Oleh: pinjambuku | 4 Oktober 2007

Bumi Tanpa Manusia

Ninok Leksono

Bumi Tanpa Manusia
“Ada yang secara inheren memesona mengenai tempat-tempat yang ditinggalkan, apakah itu keseluruhan kota, seperti kota yang mengelilingi kerangka Chernobyl, (atau) kantong-kantong kota tua yang kembali jadi kawasan rumput seperti di Detroit”.
(Ramsom, penulis blog Mental-floss, 16/7/07, mengawali ulasan tentang buku “The World Without Us”)

Sekarang ini hari demi hari kita banyak mendengar berita tentang kemunduran lingkungan. Hutan tropis menyusut karena dibakar, lapisan ozon berlubang, dan yang terakhir suhu rata-rata permukaan Bumi meningkat dalam fenomena pemanasan global.

Di majalah Discover (Juli 2007), Direktur Pusat Riset Matahari-Iklim pada Pusat Antariksa Nasional Denmark di Copenhagen Henrik Svensmark menyebutkan, Matahari memainkan peranan penting dalam pemanasan global.

Pernyataan yang secara politis dianggap keliru itu memang kontroversial karena terakhir justru makin diyakini bahwa aktivitas manusialah yang berperan besar terhadap terjadinya fenomena yang berpotensi menimbulkan bencana dahsyat pada masa datang ini. Pabrik-pabrik di seluruh dunia yang masih bekerja dengan membakar bahan bakar fosil—yang menyemburkan miliaran ton partikel dan gas karbon dioksida (CO2) setiap tahun—dianggap sebagai biang keladi pemanasan global.

Tampak bahwa di tengah kemungkinan terjadinya ancaman bencana lingkungan yang bisa amat dahsyat di masa depan, umat manusia umumnya masih banyak yang tidak acuh. Sebagian bangsa Indonesia terus melanjutkan kebiasaan buruk membakar hutan, bangsa Amerika dan Australia enggan bergabung dalam prakarsa pengurangan emisi gas rumah kaca.

Para pencinta lingkungan pun gemas. Dalam perasaan frustrasi atas ulah manusia yang bandel ini, sebagian berandai-andai, seperti apa ya seandainya Bumi ini tanpa manusia.

Pengandaian ini salah satunya mewujud dalam buku berjudul The World Without Us (Thomas Dunne Books/St Martin’s Press, 2007), karya Alan Weisman, seorang wartawan. Weisman tampaknya ingin memotret apa yang menjadi kerisauan pencinta lingkungan, yang rupanya juga punya eskatologi—visi dunia yang tidak dihabisi api suci tapi dikembalikan ke keseimbangan ekologis dengan penghilangan spesies paling pengacau.

Spesies itu tidak lain adalah manusia yang kini berjumlah sekitar 6 miliar, yang secara riil bermetabolisme dan bereproduksi, dan (aktivitasnya) mencemari permukaan Bumi.

Boleh jadi saking cintanya kepada Bumi, kini sudah ada kelompok yang menamakan diri Gerakan Pemusnahan Manusia (secara) Sukarela, yang situs web-nya antara lain berisi seruan agar manusia tak beranak.

Menurut buku Weisman, seperti diulas Jerry Adler (Newsweek, 30 Juli), salah satu gambaran masa depan yang dimaksud menyerupai kawasan di sekitar Chernobyl, PLTN Uni Soviet yang pada April 1986 meledak dan menyemburkan awan radioaktif. Kini, dalam radius 30 km dari PLTN itu, tidak ada lagi permukiman manusia. Yang ada hanya hutan yang mulai merambah bekas kawasan permukiman, menjadi kawasan hunian burung, rusa, dan babi hutan.

Imajinasi, dalam wujud eksperimen pikiran, Weisman berkembang lebih luas. Ia sampai pada gambaran bagaimana jika bukan hanya Chernobyl, tetapi sisa dunia lain juga ditinggalkan manusia, bukan karena menjadi korban perang nuklir atau bencana alam lain, tetapi karena memang manusia pindah ke planet lain, atau terkena virus yang memusnahkannya tetapi membiarkan biosfer lain utuh.

Apa jadinya kalau di dunia ini tidak ada yang memadamkan api, memperbaiki bendungan, dan membajak sawah? Apa yang akan terjadi dengan infrastruktur yang telah begitu luas dibangun umat manusia?

Menurut penuturan Weisman, dalam tempo beberapa hari atau minggu, PLTN di seluruh dunia akan mendidih dan berikutnya akan meledak, menghamburkan zat radioaktif. Listrik akan mati. Di Amerika, pompa yang selama ini memompa air agar sistem kereta bawah tanah New York tidak kebanjiran juga mati, banjir pun terjadi. Lantai beton akan membeku dan terlipat.

Beberapa abad kemudian, jembatan baja akan termakan karat. Struktur bangunan batu mungkin akan tinggal paling lama meskipun zaman es berikut akan menyapunya. Patung perunggu, menurut perkiraan Weisman, barangkali masih bisa dikenali 10 juta tahun mendatang, mungkin sebagai artefak terakhir dari peradaban manusia yang paling akhir bisa dikenali.

Nasib biosfer

Pertanyaan berikut yang dikemukakan adalah, “Lalu bagaimana dengan biosfer?” Kalau saja pemanasan global saat itu belum mencapai titik tak bisa kembali, biosfer bisa memulihkan banyak keragaman dan kekayaan yang sebelumnya rusak.

Kalau sebelumnya banyak disebut, bila tak ada manusia kecoak akan menguasai dunia, kini hal itu tak dipercaya lagi. Serangga tropis tak akan kuat menahan musim dingin tanpa pemanas sentral. Tikus dan anjing paling kehilangan manusia karena tikus tak menemui sampah lagi dan anjing tak punya pelindung yang bisa menjaganya dari pemangsa yang lebih kuat.

Sebagian dunia disebut akan muncul menyerupai zona demiliterisasi Korea, yang tidak ada seorang pun yang menapakkan kaki selama lebih dari setengah abad.

Weisman dan orang-orang yang ia tuturi tentu saja amat tertarik dengan skenario semacam itu. Mereka berpikir, karena manusia toh akan menghadapi bencana lingkungan satu hari nanti, mengapa tidak mengambil langkah untuk membuatnya jadi hal baik, dengan Bumi bisa menyembuhkan diri.

Melunak

Meski terkesan ekstrem, sikap Weisman yang terkesan gundah dengan perilaku manusia melunak seiring dengan berjalannya waktu. Manusia dengan segala hal buruknya telah menghasilkan banyak hal indah, seperti arsitektur dan puisi.

Weisman pun akhirnya tiba pada kearifan kompromistis. Ia tidak lagi menggambarkan perginya manusia dari Bumi, tetapi ada kesepakatan di seluruh dunia agar setiap pasangan manusia secara sukarela hanya punya satu anak. Hal itu, menurut dia, akan menstabilkan populasi manusia pada akhir abad ini, yaitu pada jumlah 1,6 miliar. Angka ini lebih kurang sama dengan jumlah penduduk dunia tahun 1900.

Dengan jumlah penduduk yang menyusut tersebut, akan makin banyak bagian dunia yang menyerupai Varosha, kawasan wisata pantai di Cyprus yang menyerupai daerah tak bertuan antara zona Turki dan Yunani, tempat Weisman menulis di antara rumput yang tumbuh liar.

Boleh jadi tanpa manusia alam di Bumi akan tumbuh indah tanpa ada yang mengganggu. Tapi, apa artinya semua keindahan tadi kalau tidak ada yang menjadi saksi? Dalam prinsip antropik menyangkut alam semesta (yang dikemukakan astrofisikawan teoretik Brandon Carter tahun 1973) disebutkan adanya manusia sebagai pengamat semesta.

Dalam konteks buku The World Without Us, mungkin Weisman sekadar mengingatkan implikasi dominansi manusia di planet Bumi. Dengan mengatakan ketiadaan manusia di Bumi karena melanglang ke angkasa, ia seperti menyiratkan, takdir manusia sebagai saksi bagi semesta tetap dihormati, betapa pun sekarang ini ia melihat betapa perilaku manusia demikian meremehkan Bumi.

–dimuat di kompas, Rabu, 25 Juli 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: