Oleh: pinjambuku | 20 September 2007

MEMBACA ANAK-ANAK MEMBACA

[ Mata ]

 

MEMBACA ANAK-ANAK MEMBACA

 

MEMBACA bukanlah suatu aktivitas asing dalam kehidupan masyarakat bangsa ini. Semenjak usia balita, membaca merupakan salah satu pengetahuan dasar yang terus diajarkan kepada anak-anak. Selain membaca, pengetahuan dasar yang lain adalah menulis dan berhitung. Ketiga pengetahuan dasar ini berhubungan erat dengan bahasa dan tradisi tulis, keberaksaraan. Bisa dikatakan, langkah pertama memasuki keberadaban manusia adalah melalui keberaksaraan: membaca, menulis, dan berhitung.


Akan tetapi, mengapakah keberaksaraan baca-tulis ini semakin lama semakin pudar seiring dengan beranjaknya usia kita? Mengapakah keberaksaraan ini berhenti hanya pada kemampuan mengenali huruf-huruf, mengeja kata-kata, atau sekadar mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia—tak peduli dengan baik dan benar atau tidak? 


Dalam istilah yang terlalu sering disitir banyak orang dalam berbagai kesempatan, bangsa kita ini adalah bangsa yang rabun membaca dan lumpuh menulis. Bahkan lebih dari itu, seorang cendekia lainnya menyatakan betapa negeri yang resminya sudah bebas buta huruf ini sebagian besar masyarakatnya belum memiliki kemampuan membaca secara benar, yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupan. 


Yang terjadi adalah betapa tanggungnya pengenalan dan pengetahuan keberaksaraan yang setiap hari dididikkan kepada anak-anak. Bangsa ini telah menghentikan keberaksaraan hanya sekadar pada mengenali huruf, mengeja suku kata, atau menuliskan kata dan kalimat singkat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian sekolah. Lain dari itu, keberaksaraan adalah surat cinta dan novel-novel picisan untuk para remaja, surat lamaran kerja dan koran-koran gosip pada mereka yang lebih dewasa, atau surat perjanjian kontrak dan iklan-iklan yang menggoda bagi mereka yang lebih tua.


Budaya membaca dan menulis yang demikian itu terus berjalan tanpa ada cukup perhatian—keprihatinan—dari masyarakat. Kita bisa mencoba memetakannya melalui runutan perkembangan keberaksaraan ini dalam jenjang kehidupan kita: masa balita, masa kanak-kanak, masa remaja dan masa muda. Ilustrasi berikut bisa mencontohkan bagaimana keberaksaraan hidup dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat kita. 


Seorang dosen tamu dari Jepang pernah mukim dan mengajar di suatu perguruan tinggi negeri terbesar Indonesia. Dosen asing ini begitu heran dengan kurangnya referensi yang dikemukakan oleh para mahasiswa setiap kali mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikannya. Maka datanglah dosen itu ke rumah salah seorang mahasiswa yang paling aktif dan cerdas dalam setiap tatap muka kuliah. Sampai di kamar kost sang mahasiswa, betapa terkejutnya ia. Ia tidak melihat sesuatu yang bisa membuatnya yakin bahwa kamar itu adalah kamar seorang mahasiswa. Tidak ada banyak buku; hanya ada belasan buku, sebagian besar buku-buku diktat, yang fotokopian pula. Tidak ada rak buku tertempel di dinding, yang ada adalah poster-poster grup musik, klub sepakbola, dan artis setengah bugil. Di atas meja, bukan buku terbuka yang tergeletak di sana tetapi tape-compo yang berisik dengan lagu-lagu metal. Di lantai bergeletakan kaset, majalah, novel pop, dan komik. Di satu rak panjang bercat warna-warni, tampak berjejer rapi puluhan kaset yang tampak dirawat dengan baik. Sang mahasiswa sendiri tengah sibuk menghadapi pertarungan computer-games di kamar tetangga.


Mahasiswa senantiasa dipandang sebagai agen perubahan, sekelompok intelektual muda yang akan menjadi penentu masa depan bangsa. Nyatanya, benang kusut keberaksaraan Indonesia pun bisa terbaca jelas dalam kehidupan mahasiswa tersebut, yang tidak melihat membaca sebagai sebentuk aktivitas yang bisa menjadi jalan bagi peningkatan kualitas diri, bahkan jikapun hal ini dilakukan sebagai bagian dari tugas perkuliahan mereka.


Membaca bukanlah sesuatu yang asing bagi kita semua. Akan tetapi, kita harus berani melihat dan meninjau kembali pemahaman kita akan arti membaca dan keberaksaraan kita. Kita harus terus mengolah keberaksaraan itu, membaca dan menulis, dalam budaya masyarakat bangsa ini. Kita bisa menggali kembali keasyikan kerja ini sebagaimana dulu kita mulai belajar mengeja dan membaca kata-kata. Ya, tak ada anak-anak yang tak suka belajar membaca. [Goen]

Matabaca, Vol.1/No.11, Juli 2003


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: