Oleh: pinjambuku | 21 September 2007

Kata, Waktu: Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001

MALIN KUNDANG DAN CATATAN PERGULATAN PEMIKIRAN SEORANG MANUSIA INDONESIA 

Goenawan Mohamad, Kata, Waktu;
Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001,
(Penyeleksi: Nirwan Ahmad Arsuka),
Jakarta: Pusat Data dan Analisa TEMPO, 2001,
xxv + 1493 halaman.

 

sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abad
i

(Goenawan Mohamad, “Kwatrin tentang Sebuah Poci”)

SEORANG anak muda adalah Malin Kundang. Ia berjalan dalam perubahan-perubahan. Ia tak dipahami dan dimengerti. Ia pun tak memahami dan mengerti, sebagaimana orang-orang tua dan siapa saja, tentang diri, lingkungan, dan dunia. Yang kemudian dilakukannya adalah mempertanyakan dan merumuskan jawab, pencarian atas kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah sampai ujung itu. Setelah itu, apakah yang terjadi? Seperti biasa, pencarian senantiasa berteman dengan kebimbangan. Ia bimbang dengan sekian perjalanan pencarian yang sudah dan akan dihadapinya, salah satunya adalah adanya kenyataan betapa ketika ia kembali, pulang, berhadapan dengan kehidupan muasal, ia pulang sebagaimana layaknya seorang asing. Menjadi Malin Kundang adalah menjadi seorang terkutuk. 


Malin Kundang adalah tokoh mitologi Melayu yang diangkat oleh Goenawan Mohamad dalam esainya yang berjudul “Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang”. Esai ini memaparkan perjalanan kepenyairan seorang anak muda dengan sekian perbenturan yang terjadi dalam diri dan lingkungannya. Anak muda yang pada umur yang ke delapan belas, di usia sebelas tahun jika dirunut lebih jauh, menulis sajak tanpa mengerti kenapa seseorang harus jadi penyair. Yang dituliskannya kemudian adalah betapa dalam dirinya ada berdenyar kesadaran akan arti kebebasan dari kolektivisme, pemahaman atas kemerdekaan dan individualisme. Kesadaran ini membuatnya mengerti apa yang harus dilakukannya atas tradisi dan masa lalu, juga terhadap peradaban dunia luas. Yang kemudian sampai padanya adalah suatu dunia baru yang terbuka lebar, yang bisa dibentuk, dipahami, dan ditafsirkannya sendiri secara merdeka. 


Kesadaran semacam ini adalah sebentuk pemberontakan atas kemapanan, atas kebenaran yang sekian lama dianut dan diyakini masyarakatnya. Dengan demikian, siapa pun ia yang berbuat demikian, berarti ia telah menasbihkan dirinya sebagai Malin Kundang. Selain itu, di mana pun—apalagi di negeri ini—penyair adalah makhluk langka dan puisi adalah keganjilan. Seseorang boleh saja menjadi penyair dan hidup dengan sajak-sajaknya, tapi begitu ia menampilkan dirinya sebagai penyair di hadapan masyarakat jamak, jadilah ia si Malin Kundang, si anak durhaka yang tak termaafkan itu.


Esai ini menjadi semacam autobiografi yang merepresentasikan sosok penulisnya sendiri, Goenawan Mohamad. Bernama lengkap Goenawan Susatiyo Mohamad, akrab dipanggil GM, ia dilahirkan di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Perjalanan hidupnya senantiasa berada di seputar dunia tulis-menulis dan kesusastraan: wartawan Harian Kami (1966-1970), anggota Dewan Kesenian Jakarta (1968-1971), anggota Dewan Redaksi majalah sastra Horison, salah seorang pendiri dan kemudian pemimpin redaksi majalah Ekspres (1970), Tempo (1971), dan Zaman (1979). Ia juga dedengkot dari Komunitas Utan Kayu, dengan Kalam, ISAI, Pantau, Radio 68H, yang memiliki beragam kegiatan kesenian, pemikiran, komunikasi, dan kebudayaan. 


Karya-karyanya telah banyak diterbitkan, antara lain kumpulan puisi Pariksit (Litera, 1971), Interlude (Yayasan Indonesia, 1973), Asmaradana (Grasindo, 1992), Misalkan Kita di Sarajevo (Kalam, 1988), dan Sajak-Sajak Lengkap, 1961-2001 (Metafor, 2001); kumpulan esai Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (Pustaka Jaya, 1972), Seks, Sastra, Kita (Penerbit Sinar Harapan, 1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (Pustaka Firdaus, 1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (Alvabet, 2001), Eksotopi (Grafiti, 2002), dan empat jilid kumpulan esai Catatan Pinggir. Ia juga menulis libetto untuk opera, Kali (1996) dan The King’s Witch (1997-2000), bekerja sama dengan musisi Tony Prabowo, yang dipentaskan pertama kali di Amerika Serikat, tahun 2000.


Goenawan Mohamad adalah nama yang sangat menonjol dalam dunia kepenulisan Indonesia. Dalam pengantarnya, Nirwan Ahmad Arsuka menyebutkan hanya dua nama dari sangat-sangat sedikit cendekiawan kontemporer Indonesia yang memiliki konsistensi dalam menulis, dalam kuantitas dan kualitas, yakni Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Penilaian yang menempatkan keduanya di puncak kebesaran penulis Indonesia ini memang bisa kita terima. Jika pun harus dibandingkan, yang membedakan dari dua tokoh besar ini bisa jadi adalah pada tataran “ekstra-estetik” semata. Pram dikenal sebagai novelis dengan sekian atribut politisnya, realisme-sosialisnya—yang memunculkan sekian polemik dan perdebatan, yang dimusuhi dan juga dipuja-puja banyak orang, sedang GM dikenal sebagai penyair dan esais—dunia sunyi yang jauh dari perbincangan umum.


Sebagai penyair, GM adalah penyair yang menulis berdasarkan pengetahuan dan intelektualitas, bukan sekadar penyair alam dengan haru-biru perasaan belaka. Ini dapat dilihat pada dua tulisannya, “Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang” dan “Kesusastraan, Pasemon”, yang bisa dianggap sebagai kredo dan konsep kesastrawanannya. Jika dalam esai pertama GM memposisikan dirinya sebagai Malin Kundang, personifikasi dan pencarian jati diri yang bersifat personal, maka dalam esai kedua GM menerakan posisi pribadinya dalam konteks yang lebih luas lagi, yakni pemahaman betapa pencarian dan pertanyaannya adalah juga bagian dari pertanyaan dan pencarian bersama, kehidupan lokalitasnya, secara geografis, bahasa, budaya, berhadapan dengan kultur yang lebih luas, yang bersifat regional dan nasional atau pun global. 


Dua esai ini menguak usaha GM memposisikan dirinya sebagai penyair, yang mencoba melepaskan diri dari belenggu-belenggu lingkungan dan mengembara ke dunia luas. Spirit kepenyairan yang demikian ini terbawa pula dalam setiap tulisannya, esai-esainya memaparkan keragaman yang teramat kaya: geografi, sejarah, pemikiran, peradaban, dan kebudayaan universal. Yang harus buru-buru ditambahkan, GM tidak meninggalkan bahkan menggeluti tema dan pemikiran lokalitasnya, tradisi dan budayanya sendiri, dengan keseriusan yang sama tinggi sebagaimana ia secara piawai merambah berbagai pengetahuan pemikiran dan peradaban budaya dari berbagai penjuru dunia. Dalam aspek struktur dan bahasa, dunia kepenyairan dan kesastrawanan tersebut memunculkan tulisan dan esai—juga dalam penulisan jurnalistik di media-media yang dipimpinnya—yang jernih dan lentur, yang meleburkan batas-batas bahasa puisi dan prosa, lisan dan tulisan, dan dengan pemakaian kosakata dan struktur kalimat yang bernas, yang membuat bahasa Indonesia terasa demikian kaya dan hidup.


Demikianlah, Goenawan Mohamad adalah nama yang memiliki tempat tersendiri dalam dunia kepenulisan kita, terutama lewat esai-esai di kolom Catatan Pinggir majalah Tempo. Dengan konsistensi yang luar biasa, selama lebih dari seperempat abad, dan terus berlanjut sampai sekarang, esai-esai pendeknya hadir nyaris setiap minggu. Tentu saja, hal ini bukan sekadar persoalan kuantitas. GM menuliskan beraneka tema yang sangat kaya dalam bahasa Indonesia yang berkualitas. Bisa dikatakan, Catatan Pinggir menjadi sebentuk genre tersendiri dalam penulisan esai di Indonesia, melekat erat menjadi bagian dari kreativitas personal GM. Setelah dibukukan secara kronologis dalam empat jilid, sekali ini Catatan Pinggir dikompilasikan lagi dalam format yang lebih eksklusif menjadi semacam kumpulan esai terpilih dalam buku Kata, Waktu; Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001. Sebagaimana dipaparkan dalam pengantar, Buku ini merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh Nirwan Ahmad Arsuka atas hampir 1.000 esai pendek GM dari 1960 sampai 2001. Ada sekitar 650 tulisan terpilih, sebagian sangat besar berasal dari Catatan Pinggir, ditambah dua esai panjang, tentang Malin Kundang dan Pasemon sebagaimana telah disebut di muka.


Dialog dan percakapan yang akrab atas segala hal, monolog dan pertanyaan yang meninjau ulang sesuatu, paparan dan penghormatan terhadap tokoh atau seseorang, peringatan dan kenangan peristiwa-peristiwa, warna-warni dunia, di setiap tempat, di suatu waktu. Semacam itulah yang ditawarkan GM lewat esai-esai dalam buku ini. Ia menuliskan bolak-balik antara yang konkret dan yang abstrak; sesuatu yang riil dan nyata bisa ditariknya dalam refleksi-refleksi abstrak, sebaliknya suatu idea dan dunia gagasan bisa didekatnya sebagai bagian dari keseharian kita. Sekali waktu disebutkannya tokoh-tokoh terkemuka dunia berjejer dengan nama seorang dari kaum jelata atau tokoh fiksi-fiktif; suatu peristiwa di satu dusun kecil entah di mana bisa dijalinkannya sebagai bagian dari sejarah besar yang teramat penting dalam perjalanan peradaban umat manusia; kemudian sebuah baris sajak dipadankan dengan traktat politik dan komando kekuasaan; sebaliknya, dipaparkan pula cerita kecil tentang kaset video, sebuah patung, bis kota bobrok, atau lalat.


Esai bertanggal 12 Mei 1979, “Kepada Anak yang Sedang Tidur”, bisa dijadikan contoh bagaimana kekhasan GM menulis. Ia membuka esai itu demikian: Tidur, anakku, akan kubacakan sepucuk surat ke dalam mimpimu. Sebab tahukah kau apa yang saya pikirkan di samping tempat tidurmu? Tahukah kau apa yang ingin saya katakan, setelah kau lelap, dan lampu padam di kamar ini, dan nyamuk mulai terdengar desingnya? Ia melanjutkannya dengan mengutip ungkapan Rabindranath Tagore tentang anak, bahwa setiap anak adalah suatu pesan betapa Tuhan belum jera dengan manusia. Dari sini, GM memunculkan pertanyaan-pertanyaan kepada kita semua. Dengan ilustrasi betapa sekian banyak bayi lahir setiap menitnya, apakah kesemua mereka membawa pesan yang sama? Bahwa Tuhan belum jera dengan manusia, meski kemiskinan dan kelaparan ada di mana-mana, kematian dan kemalangan bisa menjumpai siapa saja? Bagaimana dengan persoalan moralitas dan pilihan ketika setiap anak, setiap manusia, mesti berebut masa depan mereka masing-masing? GM dengan apik menutup pembahasan atas kecemasan atas kehidupan yang carut-marut ini dengan semacam renungan kepasrahan, atau kerelaan menghadapi tantangan hidup yang demikian itu, dengan kalimat ini: Maka lebih baik kuletakkan saja tanganku di rambutmu, dan berharap. “Datanglah dan duduklah dalam haribaan yang tak berbatas, anakku.”


Di tangan GM, tidak ada hal yang sia-sia dan percuma, bahkan dalam hal-hal yang remeh sekali pun. Menyitir baris-baris sajaknya, sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini, segala apa di dunia ini mungkin retak dan tidak sempurna, tetapi manusia memiliki akal dan pikiran yang bisa memberikan harga dan makna sedalam-dalamnya. Di sinilah buku ini layak dibaca, dengan pembahasan yang sahih, bersama referensi-referensi pendapat dan pemikiran dari berbagai-bagai sumber, segala sesuatu memiliki tempat dan harganya masing-masing, memiliki keabadian-keabadiannya sendiri. Dengan ke-Malin Kundang-annya, GM melihat, membongkar, dan mempertanyakan kembali berbagai hal yang ada di lingkungannya. Miisalnya, pembahasan yang memperbandingkan ajaran Marx, Lenin, dan Wulangreh (h. 107); tentang Timur Leng, Kolonialisme Barat, dan Amangkurat (h. 205); Bung Karno dan Pasar Ikan (h. 319); Pancasila, Karl Jaspers, Sokrates, Budha, Konfusius, dan Yesus (354); Alexander Agung, Anjing, dan Matahari; Seks dan Ajisaka (518); dan seterusnya.
Membaca Kata, Waktu adalah membaca mozaik-mozaik. Galibnya sebuah kumpulan tulisan lepas, kita bisa membacanya secara bebas dan terbuka—setidaknya agar kita tidak buru-buru ‘ngeri’ dengan ketebalannya yang lebih dari seribu lima ratus halaman ini, apalagi dengan kertasnya yang tipis-menerawang dan lay-out perwajahan yang kurang menguntungkan. Kita bisa membaca berurutan mengikuti kronologi penyusunan tulisan berdasarkan waktu publikasinya, bisa pula memulai dan membukanya dari bagian mana saja. Kata, Waktu menjadi buku yang sangat berharga bagi pembaca Indonesia. Dengan kekuatan bahasa yang mempesona, GM mengajak kita menelusuri berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia dan dunia, klasik maupun kontemporer. Ia memberikan kajian yang bernas dan mematangkan atas sejarah peradaban manusia, tentang puisi, politik, religi, seni dan budaya, tokoh, pewayangan; tentang penindasan dan pembebasan; tentang rezim, korban, dan—barangkali juga—masing-masing dari diri kita.


Singkat dan pendeknya esai-esai dalam buku ini bisa menjadi kekurangan, bisa pula merupakan kelebihan tersendiri. Ia bisa dianggap tidak lengkap, distorsif, dan—dengan kebiasaan GM untuk mempertanyakan segala sesuatu—seringkali ambigu dan membimbangkan. Akan tetapi, ini bisa juga dinikmati sebagaimana puisi dan ditanggapi menjadi sebentuk sensasi yang menantang kita untuk mencari sendiri datarannya yang lebih luas lagi. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Goenawan Mohamad, kita ditantang menjadi Malin Kundang-Malin Kundang baru di era paska segala posmo ini. [Goen]

Matabaca, vol.1/NO.5, Desember 2002

 


Responses

  1. Jadi semakin penasaran dengan buku ini. Thank for share


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: