Oleh: pinjambuku | 20 September 2007

GLOBAL

[ Mata ]

GLOBAL

GLOBALISASI bisa jadi adalah kata yang paling berhasil menarik perhatian banyak orang. Mulai dari pemimpin negara sampai pemimpin perusahaan, dari pejabat pemerintah sampai pengusaha, juga di antara rakyat biasa, pelajar, ibu rumah tangga, pengangguran, seniman, semua seperti tidak mau ketinggalan untuk ikut serta mengucapkannya. Tak peduli benar-benar memahami atau tidak pengertiannya, apa dan bagaimananya, seluk-beluknya, dasar dan arahnya. Globalisasi menjelma jadi mantera yang pada suatu waktu jadi gelombang pasang yang menyapu pantai kehidupan umat manusia seluruh dunia.


Kabar angin itu telah berjalan sekian tahun lalu. Kini gelombang itu benar-benar telah datang. Realitas hari ini, di sini, adalah juga realitas yang sama untuk tempat berjarak sekian ratus, sekian ribu, kilometer di sana. Apa yang terjadi di belahan dunia nun jauh di sana bisa jadi berpengaruh besar bagi kita di sini. Orang-orang berhubungan dan bergerak ke berbagai penjuru bumi. Karenanya, bom di negeri ini bukan hanya mengancam kita sendiri tetapi juga semua orang di dunia. Sebaliknya, bom di Amerika sana juga akan berpengaruh besar bagi kita. Begitu juga dengan penyakit di Eropa sana, atau Afrika, akan gampang terbawa menular ke negeri kita. Sementara itu, hasil bumi dan laut kita juga bukan hanya untuk kebutuhan kita sendiri. Kekayaan kita diangkut, diekspor ke berbagai negara, mentah atau matang. Dan kita tak cukup lagi memakan dan memenuhi kebutuhan hidup hanya dengan apa yang kita hasilkan sendiri. Ada banyak barang dan jasa dari seluruh dunia yang mengelilingi keseharian kita. Inilah globalisasi itu. Inilah kehidupan global itu.


Bukan hanya apa-apa yang riil dan nyata, yang sehari-hari, semacam itu. Globalisasi adalah juga hal-hal yang abstrak dan imajiner. Wacana-wacana berbiak memberikan dunia yang baru juga. Jauh mendahului bom, wacana-wacana membuka jalan bagi bangunan globalisasi. Demokrasi, liberalisme, konsumerisme, pasar bebas, feminisme, gender, poststrukturalis, postmodernisme, dan semacamnya adalah bagian dari globalisasi itu. Bahasa-bahasa berputar, bertukar, berebut ruang. Wacana-wacana menancapkan diri dan mengukuhkan kekuasaannya. Lepas dari baik dan buruk, benar atau salah, tak ada yang bisa membendungnya. Tidak soal apakah akan menjadikannya pegangan hidup atau tidak, buta akan wacana global akan membuat siapa saja tersingkirkan. Demikianlah globalisasi itu.
Demikianlah adanya dunia. Jalan, pelabuhan, stasiun, bandar udara, jembatan antar pulau, terowongan bawah laut, dibangun dengan kokoh. Pesawat, mobil, kereta, kapal laut dijalankan dengan tertib. Undang-undang, aturan, perjanjian, kesepakatan ditandatangani. Internet, televisi, komunikasi jarak jauh telah memampatkan dunia dalam satu arus besar bernama globalisasi. Dunia global itu kini hanya satu kampung kecil saja. Dan ketika dunia telah berubah jadi kampung kecil, tentulah globalisasi tak dibutuhkan lagi.


Globalisasi pada akhirnya hanya sekadar cambuk bagi siapa saja yang ingin maju mengikuti zaman. Globalisasi adalah mutu, profesionalitas, efisiensi, keteraturan, tata tertib, aturan. Bukankah itu semua memang suatu kesemestian yang ada di dalam kehidupan, di setiap masyarakat, di setiap budaya dan peradaban umat manusia? Jadi, sekali lagi, globalisasi bukanlah apa-apa. Ia hanya catatan kaki untuk suatu tahap perjalanan.


Perjalanan memang masih panjang. Barangkali kita telah melewati satu tahapan sejarah bernama globalisasi. Apakah berhasil atau tidak, adakah dengan membusung dada atau compang-camping, bisa jadi bahkan dengan koyak-moyak dan luluh-lantak. Bisa jadi kita belum beranjak ke mana-mana, atau bahkan telah salah jalan. Bisa jadi pula, bukan kita yang salah. Jalan inilah yang keliru. Globalisasi inilah yang membuat kita tak bisa tidur nyenyak. Tiba-tiba ada standar mutu ini dan itu, ada aturan hukum ini dan itu, ada perubahan ini dan itu. Ada inflasi, krisis, kebejatan, kejahatan, kekejian, teroris….


Demikianlah, tatanan ekonomi, politik, sosial, budaya, kemanusiaan, kesemuanya berjalan, berkembang, berubah, berganti, dengan sangat cepat. Tak peduli kita memilih atau tidak, ikut atau menolak, yang jelas dunia telah telanjur menjadi apa yang sekarang kita hadapi ini. Inilah globalisasi itu. Inilah satu dunia itu. Inilah satu umat manusia itu. Inilah keseragaman yang menjanjikan itu. Inilah keseragaman yang mencemaskan itu.


Bagaimana tidak mencemaskan. Sementara kini dunia tanpa kecuali telah dikuasai oleh globalisasi, kita bahkan belum mengenal diri kita sendiri. Kita masih terbata membaca lingkungan kita sendiri. Kita bahkan belum lagi bisa membaca, tersurat atau pun tersirat. Barangkali memang suatu kejamakan. Karena sibuk dengan persoalan ekonomi dan politik yang ruwet, kita tak sempat lagi belajar, tak sempat lagi mengajar, tak sempat lagi berkarya. Tak ada waktu untuk membaca, tak ada waktu untuk menulis. Tak ada waktu untuk melihat sekeliling dan menyapa orang di sekitar kita.


Sungguh, kita butuh lebih banyak lagi karya dan kerja. Kita butuh lebih banyak lagi kritik. Kita butuh lebih banyak lagi refleksi. Lebih dari itu, kita butuh lebih banyak lagi pembaca dan komunikasi yang lebih luas, bukan hanya di antara para penulis, para penerbit, para kritikus sendiri. Kita harus beranjak dari tempurung masing-masing. Sudah terlalu lama kita bergunjing di antara kita-kita sendiri. Dan sungguh, kita tidak layak bercakap tentang isu-isu global karena bahkan kita tidak pernah berbincang dengan pembaca yang ada di sekitar kita. Ya, mereka yang selama ini kita abaikan dan sekaligus kita maki sebagai “masyarakat yang rabun membaca dan lumpuh menulis” itu. [Goen]

Matabaca, Vol.2/No.1, September 2003


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: