Oleh: pinjambuku | 20 September 2007

IBU KATA, IBU BACA

[Mata]

 

IBU KATA,
IBU BACA

 

PEMILU memang masih mencantumkan syarat-paksa kuota tiga puluh persen calon anggota legislatif perempuan. Akan tetapi, dunia perbukuan bisa berbangga diri: perempuan sudah lama memiliki tempat yang terhormat dan penting, tersurat dan tersirat. Tersurat dalam deretan panjang para penulis perempuan, tersirat dalam besaran jumlah pembacanya. Terlebih dalam dasawarsa terakhir ini, dengan bermunculannya penulis-penulis muda dengan karya-karya baru yang menciptakan kehebohan. Lebih khusus lagi di bidang kesusastraan, para penulis perempuan itu telah mencatatkan diri sebagai pemilik utama tonggak-tonggak pencapaian kualitatif ataupun kuantitatif. Boleh jadi, sebagaimana terungkap dalam berita-berita, masa depan novel dan sastra Indonesia ada di tangan perempuan. Ya, masa depan perbukuan Indonesia ada di tangan perempuan.

 

Sungguh, semua itu bukan sekadar bagian dari bombasme media massa. Semua itu bukan sesuatu yang diciptakan dan dikarbitkan, misalnya karena kepentingan pasar dan pemasaran. Semua itu dapat dirunut dari jejak dan sejarah dunia perbukuan kita, kemarin dan kini. Bukan hanya di era sekarang para penulis perempuan mampu menggerakkan dan menggairahkan dunia perbukuan kita, baik langsung maupun tidak langsung. Jika disimak dengan baik, para penulis perempuan telah mencatatkan dirinya sebagai bagian sah dari dunia perbukuan kita. Lebih dari itu, perempuan sesungguhnya memiliki peran tidak langsung yang luar biasa besar: sebagai pembaca dan sebagai penentu kemampuan dan rninat baca anak—jenjang usai kehidupan yang semua dari kita melewatinya.

 

Sebagai pembaca, kaum perempuan terus berkembang, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kehidupan modern membuat kaum perempuan terbebas dari belenggu-belenggu, membuat mereka mengalami kemajuan di bidang pendidikan dan status sosial. Tingkat pendidikan yang lebih baik membuat kaum perempuan itu memiliki kebutuhan akan bacaan. Demikian seterusnya, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar kebutuhan mereka, semakin tinggi tuntutan kualitas bacaan mereka.

 

Dalam peran yang lain, dalam kultur apa pun—patriarki atau matriarki, tradisional atau modern-pascamodern—perempuan adalah ibu bagi anak-anak mereka. Lebih dari sekadar persoalan biologis, perempuan sebagai ibu ini adalah peletak dasar visi-visi kehidupan anak manusia. Ini bukanlah generalisasi atau sekadar abstraksi kosong semata. Kita bisa menyimak banyak biografi tokoh yang memberi catatan penting yang demikian itu. Betapa para tokoh itu menempatkan ibu mereka, kaum perempuan, sebagai sosok yang membuat mereka mencapai kesuksesan, antara lain dengan kesan mendalam dari tahapan ketika mereka diajari membaca atau dimotivasi oleh bacaan yang dibacakan ibu mereka.

 

Demikianlah, zaman bergerak dengan cepat. Perempuan berada di garis terdepan, bersama kaum laki-laki. Dalam perspektif yang lain, keberadaan perempuan yang demikian telah menempatkan mereka dalam posisi penting dan menentukan. Akan sangat disayangkan jika perempuan masih menempatkan diri—mungkin juga, terbiasa atau nyaman berada di tempatnya yang lama—sebagai objek, bukan subjek. Cukup memprihatinkan jika perempuan tidak mampu mengambil momentum-momentum baik ini dan memegang pendulum baik ini. Apa pun, kita tidak perlu lagi mencemaskan masa depan kita yang kini berada di tangan kaum perempuan itu. Perempuan adalah ibu, ibu kita semua. [Goen]

 

Matabaca, Vol.2/No.8, April 2004


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: