Oleh: pinjambuku | 20 September 2007

BENTANG BUDAYA

BENTANG BUDAYA: BULDANUL KHURI DAN BIOGRAFI LAMPU MERKURI

 

SUATU HARI sebuah andong berhenti di depan sebuah toko buku. Andong itu membawa serombongan bocah dan seorang muda yang kemudian turun dan berebut masuk ke toko buku. Dengan penuh kegembiraan, mereka melihat-lihat, membuka, dan membaca sekilas buku-buku dan majalah yang tertata rapi di deretan rak-rak buku. Yang membuat mereka lebih bersemangat lagi, mereka boleh memilih buku yang mereka sukai untuk dibawa pulang. Hari itu kawan-kakak-senior, seorang muda yang ada di antara mereka, akan membayari buku-buku yang mereka pilih dan sukai.


Kejadian itu terjadi di akhir tahun 1970-an. Toko buku itu adalah Toko Buku Gunung Agung, terletak di pojok perempatan Tugu di kota Yogyakarta. Anak-anak itu berasal dari sebuah kampung di daerah Kota Gede, sepuluh kilometer arah tenggara Yogya. Siapakah anak muda yang memiliki kepedulian besar terhadap minat baca anak-anak itu? Ia adalah Darwis Khudori, ketika itu mahasiswa arsitektur UGM, penulis, dan pekerja sosial yang cukup dikenal di lingkungan kreatif Yogyakarta. Hari itu ia menerima uang hadiah penghargaan suatu lomba penulisan. Dan ia menyediakan separonya untuk membelikan buku bagi anak-anak yang biasa bermain dan belajar di rumahnya.


Darwis Khudori mulanya adalah sosok yang aneh dan asing bagi anak-anak kampung itu. Mereka bisa melihatnya dari jendela kamar yang selalu terbuka, yang memperlihatkan dirinya yang selalu khusuk dengan buku dan mesin ketik. Bocah-bocah itu biasa mendengar cerita bahwa anak muda itu adalah orang pandai, mahasiswa dan penulis yang layak dikagumi. Dalam istilah sekarang, anak muda itu adalah seorang intelektual. Satu-dua di antara mereka kemudian mencoba belajar dari anak muda itu, melihat-lihat apa yang dilakukannya. Ia kemudian memberi kesempatan kepada anak-anak itu untuk membaca buku-buku koleksinya, sebagian besarnya buku-buku sastra ‘serius’. Begitu melihat antusiasme anak-anak itu, ia kemudian menyediakan juga buku dan majalah anak-anak untuk mereka. Acara ke toko buku ini menjadi sesuatu yang istimewa, yang membuat mereka semakin mencintai buku dan bacaan.


Seorang di antara bocah-bocah itu adalah Buldanul Khuri, ketika itu adalah pelajar sekolah menengah pertama. Buldan kini dikenal sebagai pendiri dan sekaligus pengelola penerbitan Bentang Budaya Yogyakarta. Peristiwa di atas diceritakannya kembali untuk mengungkap bagaimana ia mengelola penerbitannya dengan satu paradigma dasar: kecintaan terhadap buku. Sebagaimana diungkapkan sendiri oleh Buldan, apa dan bagaimana Bentang adalah manifestasi dari obsesi pribadinya. Sosok seperti Darwis Khudori, yang memperkenalkannya pada buku dan bacaan dan bahkan menyediakan taman bacaan untuk anak-anak di lingkungannya, disadari atau tidak telah membentuk sebagian dari pribadi seperti dirinya. Buldan masih bisa mengingat bagaimana ia membaca novel-novel Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Danarto, dan Mochtar Lubis—yang meskipun ketika itu membingungkannya— membuat dirinya merasa dekat dan mencintai karya-karya sastra dan buku.


Di Bawah Lampu Merkuri
Kegemaran terhadap bacaan dan kesenangan terhadap karya-karya sastra tersebut ternyata menumbuhkan minat dan keinginan yang terus berkembang. Beranjak remaja, mereka yang ada di seputaran buku-buku Darwis Khudori ini sempat menerbitkan antologi puisi kecil, dengan judul yang cukup necis untuk konteks masa itu, yakni Di Bawah Lampu Merkuri. Judul buku ini diambil dari satu puisi salah seorang di antara mereka, yang sedikit banyak menjadi respons atas dikenalnya lampu penerang jalan jenis baru yang dipasang di kampung mereka. Ini bisa jadi merupakan petunjuk betapa lingkungan mempunyai pengaruh besar bagi perkembangan jiwa seorang anak.


Buldan sendiri kemudian menemukan ruang ekspresi dan jati dirinya, yakni desainer dan penerbit perbukuan. Keluarga Buldan memiliki usaha percetakan kecil-kecilan yang dikelola oleh kakak-kakaknya. Salah satu kesempatan yang diperoleh Buldan ketika itu adalah ikut menangani buku tahunan dari satu perkumpulan remaja, yakni sebagai pengisi ilustrasi. Dari sini, ia kemudian menemukan pilihan masa depannya dengan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI), yang kemudian berganti nama menjadi Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan Desain Komunikasi Visual. 


Setelah menyelesaikan studi, Buldan kemudian mendirikan satu biro desain grafis kecil-kecilan, bernama Aula Graphic Design. Lingkungan kerja yang banyak berhubungan dengan dunia cetak-mencetak ini menyegarkan obsesi Buldan pada dunia perbukuan dan penerbitan. Mula-mula Buldan menjalin interaksi dan kontak dengan beberapa penerbit yang sudah ada ketika itu, antara lain pada aspek penataan artistik buku. Para penerbit buku pada waktu itu, terutama di Yogyakarta, tidak cukup memiliki perhatian atas aspek artistik dari produk-produk mereka, baik pada desain cover, setting, lay-out, maupun tampilan buku secara keseluruhan. Dari sini, Buldan beranjak lebih jauh lagi dengan mencoba menjajaki kemungkinan menerbitkan kumpulan tulisan dari beberapa penulis, antara lain Emha Ainun Nadjib, yang karya-karyanya cukup layak untuk disebarluaskan ke tengah masyarakat. Satu-dua naskah sempat ditanganinya, mulai dari pengumpulan bahan, pengetikan, editing, lay-out, dan perancangan tampilannya, yang kemudian diserahkannya kepada penerbit yang ada ketika itu.


Sejalan dengan itu, pada 1992, Buldan mendirikan PT Bentang Intervisi Utama bersama tiga sahabatnya. Perseroan ini dikerangkakan bergerak di bidang desain grafik, percetakan, dan penerbitan. Dengan sinergi tiga bidang kerja yang saling berkaitan ini, ada harapan bahwa apa yang sudah dikerjakan oleh Buldan dan kawan-kawannya bisa berkembang lebih maju dan terarah. Karena satu dan lain hal, dalam bahasa Buldan dunia bisnis yang ruwet, perseroan ini mengalami perpecahan. Buldan kemudian berdiri sendiri dalam menangani bidang penerbitan, dengan tetap membawa nama Bentang yang dicetuskannya.


Membentangkan Perbukuan Yogyakarta
Berdiri pada 1994, Bentang dapat dicatat sebagai pelopor berdirinya penerbit-penerbit alternatif di Yogyakarta. Dalam satu kesempatan, Taufik Rahzen, seorang pemerhati perbukuan, menyatakan betapa Buldanul Khuri dengan penerbitannya ini menjadi katup pembuka bagi banyak orang akan kemungkinan pendirian suatu lembaga penerbitan. Apa yang dikemukakan oleh Taufik Rahzen ini bisa lebih dipahami dengan melihat sekilas dunia penerbitan pada era sebelum kemunculan Bentang. Sampai awal era 90-an, dunia penerbitan memiliki wilayah yang ‘sakral’, berayun di antara modal-kapital dan intelektualitas-komunitas. Gramedia, Gunung Agung, Pustaka Jaya, Kanisius, Grafiti, Sinar Harapan, dan sekian penerbit mapan lainnya adalah nama-nama yang mau tidak mau bisa membuat keder banyak orang. Gramedia dan Gunung Agung dengan kebesaran modal dan sejarahnya; Pustaka Jaya dengan kekuatan intelektualitas para sastrawan terkemuka; Kanisius dengan ruang lingkup khususnya; demikian pula dengan penerbit-penerbit lain yang memiliki latar belakang keunggulan masing-masing.


Bentang bagaimanapun melulu bersandar pada diri Buldanul Khuri dan obsesi pribadinya di bidang perbukuan. Ia—sebagai pribadi maupun keluarga—tidak memiliki modal-kapital cukup, tidak berada dalam lingkungan kelompok intelektual terkemuka, sebagai desainer visual juga belum banyak dikenal. Kenyataannya, Bentang tidak termasuk dalam fenomena yang terjadi pada gerakan dan lembaga alternatif dan independen pada umumnya, yang biasanya sekadar jadi letupan kecil untuk kemudian padam, yang berkobar-kobar pada awalnya untuk kemudian hilang entah ke mana. Pertanyaannya kemudian adalah, apa formulasi yang membuat Bentang bisa bertahan dan berkembang hingga sekarang ini? Dalam ungkapan Buldan, Bentang bisa bertahan hanya karena keberaniannya untuk malu dan menanggung segala risiko. Ini dikemukakannya dengan melihat kenyataan betapa sampai 1998, berarti dalam jangka waktu empat tahun, Bentang senantiasa berada dalam belitan hutang yang terus bertumpuk. Bisa dikatakan, Buldan adalah jaminan satu-satunya atas setiap tagihan Bentang, baik dari percetakan, distributor kertas, penulis, bank perkreditan, dan banyak pihak lain. Tak ada pilihan lain jika kemudian gaji karyawan yang sekian gelintir, yang sebagian adalah kawan keseharian Buldan, juga termasuk yang terbengkalai. Bisa dipahami jika kemudian satu per satu dari mereka keluar dari lembaga yang tengah berada pada masa perintisan ini. Dengan demikian, bisa dimaklumi pula jika dalam perkembangan lebih lanjut Buldan benar-benar menjadi penentu tunggal segala aktivitas Bentang.


Angin segar baru dapat dirasakan oleh Bentang pada kisaran 1999, seiring dengan terjadinya booming dunia perbukuan Indonesia. Pada masa ini terjadi fenomena yang sampai sekarang belum dibahas kritis kaitannya, yakni krisis moneter yang berlanjut dengan keruntuhan rezim Soeharto dan pertumbuhan luar biasa penerbit-penerbit kecil yang diikuti dengan penyerapan pasar yang meningkat tajam atas produk-produk perbukuan. Bentang dan penerbitan buku di Yogyakarta cukup layak dicatat dalam fenomena ini. Yogyakarta, sebuah kota menengah di Indonesia, kota pelajar dan wisata, berkembang drastik menjadi kota penerbit buku. Jika semula penerbit buku tidak lebih dari hitungan jari tangan, setelah tahun 1999 berkembang sampai sekitar delapan puluh penerbit, bahkan ada yang mencatat lebih dari seratus penerbit. Dalam konteks Bentang, booming perbukuan ini memberikan dukungan finansial dengan larisnya buku-buku Kahlil Gibran dan buku-buku Kiri, dua tema perbukuan yang juga menjadi tambang uang bagi banyak penerbit kecil di Yogyakarta.


Personalitas dan Elan Vital Kreativitas
Bentang Budaya adalah suatu lembaga penerbitan yang memilih tema-tema utama di seputar seni-sastra-budaya-filsafat. Apa yang diharapkan dari pilihan tema yang tidak cukup menjanjikan keuntungan material—setidaknya dalam asumsi umum di bidang perbukuan yang diamini banyak pihak—ini? Buldan punya jawaban yang menarik. Dengan cukup berapi-api, ia menandaskan bahwa pilihan aktivitasnya di dunia perbukuan tidak pernah diniatkan untuk tujuan bisnis. Apa yang diterbitkannya melalui Bentang adalah berdasarkan pada minat dan impian-impian personalnya, demikian juga dengan keseluruhan segi dari keberadaan lembaga penerbitan ini. Dari semenjak pemilihan naskah, keredaksian, artistik, percetakan, sampai paskaproduksi, kesemuanya dikonsep dan diimplementasikannya sendiri. Dalam pemilihan naskah, misalnya, kenangan dan kesenangannya membaca karya-karya sastra, budaya, dan filsafat membuat dirinya memiliki semacam standar subjektif atas laik-tidaknya suatu naskah dipilih untuk diterbitkan. Pegangannya adalah apakah ia suka atau tidak, merasa cocok atau tidak, terhadap satu naskah. Miinat dan kesukaan ini bisa dikarenakan orisinalitasnya, nilai pentingnya, inovasi dan kontekstualitasnya, atau bahkan keklasikannya. Baginya, selera personal semacam ini bukanlah sesuatu yang ganjil dan terasing; ia meyakini bahwa akan ada orang lain, banyak orang lain yang juga memiliki selera yang sama. Setidaknya, ketika suatu naskah bisa terbit dalam bentuk buku, ia bisa memiliki kepuasan dan kebanggaan bagi dirinya sebagai pribadi.


Di bidang keredaksian, ia melihat betapa dunia akademik dan teoretis, bangku perkuliahan, tidak cukup signifikan untuk dijadikan pegangan atas kemampuan seseorang. Ia lebih percaya keahlian di bidang ini hanya bisa diperoleh dalam praktek di lapangan; dengan kata lain, koreksi, editing, penyuntingan, dan hal-hal yang berkaitan dengan keredaksian ini berkaitan dengan ketekunan dan keseriusan dari mereka yang menggelutinya. Tanpa ketekunan dan keseriusan, kecintaan terhadap profesi, seorang korektor atau editor hanya akan menjadi tukang, sesuatu yang mesti dihindari di dunia perbukuan yang kental dengan nilai intelektualitas dan estetika.


Menelaah Bentang mau tidak mau harus menyebutkan satu pencapaiannya yang paling teruji dan menjadi ikon dari penerbitan ini, yakni desain cover. Aspek artistik buku ini bisa jadi merupakan salah satu aspek terpenting yang membuat Bentang bisa bertahan dan berkembang sampai sekarang. Buldanul Khuri, bersama Si Ong Harry Wahyu, adalah nama yang telah berkibar tinggi sebagai perancang sampul mumpuni. Sebagaimana telah dibahas pada Matabaca Vol.1/No.2/September 2002, dua orang ini, terutama melalui buku-buku terbitan Bentang, telah membuka cakrawala yang menyegarkan dengan menempatkan desain artistik sebagai bagian penting yang membuat buku menarik minat pembaca dan menciptakan citra khusus terhadap penerbit. Meski secara jujur Buldan menyatakan bahwa apa yang telah dilakukannya dalam pengolahan desain cover ini diilhami oleh kekagumannya atas sampul buku-buku Pustaka Jaya di era 1970-an, dalam konteks kekinian Bentang dapat dicatat memunculkan trend desain cover khas Yogyakarta. Ciri khas buku dari penerbit-penerbit Yogya, dan bahkan merambah ke penerbit-penerbit di luar Yogya, adalah desain sampul yang tak ubahnya karya rupa, dari objek visual, tipografi, huruf, tata-ruang, maupun tampilan buku sebagai keseluruhan.


Pada akhirnya, Bentang Budaya dan Buldanul Khuri adalah dua nama yang harus disebut dalam satu tarikan nafas. Pilihan-pilihan yang diambil oleh Buldan dalam mengelola Bentang bisa jadi adalah sesuatu yang jauh dari ilmu-ilmu manajemen masa kini. Akan tetapi, patut pula dihargai apa yang sudah ditempuh oleh Buldan dengan segala resiko yang ditanggungnya. Dengan penuh kesadaran, Buldan mengatakan betapa dirinya sama sekali tidak berpretensi mencapai sesuatu yang melampaui batas-batas kemampuannya sebagai pribadi. Ia bahkan menandaskan bahwa jika ternyata dirinya sudah tidak peka, tidak kreatif dan mandeg, berhenti dalam proses belajar yang terus-menerus di dunia perbukuan ini, ia telah siap menerima resiko bahwa Bentang akan pudar digerus zaman. Buldan percaya bahwa setiap orang memiliki eranya masing-masing, dengan kreativitas dan gagasan baru mereka, yang lebih segar dan berharga bagi masyarakat. [Goen]

 

 

HANTU-HANTU PERBUKUAN INDONESIA

 

LEBIH DARI sepuluh tahun menggeluti dunia perbukuan, Buldanul Khuri memiliki pengalaman yang layak untuk kita kaji. Berikut ini adalah petikan perbincangan tentang Bentang, penerbit-penerbit Yogya, dan dunia perbukuan pada umumnya.

Dalam kurun waktu empat-lima tahun ini, ada banyak sekali penerbit yang bermunculan di Yogyakarta. Bagaimana Bentang menyikapi hal ini?


Ini adalah sebuah fenomena yang menarik. Krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998-1999 diikuti dengan berkembangnya pasar perbukuan. Apakah ini ada hubungannya dengan keruntuhan Soeharto, juga kaitannya dengan menjamurnya penerbit-penerbit kecil di Yogyakarta dan kota-kota lain, perlu ditelaah lebih serius lagi. Bentang sendiri melihat hal ini sebagai fenomena yang menggembirakan dalam perkembangan perbukuan Indonesia.

Bagaimana dengan kritik dan bahkan kecaman yang dialamatkan kepada penerbit-penerbit Yogyakarta, antara lain tentang kualitas terjemahan dan copy-right? 


Pertama, saya tidak setuju dengan adanya gebyah-uyah, penggeneralisiran, semacam ini. Bahwa Yogya kemudian jadi sorotan utama, ini ada kaitannya dengan jumlah penerbit Yogyakarta yang demikian banyak. Gampangnya, di Yogyakarta ada sekian puluh bahkan seratusan lebih penerbit sedang kota-kota lain cuma memiliki tidak lebih dari belasan penerbit aktif. Jelas bahwa akan lebih gampang mencari dan melihat hal-hal buruk dari sekian banyak penerbit yang ada di Yogya.


Yang lebih penting lagi, perlu dipahami juga apa dan bagaimana penerbit-penerbit kecil di Yogya itu. Kita-kita ini kan sedang belajar. Motivasinya bermula dari keseharian sebagai mahasiswa, aktivis diskusi dan pergerakan, atau pekerja budaya yang banyak bertemu dan mengenal sekian nama penulis dan buku-buku penting; buku-buku sastra, filsafat, buku kiri, agama. Nah, dari sini muncul pemikiran bahwa buku-buku tersebut layak disebarluaskan juga ke masyarakat luas. Yang terjadi kemudian adalah, ada di antara kami yang bisa menerjemahkan dan ada yang memiliki kenekatan untuk menerbitkan. Kalau ternyata buku tersebut direspon baik oleh masyarakat, pendapatannya dijadikan tambahan modal untuk terbitan buku berikutnya, demikian seterusnya. Syukur-syukur bisa mengangsur hutang-hutang. Begitulah…. 


Akan tetapi, bagaimana dengan kritik dan kecaman yang kemudian muncul tadi? Juga adanya pendapat bahwa buku dengan kualitas yang di bawah standar bisa menjadi sebentuk pembodohan?


Saya percaya bahwa apapun dari buku, tetap ada gunanya. Orang juga mengatakan betapa sejelek-jelek buku, tetap ada manfaatnya. Buku adalah tetap buku, ia tetap bernilai dan dapat diambil manfaatnya. Jadi titik penting yang dijadikan pijakan dari penerbit Yogya ini adalah pada aspek pentingnya tersedia buku di tengah masyarakat. Ya, bisa jadi para penerbit Yogya sendiri memang masih perlu banyak belajar. Dan kami-kami ini memang terus belajar. Masyarakat pun sedang belajar berhadapan dengan buku. Apa yang terjadi di dunia penerbitan kita ini adalah cerminan dari situasi masyarakatnya. 


Yang lebih penting adalah bagaimana kita bersikap secara dewasa dan saling membangun, bukan dengan memunculkan serangan dan kritik yang menjatuhkan. Saya sendiri sangat kaget dengan adanya rumor yang mengatakan bahwa sebegitu antipatinya terhadap buku-buku Yogya, beberapa oknum yang menyatakan dirinya intelektual, di Jakarta sana, mencoba menurunkan, merusak display, buku-buku Yogya di rak-rak buku. Ini kan tidak ada bedanya dengan pembredelan dan pembakaran buku, bahkan lebih tidak mutu lagi karena dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. 


Yang diperlukan sekarang ini adalah kerja. Apa mereka yang merasa lebih baik itu juga bersedia untuk bekerja? Silakan membuat terjemahan yang baik, biar kami-kami ini yang menerbitkan. Jika perlu, mereka juga bisa mendirikan penerbit sendiri lah. Nah, masyarakat bisa punya pilihan yang makin beragam.


Soal copy-right?


Oh, iya. Maksudnya copy-right buku-buku luar negeri itu, kan?! Saya sendiri dalam hal ini sesungguhnya masih merasa ambigu, bingung. Di satu sisi tidak bersetuju dengan hukum internasional yang penuh muatan kepentingan, terutama kepentingan negara maju. Di sisi lain, ini juga jadi salah satu tahapan keberadaban yang harus dijalani.


Tapi apa yang dikemukakan oleh seorang teman penerbit dalam sebuah wawancara cukup layak untuk dijadikan jawab. Ia mengatakan begini, apa mempermasalahkan copy-right lebih penting dari memikirkan bagaimana membuat rakyat punya hobby membaca? 


Bagaimana dengan pemerintah? Peran apa yang diharapkan dengan situasi yang demikian ini?


Pemerintah tidak bisa diharapkan apa-apa dalam hal-hal semacam ini. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan kebebasan bagi para penerbit. Dengan kekuasaan yang ada di tangannya, pemerintah lebih baik memastikan bahwa kebebasan ini bisa benar-benar dinikmati oleh masyarakat. Ini yang lebih diperlukan, menjaga agar kebebasan ini tidak dihalangi oleh mereka-mereka yang merasa terancam oleh kebebasan itu. Jadi, jangan sampai terjadi, ada pihak-pihak yang tidak bersetuju dengan wacana yang dimunculkan dalam suatu buku kemudian menyerang secara fisik dan kekerasan, misalnya.


Bagaimana ke depannya? Apa pandangan Anda terhadap Bentang di antara sekian banyak penerbit lain dan berbagai persoalan itu?


Satu bidang yang menurut saya bisa menjadi bom waktu bagi penerbit-penerbit kecil seperti Bentang dan banyak penerbit lain adalah pola distribusi yang tidak sehat. Bagi kami-kami yang lebih banyak dihidupi oleh kenekatan dan modal minimal, distribusi langsung dan pembukaan cabang atau keagenan di tiap-tiap wilayah adalah sesuatu yang masih jadi impian. Distributor dan agen pemasaran menjadi harapan yang paling mungkin. Akan tetapi, distributor dan agen pemasaran buku adalah benang kusut yang sulit dicari simpulnya. Ada masa ketika mereka menjadi mitra kerja yang saling menguntungkan. Akan tetapi lebih banyak persoalan yang kemudian muncul dari berbagai pola kerja sama yang pernah dicoba dan diterapkan dengan satu distributor dan distributor lainnya. 


Di satu sisi asumsi rendahnya minat baca dan daya beli masyarakat masih selalu dijadikan hantu yang menakutkan, yang dijadikan senjata oleh para distributor untuk mempermainkan penerbit; di sisi lain ada kenyataan betapa buku sama sekali belum tersebar secara maksimal menjangkau pembacanya. Fenomena lain adalah betapa ada banyak judul buku yang cukup besar terserap oleh pasar, terlepas apakah karena ditulis oleh artis, promosi besar-besaran, kontroversialitasnya, atau trend tematik yang sedang hangat. Kenyataannya, penerbit-penerbit kecil senantiasa dalam posisi yang dilemahkan. Yang banyak terjadi adalah pembayaran yang selalu mundur atau bahkan tidak terbayar, penipuan dengan cek atau giro kosong, penolakan dan retur buku sebelum waktunya, rabat yang sangat besar, dan berbagai mekanisme distribusi yang tidak memberi ruang bagi daya hidup penerbit-penerbit kecil.
Saat ini, kami, para penerbit kecil Yogya ini, tengah menggodok mekanisme distribusi yang paling memungkinkan dan formulasi yang bisa jadi pegangan bersama dalam berhadapan dengan distributor. [Goen]

Matabaca, Vol.1/No.6, Januari 2003


Responses

  1. Dengan hormat,
    kami ingin sekali mendapatkan buku-buku dari penerbit Bentang budaya, bagaimana cara pemesanannya dan di mana kami bisa mendapatkan katakog lengkapnya, serta apakah untuk perpustakaan sekolah yang kami bina bisa mendapat bantuan buku atau diskon istimewa
    Jika ada bantuan dan kiriman katalog alamatkan ke
    Supianoor, S.Pd
    SMPN 2 Kusan Hulu
    Jl. Valgosons , Teluk Kepayang, Kec. Kusan Hulu, Kab. Tanah Bumbu KP. 72272 Kalimantan Selatan

  2. Barangkali sama dg saya,sudah berkali2 browsing ga nemu jg alamat atau no.telp bentang budaya.Eh malah keliru telp ke Bentara Budaya.Mohon bantuannya.Trm ksh.

    • Bentang Budaya sudah tutup buku,
      sekarang jadi Bentang Pustaka
      Alamatnya:
      Jln. Pandega Padma no.19
      Yogyakarta 55284
      Telp: 0274-517373
      Faks: 0274-541441
      E-mail: bentangpustaka@yahoo.com

  3. cerpen darwis khudori yang judulnya orang-orang kotagede masih terbit g ya??
    harganya berapa?

  4. wow terimakasih atas sharingnya gmas..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: