Oleh: pinjambuku | 26 Mei 2008

Sebuah Surat dari Masa Lalu

Buku Sebagai Sayap Kupu-Kupu

Yogyakarta adalah surga bagi para pencinta buku dan bacaan. Ada banyak perpustakaan dengan beraneka koleksi yang berbeda satu dengan yang lain bisa diakses oleh pencinta buku di kota ini. Toko-toko buku tersebar di mana-mana, baik itu toko buku besar atau pun kecil, juga lapak-lapak penjualan buku bekas. Agenda-agenda perbukuan, bursa buku, diskusi, pementasan dan peluncuran buku, sering sekali dilaksanakan. Media massa dan penerbitan buku juga memberikan ruang yang sangat besar bagi para mahasiswa dan anak-anak muda untuk belajar, untuk mengembangkan kemampuan membaca dan menulis. Di kota inilah saya benar-benar menemukan surga akan bacaan. Hingga kini.

Membaca dan menulis adalah aktivitas budaya yang bergerak pada aras pikiran, berjejak menjadi kebiasaan, dan bermuara pada jiwa. Budaya membaca dan menulis memiliki posisi yang sangat penting, yakni sebagai gerbang menuju peradaban yang lebih baik, sebagai penyelaras jiwa agar lebih bijaksana, sebagai bagian dari upaya membangun manusia yang cerdas dan kompetitif, pembangunan manusia seutuhnya, sebagaimana tujuan pendidikan Indonesia.

Membaca dan menulis sesungguhnya bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan masa kini. Membaca dan menulis adalah dasar dari seluruh jenjang pendidikan. Siapa saja yang akan dan pernah menempuh jenjang pendidikan mula-mula akan mempelajari kedua kemampuan ini. Akan tetapi, kemampuan membaca dan menulis pada pendidikan semacam ini adalah kemampuan teknis, yang bersifat praktis, dan belum lagi diarahkan pada ranah pemikiran dan ilmu pengetahuan. Ringkasnya, pendidikan Indonesia belum memberikan landasan filosofis yang dapat menjadi titik tolak bagi budaya baca-tulis yang berkarakter, sebagai pembangun jiwa manusia seutuhnya sebagaimana yang diharapkan dari pelaksanaan pendidikan nasional. Demikian pula dengan budaya masyarakat yang masih belum memberi tempat yang cukup layak bagi perkembangan tradisi baca-tulis yang baik.

Dalam lingkup yang lebih luas, budaya baca-tulis, sebagaimana tercermin dalam perkembangan dunia penerbitan—buku, koran, majalah, media massa cetak pada umumnya, masih sangat memprihatinkan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Terutama dalam perkembangan bidang penerbitan buku, Indonesia masih sangat jauh dari taraf ideal untuk mencapai standar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana negara-negara lain. Secara kuantitas, jumlah judul buku dan cetakan yang dihasilkan setiap tahunnya masih sangat jauh dibandingkan jumlah penduduk. Sedang secara kualitas, masih sangat sempit tema-tema yang dibahas dan ditulis menjadi buku, selain rendahnya mutu tulisan dari buku-buku yang telah diterbitkan. Dari sisi pembaca sendiri, minat baca dan daya beli atas buku-buku yang diterbitkan juga masih sangat rendah. Oleh karena itu, berbagai program yang dapat memajukan budaya membaca dan menulis, yang dilaksanakan oleh siapa pun dan di mana pun, sangat perlu dilaksanakan dan didukung, termasuk “Sekolah Membaca-Menulis (SMM)” di Banda Aceh ini.

Saya mengajukan diri sebagai fasilitator “Sekolah Membaca-Menulis (SMM)” di Banda Aceh ini pertama-tama karena saya adalah pembaca dan pencinta buku. Minat saya akan bacaan ini bisa saya runut sejak usia sekolah dasar. Masa kecil saya berada di lingkungan pedesaan yang tidak memiliki suasana kondusif bagi minat membaca. Akan tetapi, ayah saya—seorang guru sekolah dasar— seringkali membawa pulang koran harian lama dan majalah anak yang dijatahkan untuk sekolahannya. Koran bekas dan majalah anak inilah yang menjadi awal perkenalan saya dengan bacaan. Sesudah itu, saya mendapat kesempatan untuk mengakses buku inpres perpustakaan sekolah yang tersimpan di rumah seorang teman—ayahnya adalah kepala sekolah sebuah sekolah dasar. Begitulah, ketika itu—mungkin juga sampai kini—tidak ada perpustakaan di sekolah dasar di pedesaan; buku-buku inpres yang dijatah dari pemerintahan pusat berhenti di rumah guru atau kepala sekolah—mungkin karena tidak ada ruangan yang cukup aman untuk menyimpan buku di sekolah, atau karena tidak ada yang bisa diserahi tugas untuk mengelola perpustakaan sekolah.

Setelah lulus dari tingkat sekolah dasar, saya menjadi siswa sekolah menengah pertama, yang sayangnya juga tidak memiliki perpustakaan. Ada sedikit koleksi buku perpustakaan tapi tidak ada guru atau staf sekolah yang mampu atau mau mengelolanya. Hanya pada saat-saat tertentu, mungkin ketika datang kepala sekolah baru—dengan program-program ideal yang coba diterapkan, atau ketika akan ada inspeksi dari instansi di atasnya, buku-buku yang tidak seberapa itu dipinjamkan kepada siswa. Perpustakaan sekolah hanya meminjamkan buku tidak lebih dari sekali dalam setiap semester, yang bisa jadi adalah saat yang paling menyenangkan dari masa SMP saya. Ketika itu, saya mengakses bacaan dari sebuah taman bacaan—yang hidup hanya seumur jagung, dengan koleksi novel-novel remaja dan dewasa, komik, majalah populer, dan semacamnya. Pada masa ini saya mulai menyisihkan uang saku untuk sesekali membeli koran harian atau mingguan dan majalah-majalah anak dan remaja.

Masa SMA adalah masa ketika saya memiliki akses besar terhadap bacaan. Perpustakaan sekolah tertata dengan baik—lagi pula sebagian besar siswa hanya meminjam buku-buku pelajaran, sedang buku-buku lain, seperti buku sastra, ilmu pengetahuan populer, sejarah, agama, tidak banyak yang meminjam—jadilah saya tidak harus antri untuk meminjamnya. Di SMA yang ada di ibukota kabupaten ini pula saya semakin mengenal beraneka bacaan di taman-taman bacaan yang pada masa itu masih cukup marak di kota-kota kecil—antara lain meminjam-sewakan novel-novel silat, cerita detektif, dan roman petualangan. Di ibukota kabupaten ini, saya kemudian mengenal pasar loak buku-buku lama, yang menjadi tempat mengasikkan untuk menyalurkan minat membaca saya.

Minat besar saya pada dunia membaca ini mengarahkan saya untuk memilih kuliah di jurusan Sastra Indonesia UGM, Yogyakarta. Saya berharap bisa mendapatkan pengetahuan di bidang kepenulisan. Meski ternyata harapan saya itu jauh panggang dari api—karena sama sekali tidak ada mata kuliah yang mengajarkan kemampuan menulis di jurusan Sastra Indonesia UGM pada masa saya kuliah, saya tidak menyesali pilihan ini. Fakultas Sastra, dan lebih luas lagi kota Yogyakarta, adalah surga bagi para pencinta buku dan bacaan. Ada banyak perpustakaan dengan beraneka koleksi yang berbeda satu dengan yang lain bisa diakses oleh pencinta buku di kota ini. Toko-toko buku tersebar di mana-mana, baik itu toko buku besar atau pun kecil, juga lapak-lapak penjualan buku bekas. Agenda-agenda perbukuan, bursa buku, diskusi, pementasan dan peluncuran buku, sering sekali dilaksanakan. Media massa dan penerbitan buku juga memberikan ruang yang sangat besar bagi para mahasiswa dan anak-anak muda untuk belajar, untuk mengembangkan kemampuan membaca dan menulis. Di kota inilah saya benar-benar menemukan surga akan bacaan. Hingga kini.

Kecintaan akan buku dan bacaan, bagi saya, adalah dasar pertama dan utama bagi siapa pun yang akan menyebarkan minat baca dan tulis kepada orang lain, lebih-lebih dalam bentuk program “Sekolah Membaca-Menulis (SMM)” yang akan dilaksanakan di Aceh ini. Tentu saja, kecintaan akan buku dan bacaan saja belumlah cukup. Ia harus memiliki pengalaman praktis di bidang baca-tulis. Saya mengajukan diri menjadi fasilitator dalam program “Sekolah Membaca-Menulis” karena saya memiliki pengalaman bekerja di bidang kepenulisan dan penerbitan. Semasa mahasiswa, saya menjadi pengurus himpunan mahasiswa jurusan, yakni di bidang penerbitan, dengan tugas antara lain mengelola majalah dinding dan berkala independen. Tugas ini juga saya jalani ketika saya aktif di komunitas seni dan budaya di tingkat universitas. Ketika mahasiswa ini, saya mulai belajar menulis dan dimuat di media-media kampus dan media massa umum lokal di Yogyakarta. Saya merambah beragam jenis penulisan, baik artikel, resensi, cerpen, maupun puisi. Beberapa puisi saya memenangkan penghargaan dari lomba penulisan puisi tingkat lokal, juga sebuah naskah lakon saya menjadi salah satu naskah yang terpilih menjadi wakil Yogyakarta dalam sebuah festival kesenian mahasiswa tingkat nasional.

Dalam bidang penerbitan, saya pernah bekerja di beberapa perusahaan penerbitan, baik sebagai tenaga lepas maupun pegawai tetap. Dalam bidang penerbitan ini, saya terutama bekerja sebagai editor. Pekerjaan penyuntingan di dunia penerbitan memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya, lebih-lebih karena saya juga pernah menangani bidang produksi dan pemasaran, juga penelitian dan pengembangan. Meski hanya sekitar lima tahun, pengalaman saya di dunia penerbitan ini memberikan wawasan yang cukup luas, yang jauh berbeda dengan pengalaman pada masa kuliah. Di lembaga penerbitan tempat terakhir saya bekerja, saya tidak hanya mempelajari hal ihwal penerbitan buku, tetapi juga penerbitan majalah dan jurnal. Pada penerbitan majalah, saya menjadi tim persiapan penerbitan majalah dan kemudian menjadi staf redaksi “Matabaca” selama dua tahun, dengan tugas antara lain menulis kolom dan artikel-artikel yang dibutuhkan sesuai dengan tema utama tiap-tiap edisi, melakukan reportase dan wawancara, memilih dan mengedit naskah-naskah masuk yang akan dimuat, juga mencari materi tulisan dan ilustrasi dari penulis-penulis lepas.

Alasan ketiga mengapa saya mengajukan diri sebagai fasilitator program “Sekolah Membaca-Menulis” ini adalah pengalaman saya menangani komunitas pembaca. Di bidang ini, secara otodidak saya menata dan menyusun program pengembangan komunitas pembaca, antara lain melalui acara-acara perbukuan—peluncuran dan diskusi buku, pementasan karya-karya yang diambil dari buku, dan lain sebagainya. Mengelola komunitas pembaca juga memberi pengalaman komunikasi dengan pembaca, atau peserta acara, yang juga saya dapatkan dari aktivitas saya di kelompok-kelompok teater semasa mahasiswa. Saya juga memiliki koleksi buku yang cukup memadai, terutama buku-buku humaniora, yang dapat dijadikan sebagai acuan program pendidikan “Sekolah Membaca-Menulis”, juga sebagai komparasi koleksi buku bacaan dan dalam pengembangan komunitas membaca-menulis di Banda Aceh.

Latar belakang berikutnya yang membuat saya mengajukan diri untuk menjadi fasilitator program ini adalah minat saya mengenal masyarakat dan Indonesia dalam arti yang seluas-luasnya. Bekerja di lapangan, mengenal orang-orang baru, menjalin relasi dengan kalangan yang seluas-luasnya, saya yakini menjadi salah satu kunci bagi pengembangan wawasan dan kepribadian saya. Selama ini, saya telah menjalin interaksi dengan para penulis, editor, pekerja perbukuan, dan aktivis seni dan budaya di Yogyakarta dan daerah lain, yang bisa jadi berguna bagi pengembangan “Sekolah Membaca-Menulis” ini. Saya juga memiliki pengalaman bekerja dalam program-program sosial-humaniora, termasuk juga bekerja di lapangan, bersama tim baru di wilayah baru.

Yogyakarta, 3 Oktober 2006


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: