Oleh: pinjambuku | 27 Mei 2008

Tentang Seorang Teman

Kawan atau Saingan
——————
>> Anwar Holid

[diambil dari: http://halamanganjil.blogspot.com%5D

‘Kawan adalah orang yang mau memberi tahu bahwa bulu hidung seseorang terlalu panjang.’
—Yuki Tamaen

JULIO DAN TENOCH masuk di sekolah persiapan ke universitas yang sama. Meski latar belakang mereka berbeda, dua remaja ini akrab. Mereka berbagi banyak hal, pesta, liburan, termasuk ganja, kadang-kadang saling meledek penis atau masturbasi bareng membayangkan Salma Hayek. Mereka kerap menghabiskan waktu di rumah Tenoch yang mewah, luas, dan sepi karena ditinggalkan orangtua Tenoch yang sibuk kampanye, aktif berpolitik, atau kegiatan sosial lain. Tenoch berasal dari keluarga kelas atas, keturunan politikus terkemuka; sementara keluarga Julio berasal dari kalangan menengah bawah.

Suatu saat mereka niat liburan ke pantai dengan seorang perempuan lebih dewasa bernama Luisa. Dalam perjalanan itu terbongkar bila mereka ternyata pernah meniduri pacar masing-masing. Awalnya mereka marah-marahan dan jijik oleh fakta itu, tapi lama-lama hal itu malah bisa membuat mereka bergairah, mungkin karena jadi tahu kebusukan masing-masing. Di suatu malam, setelah gila-gilaan membicarakan seks dan masturbasi, ketiganya hendak melakukan threesome. Awalnya Julio dan Tenoch mencumbu Luisa, tapi segera kedua lelaki ini beralih mulai saling mencium penuh nafsu. Esoknya, begitu terbangun, mereka merasa aneh, mungkin jijik, atas perbuatan tersebut, bahkan salah satunya muntah-muntah. Persahabatan mereka langsung janggal. Setelah reuni yang aneh dan kaku di sebuah restoran, mereka berpisah selamanya. Persahabatan itu berakhir, bukan oleh pengkhianatan, melainkan justru karena mereka melakukan sebuah abnormalitas. Septina Ferniati, seorang penulis, menanggapi kisah dalam Y tu mamá también berujar: ‘Begitu orang melakukan hal abnormal, sulit mereka kembali pada yang normal.’

Persahabatan bisa berakhir oleh banyak sekali sebab, termasuk oleh hal sepele, memalukan, dan menyebalkan. Persahatan memiliki banyak aspek, di dalamnya ada cinta, kerelaan, berbagi, persaingan (kompetisi), melengkapi, kritik, dukungan, menajamkan, dan tentu saja konflik. Banyak contoh persahabatan yang sudah berlangsung sangat awet justru di ujung perjalanan berakhir sangat menyakitkan bagi masing-masing pihak. Pikirkan pertikaian Freud dengan Jung, Sartre dengan Camus, Godard dan Truffaut. Tapi perpisahan juga alamiah, apalagi bila alasannya sudah menyangkut perbedaan prinsip, jalan hidup, dan keputusan hanya bisa dibiarkan diambil sendiri-sendiri.

Persahabatan McCartney dan Lennon sudah legendaris. Kata sejumlah penggemar The Beatles, band tempat mereka berinteraksi, McCartney berhasil menciptakan lagu-lagu terbaiknya di era ini karena mendapat sparring partner sekaligus dukungan seimbang dari Lennon. Tantangan dan dorongan itu menyebabkan seluruh energi kreatifnya muncul dalam wujud terbaik. Begitu persahabatan mereka berakhir, karya McCartney di era The Wings dinilai sebagai STD—standard.

KENAPA persahabatan berakhir? Dalam kasus Julio dan Tenoch, mereka malu atas perilaku abnormal. Bila salah seorang gagal menerima orang lain, termasuk orang terdekatnya, ketika itu persahabatan mulai krisis. Tapi kerelaan dan keterpaksaan sulit ditebak kapan muncul, barangkali dari bawah sadar. Berteman butuh tenggang rasa pada individu lain, membiarkan hal-hal yang dibenci tetap bisa ditoleransi sampai akhirnya perasaan itu jadi tawar. Tapi ternyata bukan begitu cara bagus menawar keterpaksaan, sebab perasaan tersebut mengendap di bawah sadar sampai pada suatu ketika gagal ditoleransi dan akhirnya meledak jadi sebuah ‘keputusan’ atau ‘perbedaan yang sulit disatukan.’ Seseorang tentu saja mustahil pernah memperkirakan kapan persahatan bisa berawal dengan manis dan berakhir dengan getir, sebab interaksi antarmanusia kerap terjadi secara alamiah maupun kabur. Orang jarang kritis di awal-awal sebuah pertemanan, tapi bisa begitu nyinyir bila perkawanan sudah berakhir. Ada contoh bagus untuk hal ini.

Damon Albarn dan Graham Coxon berteman sejak usia 12 sampai mereka membentuk Blur, sebuah band yang pernah begitu sukses dalam gerakan Britpop sampai di awal 2000-an. Albarn hanya punya seorang saudara perempuan, jadi selama bertahun-tahun dia menganggap Coxon sebagai saudara lelaki. Ketika pertemanan mereka hancur, dia mengaku, ‘Kacau balau jadinya bila kamu tumbuh terpisah dari seseorang yang barengan tumbuh dewasa bersamamu,’ sambil bilang memang sangat memalukan telah terjadi kegagalan komunikasi dengan Coxon. Tapi Coxon menanggapi kehilangan itu dengan dingin. ‘Aku sungguh orang yang berbeda sekarang,’ katanya.

Di ujung pertemanan dengan Albarn, banyak orang bilang bahwa Coxon terlihat sudah renggang dari teman bandnya baik secara emosional, personal, dan kreatif. Dia akhirnya undur diri dari Blur dengan alasan terkait sikapnya setiap kali menyerah karena kecanduan alkohol; tapi menurut amatan lain, dia kecewa dengan pilihan-pilihan Albarn. Kedua orang ini akhirnya jalan sendiri-sendiri; Coxon bersolo karir sampai akhirnya melahirkan enam album, sementara Albarn tetap berusaha mempertahankan Blur meski kini tampaknya lebih sukses bersama Gorillaz. Menurut Budi Warsito, seorang penggemar Blur di Bandung, jangan-jangan mereka lelah atas popularitas dan memilih mana yang merupakan prioritas masing-masing. Albarn terus menanti agar Coxon kembali karena mengaku ‘ada kekurangan mengerikan’ atas ketiadaannya, terlebih bila sedang manggung—sementara peran dia tak tergantikan. Tapi harapan itu sia-sia. ‘Aku sama sekali tidak berhubungan lagi dengan Albarn dan rasanya baik-baik saja. Ini bukan seperti Albarn dan aku pernah jadi teman terbaik lalu berakhir karena bertengkar hebat,’ katanya. Yang pasti, Coxon kini lebih memilih proyek solo, keluarga, istri dan anak—meski diberitakan tak seorang pun yakin apa yang sebenarnya memotivasi dia terus membuat album solo.

PERTEMANAN bisa jadi amat rumit justru bila kondisi itu sempat mencapai puncak keakraban namun ketika terjadi konflik atau perbedaan gagal diatasi. Pikirkan persahabatan Anakin Skywalker dan Obi-Wan Kenobe dalam epik Star Wars. Meski Anakin makin berpihak pada kegelapan dan kalah tarung, toh Obi-Wan takut membunuh dia. ‘Kamu seperti saudara bagiku,’ teriak Obi-Wan meninggalkan Anakin yang terkapar hancur, berharap dia mati oleh alam atau keadaan. Tak pernah dia sangka bila suatu ketika ternyata Anakin menjelma jadi Darth Vader dan malah membunuhnya.

Bila berteman, seseorang akan didukung bahkan untuk angan-angan yang buruk; bila bukan teman, dia akan digoyah atau ditakut-takuti termasuk atas keyakinan yang paling ultima. Orang cenderung suka menceritakan atau memilih teman-teman dekat, menganggap apa pun yang mereka lakukan mulia, agung, penuh makna, bahkan kerap dengan nada berlebih-lebihan; mengabaikan yang jauh dari lingkaran pertemanan, mengecilkan peran mereka. Ada kecintaan, kedekatan, penghormatan, juga prioritas, yang membuat standar dan nilai jadi relatif dan berbeda-beda berlaku terhadap individu yang ada di sekitar seseorang. Lama-lama bisa dicurigai bahwa pertemanan bisa melahirkan separatisme. Pikirkan persekongkolan berbuat jahat atau orang yang tega membunuh teman seperjuangan. Dari kondisi semacam itu muncul istilah PMP (‘prend makan prend’, teman makan teman), yaitu ketika persahabatan berakhir, entah karena kecewa, dikhianati, habis ruang buat temannya, atau memang karena sudah selesai.

Yang paling moderat memang membiarkan orang dengan pilihannya, minimal mendukung kebaikan yang lahir dari dirinya, bukan mengikis atau menghembuskan pesimisme. Akuilah kebaikan atau keunggulan itu. Ada banyak contoh juga untuk pertemanan jenis ini. Truman Capote dan Harper Lee bersahabat sejak kecil dan mereka saling tolong berkarya. Capote dikabarkan jadi ghost writer novel To Kill a Mocking Bird, karya Lee yang paling terkemuka. Sementara Lee membantu riset, wawancara, dan pengetikan selama penyusunan In Cold Blood, buku Capote yang paling legendaris. Di ranah filsafat perenial ada Titus Burckhardt dan Frithjof Schuon, dua orang sahabat karib, begitu awet dan akur baik secara intelektual dan spiritual, bertahan hingga Burckhardt meninggal.[]

NOTE: Awalnya tulisan ini dimuat di rubrik ‘kopi ngebul’ suplemen Kampus harian Pikiran Rakyat, pada Kamis, 23/3/06. Bagian akhirnya terpotong karena kurang ruang dan tulisan masih panjang. Ini adalah edisi lengkap. Terima kasih pada Septina Ferniati, Budi Warsito, dan Ifa Misbach yang membaca dan mengomentari draft awal esai ini.

>> Anwar Holid, eksponen TEXTOUR Rumah Buku Bandung.


Responses

  1. Sebenarnya apa sih, arti sesungguhnya dari teman?

  2. Lho, kan Kak Wartax sudah memberi sekian tafsir tentang teman dan pertemanan,
    jadi, silakan saja membandingkan dengan tafsir kita sendiri….
    Punya pendapat dan pengalaman yang berbeda,
    berbagilah kepada dunia,
    dan kita akan bahagia….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: