Oleh: pinjambuku | 21 September 2007

Meniti Bianglala [The Five People You Meet in Heaven]

Tentang Cinta:
Meniti Cinta, Menelisik Kembali Hidup Kita

 

Judul Buku : Meniti Bianglala [The Five People You Meet in Heaven]
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : April 2005
Tebal : 202 halaman

“Orang-orang asing adalah keluarga yang masih belum kaukenal…. Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya waktu yang sia-sia adalah ketika kita menghabiskan waktu dengan mengira bahwa kita hanya sendirian.”

Ini kisah seorang lelaki bernama Eddie—dan bisa terjadi pada siapa pun, juga kita. Ia adalah seorang pekerja taman bermain yang mati ketika menyelamatkan hidup seorang bocah perempuan dalam satu kecelakaan di salah satu arena permainan yang menjadi tanggung jawab Eddie. Dan kisah ini mengalir melalui dua kutub yang saling berjalinan, antara dunia nyata dan dunia setelah mati. Novel ini memberikan suatu kemungkinan dari pertanyaan tentang alam kematian macam apa yang sesungguhnya dihadapi oleh mereka yang telah mati, dan—lebih dari itu—dunia nyata macam apa yang dijalani oleh masing-masing dari kita. Titik tolaknya adalah, seberapa jauh kita bisa memahaminya, alam setelah mati dan dunia hidup yang nyata ini.

Untuk yang sudah membaca karya Mitch Albom sebelumnya, Selasa Bersama Morrie [Tuesdays with Morrie], buku ini akan memberikan pengalaman membaca yang jauh lebih menakjubkan, sebuah pelajaran tentang makna hidup. Lepas dari urusan penerjemahan bahasa Indonesianya—rasanya, bisa dibikin dengan bahasa yang lebih halus lagi, yang lebih menyentuh, bukan sekadar tekstual, Meniti Bianglala dengan cukup jernih dan hati-hati membongkar bagian-bagian dari kehidupan kita: tentang hubungan anak dan orang tua, tentang pekerjaan, tentang pilihan dan nasib, tentang cinta, tentang pahit dan manisnya kehidupan.

Keseluruhan novel ini sangat layak untuk diambil sebagai bahan reramuan mengolah hidup dan kehidupan. Tentang kerja dan profesi, ada catatan penting tentang harga dari sebuah profesi, terutama pada aspek nilai penting pekerjaan kita bagi orang lain. Apakah kita cukup sekadar melihat pekerjaan dari besarnya upah atau status?—tidakkah akan sangat menyenangkan sekiranya kita bisa memiliki profesi yang bisa memberi bahagia untuk orang lain, untuk memberi makna bagi orang lain? Tentang nasib, adakah kita cukup mengerti apa dan bagaimana kita di dalam keseluruhannya? Tidakkah kita hanya sekadar tahu dari sudut pandang dan pengetahuan kita semata, dan bukan dalam jaringan hidup yang saling mempengaruhi dan kait-mengkait? Soal pilihan-pilihan, apakah kita benar-benar memilih dengan benar, untuk kemudian menyesali pilihan itu—atau kita tidak memilih dan kemudian menyesalinya. kenapa kita tidak membiarkan semuanya berjalan apapun adanya dan kita menjalaninya dengan bahagia?

Adakah yang lebih berharga melebihi cinta? Novel ini secara keseluruhan adalah kisah tentang cinta, bersama pahit dan getirnya, manis dan indahnya. Cinta antara lelaki dan perempuan, anak dan orang tua, kawan dan sahabat, lingkungan dan kenangan, dan lain sebagainya. Tentu saja, bagian terindah dari kisah cinta itu adalah perjalanan cinta sepasang anak manusia. Orang sering mengatakan mereka “menemukan” cinta, seakan-akan cinta sejenis benda yang tersembunyi di balik bongkahan-bongkahan batu. Tapi cinta mempunyai berbagai bentuk, dan tidak pernah sama bagi setiap pria atau wanita. Yang ditemukan orang sebenarnya cinta tertentu. Dan Eddie menemukan cinta tertentu dalam diri Marguerite, cinta yang didasari rasa syukur, cinta yang mendalam walaupun tidak menggebu-gebu, cinta yang ia tahu lebih dari segalanya, tidak bisa digantikan oleh apa pun. Alangkah bahagianya, sekiranya kita adalah Eddie, ketika Marguerite, istrinya, dengan lembut berkata, “Aku tahu… bahwa kau sangat mencintaiku.”

Buku ini terutama layak dibaca oleh para dewasa dan mereka yang ingin menjalani hidup dengan lebih dewasa, lebih arif dan bijaksana. Layak juga untuk orang tua yang hendak menelaah kembali hubungan mereka dengan anak-anaknya, atau calon anak-anaknya, dan untuk anak yang ingin mengupas kembali hubungan mereka dengan orang tuanya. Layak juga buat mereka yang tengah mencari dan/atau kehilangan cinta…. [Goen]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: