Oleh: pinjambuku | 19 September 2007

SELEB

[Mata]


SELEB

NUJUMAN Warhol bahwa akan ada masanya ketika setiap orang, siapa pun, bisa menjadi terkenal hanya dengan berusaha selama lima belas menit bisa jadi telah lama terbukti. Di dunia modern-paskamodern ini, segala hal adalah mungkin, juga keterkenalan dan segenap bola salju yang mengikutinya. Sebagaimana kemudian penyitiran yang dibelokkan dari ungkapan di atas, bukan usaha yang seperempat jam itu benar yang membuat seseorang dikenal, tetapi pada adanya kemungkinan pencapaian kemahsyuran hanya dalam waktu seperempat jam saja—bahkan seperempat menit saja. Semua ini hanya mungkin karena adanya arus informasi yang tak terbendung lagi: televisi, internet, koran, majalah, telepon genggam, gosip.


Tak ada yang bisa membendung infiltrasi arus informasi yang merambah segenap penjuru muka bumi. Tak ada ruang dan waktu yang luput. Seseorang mengucapkan satu kalimat mantra baru dalam iklan televisi, dan segenap penonton akan mengingatnya dan menirukannya. Seseorang yang tadinya entah siapa itu kini telah menjadi bintang. Seorang yang lain meledakkan bom di satu tempat, semenit kemudian namanya dikenal orang di seluruh dunia. Seseorang yang lain ditangkap dan ia adalah bintang. Juga dua anak manusia yang bercinta itu, siapa kini yang tak mengenalinya sebagai haram jadah yang harus enyah dari lingkungan dan masyarakatnya—sementara seseorang, banyak orang, yang lain jadi bintang karena menuliskan kenyataan yang sama, yang ada-nyata ada, di setiap penjuru negeri.


Disadari atau tidak, telah lama era informasi itu berkuasa dalam kehidupan kita. Siapa kini di antara umat manusia ini yang tidak mempergunakan-memanfaatkan-dijajah-disetir oleh berbagai sarana informasi. Siapa dari kita yang sama sekali bersih dari semua ini: televisi, telepon genggam, radio, koran, majalah, internet, selebaran, poster, baliho, buku. Dan terjadilah, masa ketika seseorang-setiap orang bisa menjadi terkenal hanya dengan berusaha—hanya dalam waktu—selama lima belas menit.


Meski tidak sama persis, arus popularitas yang demikian itu boleh dikatakan terjadi juga di dunia perbukuan kita. Dulu, media massa dan penerbitan adalah sesuatu yang ketat dibatasi—yang paling kita ingat terutama di era orde baru. Dulu, tak banyak orang yang karyanya terpublikasi, apalah lagi diterbitkan dalam bentuk buku. Bahkan, para penulis yang tulisannya telah banyak dimuat di media massa pun tak selalu punya keberuntungan karyanya terbit sebagai buku. Dulu, menjadi penulis adalah perjalanan agung seorang pujangga, dengan segenap kenestapaannya. Kini adalah era baru. Ada banyak koran dan majalah dan portal internet yang bisa dijadikan media publikasi karya. Ada banyak penerbit besar dan kecil yang menyediakan diri bagi para penulis. Sejalan dengan itu, status sebagai penulis ternyata menarik minat banyak orang, termasuk juga selebritis. Sebaliknya, menjadi penulis adalah salah satu jalan untuk menjadi selebritis, seorang bintang.


Kini penulis menempati posisi yang selayaknya, sebagaimana galibnya. Karya-karya mereka dengan cepat dan gampang menjumpai pembaca. Posisi tawar para penulis itu juga semakin kuat. Kini penulis adalah orang yang paling dicari penerbit, bukan lagi penulis yang mencari penerbit. Penulis bukan lagi orang nestapa yang hanya dihibur dengan status kosong gelar penulis—yang tidak mendapat apa-apa selain hanya kebanggaan kosong dan pahala. Lebih-lebih bagi para penulis yang cepat tanggap dan peka akan pasar. Tulislah segera tema yang banyak diminati pasar, tulis hari ini juga, besok buku itu sudah akan beredar di pasaran.

Demikianlah, segalanya terasa begitu mudah. Siapa saja boleh menulis untuk kemudian menawarkan karyanya kepada satu dari sekian banyak penerbit yang tak terhitung jumlahnya. Dengan hanya menulis sebuah buku, seseorang dapat mengibarkan diri sebagai penulis. Betapa seorang penulis kini boleh memiliki posisi tawar yang tinggi di hadapan para penerbit. Jika mau, mereka juga bisa dengan gampang menerbitkan sendiri karyanya, atau sekalian mendirikan penerbitan.


Betapa sudah sedemikian jauh perubahan ini terjadi. Betapa dulu para penulis adalah liliput di hadapan penerbit-penerbit raksasa. Betapa seperti baru kemarin saja para penulis itu terseok membawa sekian tulisan, sekian naskah, sekian stensilan karya hanya untuk menerima ketidakjelasan nasibnya di atas meja penerbit besar. Tetapi dulu, para penulis itu bisa berbangga diri akan darah dan air mata yang mengucur untuk karya mereka. Dan kini, apa yang akan dikatakan oleh para penulis era baru itu kepada kita?


Tentu saja, kita semua harus mensyukuri atas semakin mudahnya setiap orang mengaktualisasikan diri, semakin gampangnya tulisan mendapat ruang publikasi, semakin ramainya dunia penerbitan, semakin banyaknya judul buku yang diterbitkan, semakin diakuinya profesi kepenulisan. Hanya saja, dengan demikian, tidakkah sesiapa yang menasbihkan diri sebagai penulis juga harus semakin berhati-hati dan bertanggung jawab atas setiap buku yang mereka hasilkan? Demikian juga dengan penerbit-penerbit buku kita, tidakkah dalam arus yang demikian itu ada banyak konsekuensi yang harus lebih dicermati—bukan saja dalam kaitannya dengan pasar dan kapital, tetapi juga dalam penggalian kembali visi dan misi dunia penerbitan dan perbukuan. Sungguh, buku adalah jendela dunia. Dunia macam apa? Kita semua akan menjawab dengan selayaknya. [Goen]

Matabaca, Vol.2/No.7, Maret 2004


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: