Oleh: pinjambuku | 5 Oktober 2007

Dongeng untuk Anakmu

Naga Penjaga Danau

 

Tak ada yang berani macam-macam di Danau Segara. Danau yang luasnya sejauh pandangan mata, yang kedalamannya entah batasnya. Padang rumput hijau bukit-bukit memanjang di utara, rerimbun semak dan pohonan di sisi selatan, di barat hutan rimba raya, dan sebuah perkampungan kecil di tepian timurnya, terbatasi ladang dan huma yang jadi sumber penghidupan orang-orang kampung itu.

Tak ada orang luar yang bisa menjamah danau itu tanpa sepengetahuan dan seizin penghuni kampung itu. Lagi pula, tak ada yang bisa menuju ke sana tanpa melewati pematang sawah dan ladang para penduduk, yang berpetak-petak, dengan pagar-pagar batu dan tanaman, juga kumpulan-kumpulan ternak bertanduk tajam. Tak ada yang menjamin orang bisa keluar dari sana, menemukan jalan pulang setelah menempuh rute yang berkelok-kelok penuh simpang dan tikungan.

—–***—–

            “Aku tak percaya!” seru Bram yang mendengar kisah Reza.

            “Kalau tak percaya, kenapa air liurmu jatuh pengen datang ke sana?” jawab Reza. Teman-temannya yang lain tertawa mendengar olok-olok itu.

            “Kenapa kampung itu dinamakan Kampung Naga? Kampung itu bukan kampung tempat tinggal naga, bukan?!” tanya Ika yang dari tadi matanya membelalak ketakutan.

            “Boleh juga dibilang seperti itu. Karena orang-orang kampung itu seperti para naga yang menjaga Danau Segara. Tapi… itu cerita lain lagi….”

            “Ayo, ceritakan. Ceritakan!” Bahrul, Alfis, dan Abrar serempak berteriak.

            “Bagaimana ya…. Tidak bisa, aku tidak boleh menceritakannya pada kalian.”    “Kenapa? Kamu belum mengarang cerita tentang itu ya?” ejek Bram.

            “Aku tidak boleh menceritakannya! Tetua Kampung Naga melarangku menyebarkan cerita itu!” jawab Reza tampak marah karena dianggap hanya mengarang cerita bohong.

            “Jangan bohong, Reza. Tidak ada lagi wilayah terpencil yang tersembunyi dan tidak pernah didatangi orang luar,” Lena yang dari tadi diam saja ikut unjuk bicara.

Yang lain jadi ragu-ragu, mereka saling pandang dan kemudian menunggu Reza menyanggah ucapan Lena itu. Tetapi, Reza diam saja.

“Iya juga, Za. Aku juga belum pernah mendengar atau membaca kisah daerah itu. Tidak mungkin cerita semenarik itu tidak masuk berita televisi atau koran,” kata Gebby mendukung sanggahan Lena.

Lalu terjadilah kehebohan. Reza mengeluarkan bukti kebenaran, sebuah foto yang menunjukkan dirinya berpose di tepi sebuah danau yang sangat luas. Jauh di belakang tampak perbukitan padang rumput. Dan kabut yang putih memenuhi gambar itu, menjadikannya sangat misterius. Anak-anak berebut dan kemudian bergiliran melihat foto itu dengan mata membelalak dan mulut ternganga takjub.

Tapi Putri tidak, keningnya berkerut. Ia seperti pernah melihat gambar pemandangan itu.

“Kenapa kamu tega sekali, Za?” kata Putri tiba-tiba. Semua memandang putri keheranan. Reza tersenyum-senyum nakal. Anak-anak jadi melongo kebingungan.

Reza mengeluarkan sebuah kertas besar dengan beberapa foto yang menempel di sana. Dibentangkannya kertas itu dan semua jadi bisa melihat rangkaian foto yang ada di sana.

“Ini kan Danau Sunter,” seru Gebby sambil menunjuk foto paling atas.

“Dan ini fotomu… oh, ini perubahan gambarnya… jadi, jadi ini foto yang diolah dengan komputer, heh!” Bram menimpali ucapan Gebby dengan geram.

“Ya, benar,” jawab Reza sambil mengeluarkan sebuah foto besar rombongan kelas mereka berpose ceria dengan latar belakang “Danau Segara”.

“Itu foto kita dari kunjungan ke Danau Sunter bulan lalu, bukan?!”

 “Ya. Ini memang foto yang diolah dengan komputer. Dan, cerita itu memang hanya karanganku saja. Tapi Danau Sunter di masa lalu bisa jadi seindah Danau Segara”

“Lalu?” tanya Lena.

“Aku sedih melihat Danau Sunter yang semakin lama semakin sempit saja. Orang-orang sesukanya menguruk dan mendirikan bangunan, orang-orang membuang sampah seenaknya saja. Seperti kata Bu Guru, semua itu yang menyebabkan banjir melanda kota kita. Ketika aku menceritakan keadaan itu kepada ayahku, dibikinkannya aku foto-foto ini.”

Reza mengeluarkan rangkaian foto Danau Sunter yang telah diubah dengan menggunakan program komputer. Pada foto pertama, tampak rombongan kelas mereka berpose dengan gembira di danau itu, kemudian tampak foto-foto yang semakin lama semakin banyak sampah dan bangunan yang memenuhi danau itu, dan akhirnya foto rombongan kelas mereka yang berpose di atas kubangan kecil air yang hitam tertimbun tumpukan sampah yang menggunung. Terakhir, sebuah foto dari kejadian banjir besar yang melanda kota itu awal tahun lalu.

“Hiii… menakutkan sekali.”

“Mengerikan!”

“Menyedihkan ya… Danau Sunter memang dalam bahaya.”

“Kota kita bisa tenggelam!”

“Nah, mulai sekarang jangan buang sampah sembarangan.”

“Kita hemat penggunaan plastik dan barang-barang yang bisa menjadi sampah!”

“Kita kerja bakti membersihkan sampah!”

Anak-anak berebut mengajukan usul. Semua bersemangat dengan kehadiran foto yang menggugah kesadaran itu. Semua ingin ambil bagian dalam menjaga kelestarian alam. Dan kembali Reza yang kebagian tugas untuk merayu ayahnya agar membuat poster dan stiker untuk disebarkan. Tak apa, Reza akan melakukannya dengan lebih bersemangat. Tentu saja, ada banyak teman yang mendukungnya. Semua harus memberi peran, sekecil apapun itu. Sebab, hanya ada satu bumi, dan seluruh umat manusia wajib ikut menjaga kelestariannya. Semua berhak berjuang untuk keselamatan alam dan lingkungan, yang berarti juga keselamatan dan kelangsungan hidup kita. *****


Responses

  1. membuang sampah pada tempatnya ki cen coro paling ampuh nyegah banjir. Tapi piye carane nyadarke masyarakate


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: