Oleh: pinjambuku | 23 September 2007

Fira Basuki di Soda Lounge

Fira Basuki di Soda Lounge


Untuk yang kesekian kalinya, penulis perempuan menuliskan berita. Memang, sekali ini bukan dalam arena besar. Tapi, bedah novel Rojak karya Fira Basuki ini bolehlah dibilang lain daripada yang lain. Malam Minggu, 13 Maret 2004 lalu, seorang di antara penulis perempuan kita yang sedang naik daun ini hadir di sebuah kafe, “Soda Lounge” namanya, di Yogyakarta. Ini pantas dicatat, setidaknya untuk lingkungan pembaca buku Yogyakarta. Biasanya, bedah buku dilaksanakan di kampus, pameran buku, ruang kesenian, dan semacamnya. Tapi ini di sebuah kafe, yang lampunya remang dan sewangi kembang.


Galibnya diskusi buku, bedah buku, mestinya porsi tentang buku itu yang harus mengemuka. Tapi, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, tak hanya di negeri kita, bukan buku tapi penulislah yang selalu menarik minat orang-orang. Juga yang terjadi dalam bedah buku ini. Tak apa. Bukankah tidak ada salahnya buku menyebar-menyelusup ke mana pun dan seluas-luasnya pembaca?!


Dipandu dua penyiar radio anak muda yang ceria, ada banyak sisi menarik yang dapat diambil dari acara ini. Misalnya, betapa tulisan-tulisan Fira Basuki cukup berhasil memukau pembacanya, penggemarnya, yang beberapa di antara mereka bahkan mengaku mengidentifikasikan diri, atau serasa berkawan akrab, dengan tokoh-tokoh yang ada di novel-novel Fira Basuki. Seorang yang lain lagi menyatakan salutnya atas kelancaran bercerita dari penulis ini, yang baginya begitu mengalir dan menghanyutkan.


Ada juga memang, yang dengan sengit menyatakan bahwa novel-novel Fira Basuki tidak memberikan sesuatu apa pun, yang kemudian dijawab si penulis sebagai bagian dari keragaman selera—semacam orang yang harus memilih, apakah suka gado-gado atau pizza: jika tidak suka yang satu, ambillah yang lain, katanya.


Pada bagian lain, Fira Basuki yang boleh dikatakan berada dalam arus hidup kosmopolitan ini menyatakan bagaimana dirinya berbangga dengan latar belakang kejawaannya, sebagaimana yang kemudian tertuang dalam tulisan-tulisannya yang seringkali mengutip kitab dan khazanah budaya Jawa. Ia juga mengaku bahwa dirinya adalah pembaca yang kagum pada karya-karya Arswendo Atmowiloto, Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, dan Joko Pinurbo.
Jika boleh disayangkan, ada satu bagian penting yang tak tersentuh dari acara ini: perjuangan. Ya, semuanya terasa manis dan menyenangkan. Para pembaca itu—juga pemandu acara—tak ada yang menanyakan bagaimana proses proses menjadinya sebuah buku, dan terutama bagaimana proses terbitnya buku-buku dari penulis produktif ini. Tidak juga Fira Basuki yang mengaku teramat mencintai dunia menulis ini. Seakan-akan semuanya adalah mimpi yang ketika kita bangun telah tertanam kuat dalam ingatan dan kita tinggal menuliskannya begitu saja untuk kemudian seseorang membawakan naskah kita itu ke sebuah penerbit dan jadilah. Dan terbitlah. Dan larislah. Atau, barangkali, memang demikian, Fira? [Goen]

Matabaca, Vol.2/No.10, Juni 2004


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: