Oleh: pinjambuku | 26 Mei 2008

Susah Jadi Manusia

Berhenti Berpikir, Bertindaklah!

Susah jadi manusia. Ada begitu banyak standar nilai yang harus dipenuhi. Ada banyak kepentingan yang harus jadi bahan pertimbangan. Apapun yang dilakukan, seribu satu sudut pandang harus diperhitungkan. Begini salah, begitu salah, tapi tidak begini dan begitu juga bisa salah. Begini benar, begitu juga benar, jadi yang mana yang lebih benar? Begini salah tapi tidak apa-apa, begitu benar tapi bisa jadi masalah, jadi yang benar mana yang salah mana? Benar-benar susah jadi manusia. Hidup adalah dilema.

Itulah mengapa tidak banyak orang yang bisa meraih kesuksesan. Sebab, menurut banyak kutipan, hanya mereka yang berani mengambil resiko yang bisa mendapatkannya. Dan tidak banyak orang yang bisa seperti itu. Pengusaha salah satu jenis profesi yang menuntut kemampuan seperti ini, sekaligus profesi yang berhasil memanfaatkan tuntutan ini. Mereka, para pengusaha itu dengan berani mengambil beraneka resiko di beragam situasi. Dan mereka mendapatkan imbalan, keuntungan dari usahanya itu. Jika pun ternyata gagal dan merugi, para pengusaha sejati telah memiliki perhitungan yang jelas sehingga mereka dapat segera bangkit lagi. Setidaknya, mereka akan terus maju untuk menerima tantangan resiko berikutnya, sampai kesuksesan mereka dapatkan.

Sementara para pengusaha sibuk bekerja, sebagain besar orang lainnya sibuk menimbang-nimbang diri, apakah mereka harus menggunakan standar nilai yang itu atau yang ini? Apakah memakai sudut pandang A atau B? Apakah kepentingan saya terpenuhi tanpa mengganggu kepentingan dia? Bagaimana jika begini dan begitu? Seberapa besar resikonya? Blablabla….

Mengapa kita tidak memakai paradigma pengusaha sejati? Karena kita tidak pernah dididik dengan pola pikir pengusaha. Kita terdidik dalam tradisi pegawai negeri, yang bekerja dari jam sekian sampai jam sekian dan tanggal sekian dapat gaji sekian. Kita terbiasa hidup dengan budaya lama yang memiliki tingkatan-tingkatan struktural rumit tua-muda, panutan-rendahan, kromo-ngoko, yang mengharuskan kita senantiasa mawas menempatkan diri. Kita berada di lingkungan lisan, yang menjadikan ilmu sebagai wahyu, yang melupakan pencapaian-pencapaian masa lalu, yang sejarah tidak pernah dipelajari sebagai pengetahuan tetapi sebagai kisah tahayul dunia hantu.

Apakah pengusaha menjadi satu-satunya jalan untuk meraih kesuksesan? Tentu saja tidak. Yang jadi masalah adalah, kita terlalu sering sibuk dengan pertimbangan dan pemikiran. Kita lebih banyak berhenti pada tataran wacana dan konsep. Memikir dan menimbang memang penting, tapi tidak cukup. Wacana dan konsep jelas dibutuhkan, tapi tidak ada gunanya jika tidak dicoba dan diaplikasikan. Sementara itu, zaman terus bergerak maju, dan hidup semakin menuntut kita untuk bertindak. Segera putuskan atau orang lain yang akan memutuskan, yang membuat kita selalu ketinggalan.

Berhenti berpikir, bertindaklah! Inilah yang dilakukan para pengusaha dan orang-orang sukses. Inilah ajaran yang menguasai kehidupan manusia masa kini. Kita, mau tak mau, harus mengikutinya. Dan kita boleh memilih, apakah akan mengambil resiko untuk meraih keuntungan berlipat di satu sisi dan kemungkinan merugi di sisi yang lain ataukah sekadar menjadi pengikut, jadi konsumen, jadi massa. Jika tidak, kita harus minggir dari arena, kita hanya boleh berdiri di luar pagar kekinian. Berhenti berpikir, belanjalah! Berhenti berpikir, tonton sajalah! Berhenti berpikir, ikuti! Berhenti berpikir, patuhlah!

nb:

Seorang teman, mukri namanya, tidak tahu harus bagaimana. Ia seperti berdiri di atas garis lapangan dan tidak tahu apakah ia pemain atau penonton.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: