Oleh: pinjambuku | 4 Oktober 2007

“Musisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmu….”

Pengamen Agung

Bisa jadi di muka bumi ini hanya di Yogyakarta ada seorang seniman jalanan yang memiliki gelar “Pengamen Agung”. Sujud Sutrisno nama seniman jalanan itu, Sujud Kendang panggilan akrabnya, sesuai dengan alat musik yang digunakannya dalam mengamen. Meski gelar tersebut diberikan “hanya” oleh sesama seniman, atau komunitas seniman tertentu, rasanya spirit yang ada di balik penghormatan tersebut dapat dirasakan oleh orang ramai: Bahwa dunia kesenian tidak mengenal sekat dan batas media, tidak bergantung pada standar kualitas tunggal tertentu, dan terutama tidak harus berada dalam arus utama seni sebagai produk industri.

Apakah yang membuat Sujud Sutrisno, seorang seniman jalanan, layak dan perlu diapresiasi sedemikian tinggi? Pertanyaan ini rasanya layak kita ungkap untuk melihat kembali keberadaan para seniman jalanan di kota kita tercinta ini. Seperti yang kita tahu, pengamen dan seniman jalanan dengan mudah dapat kita temukan di berbagai bagian kota, mulai dari perempatan jalan sampai trotoar pertokoan, baik di halte-halte bis kota maupun di alun-alun, di muka warung lesehan dan pintu pagar rumah kita, bahkan di panggung-panggung kafe kecil atau pun acara kesenian tertentu. Spirit kesenian jalanan ini bahkan merambah ke panggung politik, antara lain dengan lagu-lagu demonstrasi yang menjadi penyemangat para mahasiswa yang melawan pemerintah. Dengan kalimat lain, lagu-lagu jalanan juga memiliki peran dalam menumbangkan rezim orde baru di masa reformasi, terlepas dari kegagalan reformasi mengangkat kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik, lebih-lebih bagi kehidupan para seniman jalanan itu sendiri.

Di sisi yang lain, keberadaan seniman jalanan ini juga tidak selalu diterima secara positif oleh masyarakat. Mengamen bisa jadi dipandang sebagai kamuflase dari para penjahat jalanan, tukang mabuk dan pembuat onar yang mengganggu ketertiban umum. Para pengamen itu hanya dilihat dari perspektif minus, sebagai pembawa sial transaksi jual-beli di kios atau toko kita, perusak suasana nyaman saat kita makan di warung lesehan, penambah ruwet perempatan jalan yang macet oleh penuhnya kendaraan, atau pengganggu tidur siang kita. Profesi mengamen juga ditanggapi secara sinis sebagai lahan pendapatan bagi para pemuda pemalas dan anak-anak nakal. Mengamen kemudian hanya berbatas tipis dengan mengemis, jika yang satu mengail recehan atas nama rasa iba dan kasihan maka yang lainnya bersenjata ancaman dan pemaksaan.

Dalam pandangan yang lebih kritis, seniman jalanan sesungguhnya adalah salah satu cermin dari peri kehidupan bangsa ini, krisis dan persoalan sosial yang layak untuk diangkat dan dipecahkan bersama. Anak-anak jalanan yang mengamen di perempatan jalan bisa jadi adalah korban dari “komersialisasi anak-anak” oleh orang tua mereka atau bahkan korban dari organisasi kelompok kriminal yang memiliki jaringan antarkota, sebagaimana yang terungkap dalam beberapa kasus-kasus penculikan anak. Pemuda-pemuda yang mengamen itu tidak sedikit yang berlatar pendidikan tinggi, yang memilih jadi pengamen karena terpaksa sebab tidak ada lapangan kerja lain yang bisa mereka dapatkan. Mengamen juga menjadi salah satu solusi bagi para mahasiswa rantau yang telat kiriman bulanannya atau bahkan sama sekali tidak ada dukungan dana bagi pendidikan mereka sebab kemiskinan yang mendera orang tua mereka. Tidak sedikit juga dari mereka yang memilih jalan hidup di dunia kesenian yang menjadikan jalanan sebagai ajang melatih dan menempa diri. Menjadi seniman jalanan boleh jadi juga menjadi bagian dari perlawanan mereka terhadap arus budaya yang kian mapan dan memaksakan keseragaman, bahwa orang sukses adalah mereka yang memiliki pekerjaan tetap, berseragam dan berdasi, bergaji besar, sementara korupsi dan kolusi meruyak tak tertanggulangi dan keadilan kian menjauh tinggal jadi harapan.

Apapun adanya, seni dan seniman jalanan adalah bagian dari kehidupan kota ini. Memberi maaf untuk sebagian pengamen yang sekadar “genjrang-genjreng” dan bersuara sumbang, juga untuk ketidaksopanan menadahkan tangan dekil dan tidak mempergunakan sekadar wadah plastik bekas, atau untuk unjuk kemampuan yang tidak kenal waktu dan suasana, rasanya akan membuat hidup kita lebih lapang dan tidak semakin sumpek oleh zaman yang kian memusingkan. Jika suatu ketika kita pergi ke kota-kota lain, yang pengamennya lebih nggegirisi dan menakutkan, atau ketika kita menemu suasana yang anyep, dingin dan beku tanpa suara jalanan itu, ketika itulah kita akan merindukan Yogyakarta yang diramaikan oleh para pengamen jalanan. Maka pada suatu hari kita akan hanyut dalam sebuah nostalgia, sebagaimana terungkap dalam lagu ciptaan Katon Bagaskara tentang kota kita tercinta ini, “Musisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmu….”

–Sempat dimuat di Kompas Jogja, Awal 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: