Oleh: pinjambuku | 23 September 2007

Joko Pinurbo: Pacarkecilku

Pacarkecilku
Joko Pinurbo
Magelang, IndonesiaTera, Mei 2002

 

Penyair yang cukup produktif ini kembali menelorkan satu kumpulan sajak terbarunya. Sebagaimana dalam kumpulan sajak sebelumnya, Celana (1999) dan Di Bawah Kibaran Sarung (2001), sajak-sajak dalam Pacarkecilku ini juga kental dengan metafora dan tematik tubuh, yang menurut beberapa kritikus merupakan pembaruan dalam puisi Indonesia. Yang patut dicatat dari kumpulan sajak ini adalah keberanian, atau kejujuran personal—dalam pengantarnya, Joko Pinurbo menyatakan buku ini beriringan dengan 40 tahun usianya dan 25 tahun kesuntukan-berpuisinya—untuk menampilkan bentuk-bentuk pengucapan estetik yang lebih luas. Sajak “Kebun Hujan” dapat dikutip sebagian: Hujan tumbuh sepanjang malam, tumbuh subur di halaman. // Aku terbangun dari rerimbun ranjang, menyaksikan angin / dan dingin hujan bercinta-cintaan di bawah rerindang hujan. // Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan daun-daun hujan / berguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan…. Atau sajak “Di Sebuah Vagina” yang sebagian seperti berikut ini: Vaginamu menyembulkan matahari, menjulurkan bianglala. / Vaginamu menyemburkan debur laut, menghamburkan senja. // Di sebuah vagina musafir-musafir kecil bersorak gembira, / mengiringi matahari ke cakrawala: “Selamat tidur ya cahaya.” …. [Goen]

 ***

PUISI No. 8, Juni 2002


Responses

  1. Siapa Jokpin?</a

  2. Jokpin = Joko Pinurbo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: