Oleh: pinjambuku | 23 Mei 2008

Tentang Puisi dan Sajak di Sebuah Blog

Selamat Datang Semangatku Lagi,
Semoga Masih Bisa Terbang Sendirian

Apakah perlu kukatakan, bahwa bukan hanya kalimat, bukan hanya kata, bahkan setiap huruf, setiap ketukan pada tulisan kita menentukan bagaimana orang lain membacanya? Padaku jelas: kesalahan ketikan menjadi salah satu penentu serius atau tidak seseorang menulis. Ini titik mula teknis yang harus dipegang oleh setiap penulis, sebelum ia dapat berkata: aku menulis dengan darah!

Ada banyak hal lain yang menentukan apakah tulisan kita akan dibaca, dan terbaca, oleh orang lain atau tidak: kosa kata, bagaimana kita memilih kata yang baik dan benar dan tentu saja tepat untuk menyampaikan apa yang ingin kita tuliskan dan tepat pula dengan keseluruhan tulisan kita. Sesudah itu, kalimat—atau baris sajak—dan paragraf atau alinea—atau bait.

Apalagi? Apakah puisi? Apakah sajak? Apakah setiap tulisan yang terbagi-terpotong menjadi baris-baris dan bait-bait adalah puisi? Barangkali memang demikian. Tapi menurutku puisi adalah bentuk khusus untuk menyampaikan sesuatu yang khusus, sebagaimana ketika kita memilih kata dan tata bahasa yang berbeda ketika kita berbicara dengan kawan baru, guru, orang tua, atau (calon dan mantan) pacar kita. Bagiku, puisi adalah semacam doa, yang terpilih kosa katanya, yang berbeda dengan rangkaian kata ketika aku bercakap dengan sesama manusia. Dan, kata yang berbeda ini, kata yang terpilih ini, tidak harus menggunakan bahasa asing. Seperti kita berdoa tidak harus menggunakan bahasa Arab, bukan?! Persoalannya bukan pada asing atau bukan asing, tapi pada apakah bahasa itu benar-benar sungguh mampu kita beri jiwa atau tidak. Tidak masalah jika kita menggunakan bahasa dan kosa kata sehari-hari, bahkan “bahasa gaul”, selama tulisan kita hidup dan bersuara, sampai kepada pembaca.

Sampai kepada pembaca. Inilah soalnya. Pada akhirnya, tulisan adalah sarana kita berkomunikasi, pada orang lain atau pada diri sendiri. Inilah yang paling penting yang mula-mula harus kita pegang. Lain dari itu, terserah mau kita bawa ke mana tulisan kita, apakah sebagai karya sastra yang berseni-seni atau pemikat lawan jenis, silakan saja.

Susah? Tidak juga. Ada banyak bagian dari tulisanmu yang punya potensi besar untuk diolah. Sangat menyenangkan membaca repetisi atau ulangan yang ada di sebagian tulisanmu: Biarkan senja hari kemarin tetap terasa hangat /biarkan senja hari kemarin tetap berwarna jingga / biarkan senja hari kemarin menghapus dahagaku. Atau contoh yang lain: dapatkah kau mendengarku jika aku berteriak kepadamu / dapatkah kau mengerti jika aku menangis untuk kamu / dapatkah kau tahu jika tidak ada yang bisa dilepaskan semua tentang dirimu. Juga repetisi pada “aku merindukanmu hari ini” dan yang lainnya.

Repetisi semacam itu menjadi cara mudah untuk mengikat pembaca pada tulisan kita, karena ritme yang kuat dan mampu memberi tekanan makna. Puisi yang baik seringkali dibangun dari aspek repetisi dan irama, sebagaimana puisi sebagian besar berkaitan dengan persajakan atau persamaan bunyi akhir kata.

Masalahnya, repetisi juga bisa menjerumuskan tulisan menjadi membosankan dan gampang tertebak. Membosankan dan terasa tidak kreatif, misalnya dengan berulangnya pemakaian ganti orang: dahagaku-kesendirianku-menemukanmu-penggantimu-blablabla. Dan, yang lebih penting lagi, repetisi ini mestinya bisa memunculkan alur atau arah yang khusus, entah menanjak dan berujung pada puncak emosi atau melingkar dan berpusat pada kedalaman tertentu. Gampangnya, kenapa kita tulis “kemarin-esok hari-hari ini” jika bisa diurutkan “kemarin-hari ini-esok pagi”? Jika bisa kita tulis “pagi-siang-sore-malam” kenapa diruwetkan menjadi “pagi-malam-sore-siang”? Begitu juga dengan perasaan kita yang teraduk-aduk, bukankah ini persoalan yang sudah rumit? Jadi lebih baik kita tulis dalam rangkaian yang lebih jelas: “sakit hati-dendam-hancur-bangkit lagi-harapan baru”, misalnya.

Bagaimana? Masih bersedia “menghitung bintang untuk menghitung abjad-abjad namaku untuk selalu mengingatkanku pada hal-hal yang baik”? Masih mau “mengumpulkan satu demi satu pecahan demi pecahan,kemudian menghapus goresan-goresan kenangan masa lalu”? Jika sudah siap, coba mulai lagi dengan mempertimbangkan bahwa sebanyak apapun abjad nama kita, rasanya milyaran bintang itu lebih baik kita hitung untuk menyadari betapa telah sekian milyar detik hidup yang sudah kita lewati. Lagi pula, sungguh hatimu belum benar-benar pecah berkeping-keping, sebab jika begitu kau tidak bisa—dan tak perlu lagi—menghapus goresan-goresan kenangan, bukan? Ayo, “Selamat datang semangatku lagi / Semoga masih bisa terbang sendirian”!!!

[untuk arief jay “the oephillyac” http://thekerren.blogs.friendster.com/arifjays_blog/poem/index.html]

Arief “AutoZ” Jay

sunset freakz!!!

aku tahu langit sore ini tidak seindah biasa kita melihatnya waktu itu,
tetapi aku bersama kesunyian melukisnya dengan warna jingga dan menambahkan suasana rindu yang selalu mengharapkanmu.
untuk senja hari ini yang tberselimut mendung…

miss you and wish you were here!!!

July 25, 2007

stay at the same…

why this gravity cannot pull me into your soul?
my heart still cold for this question
strange situation comes and make it broken
you and me, cannot melt to be a beautiful harmony
please dont push me to this expectation
confusion still grow on my mind

July 03, 2007

daun

seperti daun-daun pohon ini yang gugur
setiap kenangan adalah petikan dari waktu
dan jejak langkah yang menggores ukiran tentang hidup

May 22, 2007

dive

terbaring di padang rumput hijau.
tertidur berselimut lamunan.
mengingat romansa yang hilang, dan mencoba mengukirnya kembali pada setiap ingatan.
tetapi apa yang kudapat hanya mimpi belaka,bukan sebuah kenyataan yang bisa membuatku selalu tersenyum walau aku berjalan pada rintikan hujan yang sendu.
tapi rasanya tidak ingin terbangun,karena aku merasa bahagia di sini,
tetapi aku jauh dari hidup dan kenyataan dimana aku semestinya berada.

enough!!

February 13, 2007

puisi musim hujan, pertama

februari
1.
mengapa harus mengangis ketika hujan turun?
bukankah dari setiap tetesan satu harapan diucapkan,
dan tetesan hujan itu jutaan.

2.
aku merindukanmu hari ini,
dan terasa bertambah rindu seiring rintikan hujan yang semakin deras dan berat.
aku merindukanmu hari ini,
untuk menghitung bait-bait hujan yang selalu kita ucapkan waktu itu
aku merindukanmu hari ini,
itu saja…
dan hujan belum reda juga

September 28, 2006

shoegaze3

masih menjadi musim gugur,
berangin dan dingin.
duduk sendiri pada sudut sebuah taman,
daun-daun berwarna jingga dan merah runtuh dari pohon terhembus angin melintasi kedua kakiku

berkutat pada keinginan yang sedikit demi sedikit mulai menjadi mimpi
berkutat pada catatan tentang lirik-lirik suram.
berkutat pada rencana-rencana untuk menemukan musim semi yang entah kapan bisa ditemui

September 14, 2006

shoegaze2

aku masih terhanyut dalam praduga-praduga tentang dirimu.
tubuhku terasa cair dan mengalir ,hanyut dalam lamunan tentang dirimu.
membuat harapan yang sederhana karena aku hanya menginginkan itu.
sedehana mengalir dan berjalan apa adanya.
suatu saat kau pasti bisa mengerti tentang harapan-harapanku ini,
dan kau tidak perlu merisaukannya saat ini.

September 02, 2006

shoegazer

melayang diantara tepian mimpi-mimpi
kuhampiri dirimu,kupegang tanganmu,ku ajak kau terbang
menuju mimpi kita tentang langit biru.

aku melihatmu tersenyum sederhana,
kemudian kau memejamkan mata menikmati hembusan angin
dan kita semakin terbang tinggi.

menembus awan,melewati hamparan lapang yang hijau
menukik tinggi

kemudian kita turun pada suatu tempat ditepian danau,pada suatu dermaga kecil
kuambil air dan kubasuh wajahmu dan mengusap matamu
kemudian aku berkata kepadamu,”mari kita bangun istana sederhana di sini”

April 15, 2006

untuk masa lalu

dapatkah kau mendengarku jika aku berteriak kepadamu…

dapatkah kau mengerti jika aku menangis untuk kamu…

dapatkah kau tahu jika tidak ada yang bisa dilepaskan semua tentang dirimu…

dapatkah kau mengerti jika kita tidak pernah menemukan persimpangan yang sama…

dapatkah kau tahu jika aku berdiri didepanmu tanpa suara…

aku tidak pernah tahu tentang dirimu…

~untuk masa lalu

April 11, 2006

so long

salam terakhir yang mungkin sebuah awalan buat aku dan kamu.
untuk waktu sementara mataku ini tidak di izinkan untuk melihatmu.
hanya akan ada imaji semu sebagai  pengganti dirimu.
akan ada saat kita bertemu lagi dengan kabar gembira diantara kita dan kita bisa saling tersenyum.
biar kesepian yang sementara ini datang,dan senja yang biasanya milik kita hanya jadi milikku saja sementara ini dan kamu pasti rindu aku saat bintang-bintang itu bersinar kala senja mulai berakhir.
dan kamu menghitung bintang untuk menghitung abjad-abjad namaku untuk selalu mengingatkanku pada hal-hal yang baik,dan kamu tersenyum,itu pasti…sampai jumpa pada hari ada kebahagiaan datang… dan semoga Tuhan merestui untuk itu…so long…and goodbye…just for a while…

March 19, 2006

senja lagi…senja lagi,bosen ah

aku menantimu bersama senja yang akan segera berakhir.

menunggumu dengan hati yang mengembang.

menahan untuk tidak ada sakit yang pernah membuatku jatuh.

meninggalkan wajah masa lalu yang menakutiku setiap malam dan ingin mengganti dengan wajahmu yang berseri pada setiap sudut lamunanku.

tapi saat ini aku masih bertanya kepada senja untuk meyakinkanku bahwa dia akan datang kali ini.

~menggali diriku sendiri mencari semangatku yang telah pergi entah kemana,semoga dia mau membawa kembali semangatku lagi,tapi aku tidak terlalu berharap,yang penting saat ini aku sudah memiliki sedikit semangat yang dia bawa untuk aku,he he he~

March 08, 2006

senja,aku,dan kamu

biarkan senja hari kemaren tetap terasa hangat

biarkan senja hari kemaren tetap berwarna jingga seperti kesukaan kita

biarkan senja hari kemaren menghapus dahagaku

biarkan senja hari kemaren mengusir kesendirianku

biarkan senja hari kemaren membantuku untuk menemukan dirimu

biarkan senja hari kemaren menghanyutkan kita pada mimpi-mimpi nanti

biarkan senja hari kemaren membuatku tersenyum kembali

biarkan senja hari kemaren tetap sama untuk hari ini,besok,dan sampai Tuhan mengakhirinya

biarkan senja hari kemaren….dan senja hari ini….dan senja untuk hari besok….

September 20, 2005

mencoba memperbaiki hatiku yang telah hancur.

mengumpulkan satu demi satu pecahan demi pecahan,kemudian menghapus goresan-goresan kenangan masa lalu.

tetapi suatu saat sebelum pecahan-pecahan itu terkumpul dan terbentuk kembali, aku memecahkannya lagi.

August 02, 2005

bulan sisa setengah purnama, lelaki tidak jujur pada perasaannya sendiri. masih suka menikmati tusukkan dingin malam,seperti biasa. tidak ada yang berubah pada dirinya,padahal sudah tiga musim lewat. masih ingin mengharapkan kedatangan angin yang dulu yang smoga bisa membawanya terbang tetapi kadang dia masih suka dengan kesendiriannya yang sebenarnya tidak diingini. masih saja terlantun sajak kesunyian dari mulutnya. entah ada apa ini, berharap entah…… hanya malam yang tahu,yang seperti biasa melihatnya menangisi untuk kesekian kali. malam tahu itu, tentang beberapa harapan dan keniscayaannya, mungkin lelaki itu tahu angin yang dulu itu tidak pernah akan datang lagi -untuk nikmatnya malam dan kesunyian dengan sedikit harapan yang entah- ~selamat datang semangatku lagi……semoga masih bisa terbang sendirian~


Responses

  1. salam kenal,puisinya bagus-bagus lo…saya tunggu kunjungan baliknya…Oh ya,gimana kalau kita tukar link?

  2. puisinya sangat bagus…boleh nih gabung membahas sastra…maju terus dunia sastra indonesia…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: