Oleh: pinjambuku | 5 Oktober 2007

Presiden, Raja, dan Rakyatnya

Perjalanan Raja

Beberapa waktu yang lalu, sebuah berita pahit datang dari pojok negeri ini, dari satu wilayah yang sedang terkena bencana tanah longsor. Berita itu dengan jelas mewartakan lokasi pengungsi yang akan dikunjungi presiden mendapat perhatian dan bantuan secara teratur dari pemerintah setempat, sedang titik-titik bencana dan lokasi pengungsian yang lain sudah berhari-hari berada dalam keadaan yang memprihatinkan, sama sekali tidak mendapat perhatian dan bantuan. Jika demikian yang terjadi, alangkah lebih baik sekiranya presiden bersedia mendatangi setiap tempat dan titik bencana, mengunjungi dan menengok para korban itu, rakyat yang tengah menderita itu, tentu segalanya akan lebih baik. Sayangnya, ia hanya datang ke satu lokasi tertentu, dan yang terjadi adalah hanya di satu tempat itu sajalah nasib kaum papa itu mendapat perhatian, sedang para pengungsi lain di tempat lain pun diabaikan.

Mengapa demikian? Sebab perhatian dan bantuan itu diberikan barangkali bukan untuk para korban, tetapi terutama untuk menyelamatkan kedudukan dan jabatan, sebagai unjuk kerja dari seorang pejabat bawahan kepada pejabat di atasnya, yang kemudian memamerkannya kepada pejabat di atasnya lagi, dan seterusnya sampai ke pemimpin tertinggi yang kemudian akan mewartakannya ke media massa bahwa pemerintah telah bekerja. Lagi pula, bagaimana mungkin seorang pemimpin akan melihat kenyataan yang sesungguhnya dari daerah yang dikunjunginya jika segalanya sudah dipersiapkan dengan baik, jika semuanya penuh dengan seremoni, jika skenario acara sudah disusun, dan terutama sebab rakyat yang tengah menderita itu masih harus menerima arahan-arahan berkaitan dengan kunjungan seorang pemimpin, yang tidak ada hubungannya dengan kemalangan yang sedang mereka alami.

Alangkah memilukan nasib rakyat negeri ini, sebab bertemu para pemimpinnya hanya dan jika hanya mereka menderita. Mengapa? Sebab para pemimpin itu sungguh sedemikian sibuk. Dan mereka hanya bisa memaksakan diri untuk mendatangi rakyatnya jika keadaan genting, ketika bencana besar melanda rakyatnya. Tak heran jika kemudian para pemimpin itu kebingungan ketika berhadapan dengan sekian banyak bencana yang datang beruntun dan bersamaan di berbagai tempat. Barangkali kehadiran seorang pemimpin di kala duka memang bisa meringankan beban dan menambah ketabahan sebab ada yang memerhatikan. Akan tetapi, rasanya semua orang lebih memilih untuk tidak mengalami bencana meski itu berarti tidak memiliki kesempatan untuk bertemu para pejabat dan pemimpin negara.

Kiranya tidak berlebihan jika kita merindukan pemimpin yang benar-benar pemimpin. Jika kita kesulitan menemukan sosok pemimpin yang layak kita cintai di hari ini, wajar jika kita kembali bernostalgia ke masa lalu, masa di mana negeri ini memiliki para pemimpin yang patut ditiru dan diteladani. Sultan Hamengku Buwono IX adalah salah satu sosok teladan yang layak kita kenangkan. Alangkah banyak kisah yang bisa diungkapkan untuk menunjukkan kedekatan dan kearifannya dalam memimpin rakyatnya. Dalam kasus kunjungan pejabat tinggi ke daerah-daerah, Sultan memiliki kebiasaan berjalan-jalan menjelajah wilayahnya. Kadang memakai sepeda, kadang jalan kaki, seringkali mempergunakan sebuah mobil antik kesayangannya. Ia melakukannya seorang diri, tanpa ajudan, apalagi pengawalan dan sirene yang memaksa pemakai jalan lain menepi. Ya, ia sendirian saja. Itulah sebabnya ia menemukan kenyataan hidup dari rakyat di wilayah yang menjadi tanggungjawabnya sebagai pemimpin.

Dalam buku P. Swantoro, ada sebuah kisah dari S.K. Trimurti yang memaparkan satu episode hidup Sultan yang menunjukkan betapa merakyatnya hidup raja Yogyakarta ini. Pada suatu pagi, ia membantu seorang perempuan tua yang akan berangkat ke pasar. Dinaikkannya beras dagangan si nenek ke atas mobil, dan nenek itu pun ikut duduk nyaman di dalam mobil itu. Sang raja hanya tahu bahwa nenek itu adalah rakyatnya, dan sang nenek hanya tahu bahwa yang memberinya tumpahan adalah seorang kaya yang baik hati. Nenek itu tidak tahu bahwa laki-laki yang menaikkan dagangannya itu adalah sang raja. Sesampai di pasar, sang raja menurunkan dan membawa dagangan si nenek sampai ke dalam los pasar, sedang sang nenek berjalan di belakangnya sambil menghitung recehan uang yang akan diberikannya sebagai upah kepada lelaki baik hati itu.

Tapi sang raja tidak bersedia menerima upah, dan nenek itu pun menggerutu dan marah-marah. Orang-orang memperhatikan mereka, dan kemudian sadarlah mereka bahwa laki-laki yang sedang dimarahi si nenek itu adalah raja mereka. Raja itu tetap menolak upah dengan bahasa yang sangat halus, untuk kemudian pamit kepada si nenek. Ketika itu, barangkali, pasar mendadak hening, sepi, semua diam, semua duduk dan menyembah sang raja. Pagi yang penuh berkah, kiranya sejahtera untuk siapa saja, demikian kira-kira makna senyuman yang ditebarkan oleh sang raja. Sang raja terus berjalan, tegak dan agung, melewati orang-orang, meninggalkan kesejukan bagi siapa saja. Sang raja berlalu, waktu terus berjalan, dan bertahun-tahun kemudian, bahkan sampai sang raja itu mangkat, kisah sang raja senantiasa ada dalam ingatan orang-orang.

Adakah di masa kini sosok pemimpin yang memiliki keteladanan laiknya Sultan Hamengku Buwono IX? Wacana yang dikemukakan oleh Sultan Hamengku Buwono X untuk tidak bersedia lagi menjadi gubernur seusai masa jabatannya selesai tahun 2008 menarik untuk dimaknai bersama. Boleh jadi, ketika Sultan Hamengkubuwono X benar-benar tidak lagi memegang jabatan pemerintahan administratif yang pastilah sangat menyibukkan itu, Beliau dapat meluangkan waktunya untuk menyentuh kehidupan rakyat Yogyakarta, sebagaimana teladan yang diberikan oleh Sultan Hamengku Buwono IX yang sedemikian dicintai rakyatnya.

–ditulis April 2007, ketika Jogja disibukkan dengan Sultan yang tidak lagi bersedia jadi gubernur….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: