini. Mengapa harus dirinya, dan bukan yang lain yang melakukannya. Mengapa bukan Pak Lurah, atau Pak Dukuh? Ah, ya, bisa jadi mereka sudah ada di barisan itu. Tapi siapakah dirinya? Ia tak lebih dari seorang tua yag tak tahu apa-apa. Tak lebih sebagai petani ladang penggarap tanah tadah hujan. Ia hanya seorang pemilik surau kecil yang telah ada di halaman rumahnya jauh sejak sebelum ia lahir, yang membuatnya harus menjadi imam bagi orang-orang sekampung dan sekaligus mengajar bocah-bocah mengaji di malam hari. Ya, memang surau itu kadang jadi tempat bertemunya orang-orang kampung, untuk membahas ini dan itu persoalan, untuk makan bersama untuk rasa syukur atas kebahagiaan tertentu atau ketika bulan puasa, juga untuk beramah tamah seusai hari kerja yang meletihkan. Dulu semua itu disyukurinya, tapi kini ia merasa bahwa semua itulah yang telah membawanya pada situasi seperti malam ini.

“Pak tua….”

Lelaki itu menyadarkannya kembali. Suaranya lirih, lebih pelan. Mengambang.

“Tidak ada pilihan lain, Pak.” Lelaki itu meneruskan bicaranya. “Seluruh negeri sudah seperti ini. Semua harus cepat, sudah hampir terlambat. Jika tidak, akan terjadi perlawanan, pertempuran, dan akan ada lebih banyak lagi korban.”

“Apa lagi yang harus saya lakukan?” tanpa sadar suaranya meninggi. Lelaki itu berpaling, menyalangkan matanya.

Malam menjadi semakin menyesakkan. Begitu gerah dan sunyi. Kesunyian yang menegangkan. Malam yang tak ada lagi malam yang lebih genting.

“Mereka akan dibawa ke mana? Apakah mereka akan pulang kembali?” Terlanjur, pikir orang tua itu, lebih baik sekalian menanyakan yang tak layak ditanyakan. Ia tak peduli lagi dengan kemungkinan buruk yang bisa terjadi dengan dirinya, dimasukkan dalam barisan orang-orang itu. Lebih baik bersama mereka semua daripada menanggungkan sendiri beban yang kini ada di dadanya.

“Semua orang akan dikumpulkan di satu tempat yang aman. Di sana akan diputuskan apa yang akan dilaksanakan berikutnya.” Lelaki itu menjawab pertanyaannya, ternyata. Jawaban yang tidak jelas, segelap malam. Terlebih ketika lelaki itu melanjutkan bicaranya. “Kita semua berharap bahwa mereka semua tidak melakukan hal-hal yang akan merusak rencana. Itu akan sangat berbahaya bagi kita semua, terutama bagi mereka sendiri!”

Apakah yang akan terjadi. Apakah itu berarti pembantaian seperti yang banyak diberitakan orang, yang terjadi di berbagai tempat lain. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi di kampung ini. Itulah yang sudah diputuskannya, yang sudah diputuskan oleh semua orang di kampung ini. Meski semua mereka yang di luar barisan membawa senjata, itu tidak lebih pembawaan bawah sadar untuk peristiwa semacam ini. Ia bahkan berharap bahwa senjata-senjata itu akan mempergunakannya untuk membela mereka yang ada di barisan itu. Tapi ia tidak tahu, apakah yang akan terjadi setelah ini, ketika barisan ini mulai diberangkatkan, melewati hutan dan sungai, menuju ke suatu tempat yang ia sendiri tidak tahu pasti. Ada begitu banyak orang, entah dari mana semua mereka, dengan beraneka senjata, dan kemungkinan yang tidak bisa dipastikan arahnya.

“Yang penting sekarang, harus dipastikan bahwa semua orang merah itu tidak menyusun kekuatan.”

“Kekuatan untuk apa?”

“Tentu saja untuk memberontak, Pak Tua. Ah, Bapak tidak tahu apa yang terjadi di luar sana… Seluruh negeri sudah bergerak menumpas mereka. Itulah yang harus dilakukan. Atau, mereka yang akan melakukannya terhadap kita, lebih-lebih terhadap orang seperti Bapak.”

“Seperti saya?

“Ya. Orang-orang seperti Bapak adalah musuh mereka!”

“Kenapa?”

“Sudah jelas, Pak. Mereka orang-orang merah. Sudah bisa dipastikan!”

Orang tua itu mencoba mencerna ucapan lelaki itu. Ia mencoba mengingat semua mereka, tetangga-tetangganya sekampung, orang-orang dari kampung tetangga, yang dikenalnya sebagai orang-orang merah, begitu cap yang kini dilekatkan kepada keseluruhan mereka. Tidak. Tak ada permusuhan antara dirinya dan mereka. Ada penghormatan, setidaknya sopan-santun, yang diberikan orang-orang itu kepada seorang tua seperti dirinya. Kalau ada perbedaan dan ketidakcocokan di antara mereka, terlebih dengan anak-anak muda itu, itu adalah soal biasa. Perbedaan pikiran dan pengalaman, begitu menurutnya. Tapi kini semua itu dianggap sebagai jurang pemisah, benteng pembeda, batas yang jelas dan tegas antara dirinya dan mereka yang dibariskan itu.

“Tidak….” Ia tidak segera melanjutkan ucapannya, lelaki itu memotong kalimatnya.

“Tidak atau belum, Pak? Bapak tidak tahu apa yang terjadi di tempat lain. Dan itu bisa merembet ke sini. Bisa saja mereka bahkan sudah melakukannya, tidak di sini, tapi di tempat lain.”

Ia sudah mendengarnya. Di tempat lain. Malam-malam seperti malam ini. Barisan ini. Arak-arakan ini. Ia tidak ingin membayangkan kengerian yang terjadi di tempat lain. Pembakaran. Penyembelihan. Pembantaian.

“Pak Tua, saya memang pemegang komando di sini. Tapi kita semua hanya menjalankan perintah. Ini untuk keselamatan kita semua. Untuk kelangsungan negeri ini. Harus ada tindakan. Harus ada yang ditangkap. Semakin banyak semakin baik, lebih menjamin daerah ini aman….”

Ia tidak ingin lagi mendengarnya. Semua itu sudah didengarnya berulangkali. Tetapi kenapa harus ia yang mendengarnya? Kenapa ia mendengar itu semua hanya untuk menerima hal mustahil yang harus dilakukannya. Dan kini semua itu sudah terjadi. Ia sudah melakukannya. Ia telah memilih siap-siapa yang ada di luar barisan dan yang masuk ke dalam barisan. Orang tua itu tahu, ia tidak bisa menyandarkan diri kepada komandan itu, ia sendiri yang harus mempertanggungjawabkannya. Ia bahkan tidak merasa nyaman dengan membayangkan apa yang sudah terjadi di kampungnya. Perpecahan dan permusuhan. Ancaman-ancaman. Hutan-hutan yang dibabat. Tak ada yang cukup layak menjadi alasan untuk membuatnya nyaman. Ia bahkan tidak merasa lega ketika ia mencoba membayangkan apa yang mereka lakukan terhadap Tuhannya, seperti yang didengarkannya dari orang-orang. Tidak. Ia tidak ingin menjadi Tuhan, yang menentukan hidup mati seseorang.

Suara guntur mulai terdengar. Percik-percik air seperti terasa bahkan sebelum hujan benar-benar turun. Hujan pertama setelah kemarau yang teramat panjang, yang membuat hati orang tua itu kian mengerkah, seperti rekahan tanah kering yang akan segera berhamburan oleh hujan yang menghunjam di sana. Kerjapan kilat yang terus berulang seperti ingin memberi kesempatan kepadanya untuk melihat satu demi satu mereka yang ada di barisan itu. Tentu saja, semua itu hanya khayalannya sendiri. Semua ada di dalam benaknya sendiri. Tertancap dengan kuat, tak akan terlupakan. Wajah-wajah tunduk itu. Semua mereka yang kini semakin samar dalam gerimis yang mulai turun, kenapa semuanya semakin nyata dalam pikirannya? Satu demi satu mereka mulai bergerak. Seorang demi seorang mereka beranjak maju, dengan langkah yang seperti tidak digerakkan oleh otot tetapi oleh daya hidup yang hendak keluar dari tubuh, melayang dan tahu tak akan kembali. Tetapi ada yang tetap tertinggal di sini, dalam benaknya, mungkin juga dalam benak semua orang yang menyaksikan mereka pergi. Ingatan yang akan menjadi abadi hingga kematian tiba. Seperti mereka yang kini telah pergi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: