Oleh: pinjambuku | 23 Mei 2008

Tentang Ide dan Gagasan

IDE:Filosofi Gagasan dalam Transliterasi Pluralitas Mondial
Berdasarkan Analisis Sosio-Kultural Baresian Halah*

Anda sedang bingung? Pasti karena sedang kehabisan ide. Ide memang penting, bukan saja untuk ilmuwan dan sastrawan, tapi juga untuk calon ilmuwan dan calon sastrawan. Lhooo….

Iseng-iseng karena kehabisan ide mau menulis apa, saya mencoba mereka-reka ide dan seluk-beluk menggelutinya sampai jadi karya. Karena iseng, sudah tentu bebas saja saya membaca bermacam-macam tulisan yang bisa membangkitkan ide. Nah, ini sudah ketemu satu solusi untuk menemukan ide: membaca. Ya ampuuuun, kenapa membaca selalu jadi pekerjaan yang tidak bisa saya lepaskan? Kenapa saya selalu menemukan alasan untuk membaca? Kenapa membaca selalu bisa menempatkan diri sebagai sosok yang penting dan berguna dan memberi makna bagi hidup saya? Ampun deh, begitulah ulahnya si membaca itu.

Jadi begitu ya? Ide bisa datang tiba-tiba begitu? Seperti ilham yang muncul dengan tak disangka-sangka? Begitu saja? Selesai dong pembahasan kita atas yang namanya ide. Eits, tunggu dulu, kawan. Jangan tergesa. Ide memang gampang datang, mudah pula kita temukan. Tapi, nyatanya kita eh saya sering sekali ketemu waktu yang habis ide hilang kata tak mampu bicara. Jadi, biarlah saya teruskan keisengan saya dengan ide ini. Ya, ya, ya? Tentu saja iya, karena saya dengan gampang akan menemukan ide untuk saya jadikan alasan atas keisengan saya ini. Misalnya, karena saya ingin menulis yang ngawur saja, semau saya, tidak mikir tulisan macam apa yang dicocok-cocokkan dengan kolom koran ini atau itu. Ah, basi ah!

Baiklah, mari kita lebih serius. Ide jelas penting. Tanpa ide, seorang penulis tidak bisa menulis, seorang filmmaker tidak bisa bikin film, seorang desainer grafis tidak bisa bikin grafis, seorang kameraman infotainment tidak bisa nemu posisi yang sip buat ngintip yang rahasia-rahasia dari seorang artis. Bukan begitu, kawan? Jadi, sekali lagi ide yang bisa datang kapan saja dan ada di mana saja itu penting. Masalahnya, bagaimana agar ide yang gampangan itu bisa jadi karya? Berikut ini bisa jadi panduan untuk siapa saja yang sedang kurang kerjaan dan ingin iseng-iseng dengan ide.

Mengalami. Lupakan ide yang bukan pengalaman kita. Jika masih mau nekat untuk mengolah ide dari pengalaman orang lain, lakukan sesuatu sehingga pengalaman itu menjadi milik kita. Kita harus mengalami sendiri pengalaman itu. Bagaimana kalau itu pengalaman yang ngeri-ngeri, seperti selamat dari kecelakaan pesawat terbang? Yaaa, jangan terus kita berusaha jadi pembajak dan memaksa pak pilot mbikin human-eror dong. Biasa-biasa sajalah. Cobalah dengan membaca tulisan-tulisan tentang kecelakaan pesawat. Cara lain, bandingkan pendapat beberapa orang yang memiliki pengalamanyang sama. Hal-hal semacam itu akan membuat ide menjadi bagian dari diri kita. Ide menjadi sesuatu yang kita miliki, kita alami. Ketika itulah ide itu layak untuk kita garap lebih lanjut.

Teropong. Sesuatu yang jauh harus kita lihat lebih dekat, sesuatu yang luas harus kita teliti lebih fokus, yang beraneka perlu kita simak satu demi satu. Ide seringkali berwujud dalam campuran bermacam hal, satu dengan yang lain berdesak-desakan minta perhatian. Gunakan pisau iris untuk mempersiapkan ide menjadi siap untuk diolah, seperti daging yang tak bisa kita masukkan semua ke dalam wajan penggorengan. Seperti kita makan, kita ambil sedikit nasi, sedikit sayur, sedikit lauk, dan sesendok demi sesendok kita masukkan ke dalam mulut. Begitu juga dengan ide. Kita harus bisa memilih dan memilah dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya—kalau kita dikejar deadline atau sedang membaca proklamasi. Kalau tidak, ya pilih-pilihlah dengan baik dan benar, biar kita jadi anak pintar. Biar ide bisa kita olah jadi karya besar.

Sisi lain. Ide seringkali cantik dan seksi seperti seorang gadis, atau ganteng dan gagah seperti seorang cowok. Masalahnya, terlalu banyak orang ganteng dan cantik di muka bumi ini, terlalu berlebih artis sinetron berwajah indo dan berkulit putih sampai penonton (saya!) muak dengan kecantikan dan kegantengan mereka. Begitu juga dengan ide, kecemerlangan tidak selalu berarti mampu menarik perhatian orang lain. Seperti saya tidak pernah tertarik dengan iklan sabun deterjen yang selalu menggembar-gemborkan keputihan dan kecemerlangannya. Apa situ mau dengan kecemerlangan yang sekaligus berpenyakit keputihan? Sebaliknya, tidak selalu yang tidak ganteng dan cantik tidak mampu memikat orang. Jika terpaksa harus mempergunakan ide tentang sosok yang cantik dan ganteng, coba cari bagian yang berbeda dari biasanya. Berpikirlah alternatif, cari sudut pandang yang berbeda. Ini cara mengolah ide yang layak untuk dicoba, setidaknya Cinta Laura juga bisa diorbitkan bukan hanya dari segi cantik dan moleknya, tapi juga pada gaya bicaranya yang bikin “emosi” itu, misalnya.

Beda. Sudah mengalami sendiri, sudah memilih bagian khusus, sudah menemukan yang lain dari yang lain, saatnya menampilkannya dengan cara dan dalam bentuk yang beda dari biasanya. Bikin lain karyamu, biarkan “kelainanmu” itu tampil memikat orang. Terserah, mau liar, nakal, kejam, gila, atau bergaya gembel semau gue. Cuek saja, apakah orang akan kagum atau muntah, setidaknya karyamu yang beda itu sudah membuktikan diri diperhatikan orang lain.

Sabar dan tabah. Iya, sabarlah jika kamu belum juga bisa menemukan dan mengolah ide menjadi karya yahud. Teruslah berusaha dan yakinlah bahwa waktu akan membayar perjuanganmu. Soekarno juga harus berkali-kali dibuang dan dipenjara sebelum bisa mengusir Belanda dan menjadi presiden negeri ini. Nah, kalau kamu sudah berkarya dan memunculkannya ke khalayak ramai, bersiaplah untuk tabah. Kalau kamu berkarya, mungkin kamu akan tenar dan banyak penggemar. Tabahlah, jangan gampang terpikat. Jangan asal main samber. Bisa-bisa masuk infotainment, bisa ancur kariermu nanti. Oke, kamu boleh cuek dengan pemberitaan tidak mutu itu, tapi kalau sibuk pesta dan main gila, kapan pula kamu akan menelurkan karya berikutnya? Wah, bisa-bisa baru mau muncul sebagai seniman garda depan, kamu sudah tenggelam lagi ke dasar kali. Tapi jangan kaget, punya karya belum tentu dihargai baik, seringnya malah kena caci-maki. Bisa jadi malah kena somasi atau didemo FP… eh maksudnya: SBY juga tiap hari ketemu demonstrasi. Jangan menyerah. Tabahlah dan terus berkarya.

*Tulisan ini awalnya diniatkan untuk ditulis dengan serius. Akan tetapi, karena daripada saya sudah lebih dari cukup terkenal sebagai orang yang serius, lebih baik saya menulis dengan tidak serius …. Halaaah!!!


Responses

  1. halo bung…
    check out my blog at http://nagawulan.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: