Oleh: pinjambuku | 28 Mei 2008

Wong Jogja

Kota yang Dicintai

“… Di kereta bisnis dan ekonomi, mereka rebah di sepanjang lorong dan sambungan gerbong. Beralaskan koran, berbantalkan tas berisi pakaian ganti, dihibur oleh suara pengamen dan pedagang asongan yang tiada henti mengusik lelap mereka. Tapi mereka tak peduli, bahkan meski tubuh mereka seakan menjadi keset dan terinjak oleh lalu lalang pedagang dan pengamen itu. Ketika mereka pulang, barangkali mereka terlelap dalam mimpi betapa keluarga tercinta menanti di rumah. Ketika mereka pergi, barangkali mereka terlelap untuk mempersiapkan energi menempuh hari-hari kerja…”

Parameter apakah yang bisa digunakan untuk mengukur seberapa besar sebuah kota dicintai oleh masyarakatnya? Ini pertanyaan yang tidak gampang untuk dijawab. Ada banyak parameter yang bisa digunakan, mulai dari kepatuhan memenuhi kewajiban atas tata tertib dan peraturan-peraturannya, kesediaan untuk terlibat dalam program-program pembangunan, mungkin juga pada rasa memiliki dan kebanggaannya. Ada beragam standar kuantitatif dan kualitatif yang bisa digunakan untuk itu, tapi belum banyak telaah sosial yang mencoba mendekati relasi sebuah kota dan warganya dalam konteks yang lebih intim, kota sebagai objek atau subjek personal, kota yang dicintai warganya.

Cinta seorang anak manusia kepada kekasih tercinta, misalnya, dapat diukur dari kesetiaan atau kesediaan untuk berkorban kepada pasangannya. Bagaimana dengan cinta kepada sebuah kota? Bisakah juga diukur dari tingkat kesetiaan warganya kepada kota tersebut, kesetiaan yang berwujud seperti apa? Kerelaan untuk berkorban seperti apakah yang bisa diberikan oleh masing-masing warga kepada kota mereka tercinta?

Kereta api bisa menjadi salah satu wujud nyata dari betapa Yogyakarta ini sedemikian dicintai oleh warganya. Kita bisa datang ke Stasiun Tugu dan Lempuyangan untuk melihat betapa semua kereta penuh dengan orang-orang yang datang di akhir pekan dan pergi menjelang awal pekan. Jumat malam dan Sabtu pagi adalah saat orang-orang pulang kembali ke kota ini dan Minggu sore atau malam menjadi saat mereka berpisah dengan kota tercinta. Kereta-kereta api sarat penumpang itu memiliki rute Jakarta – Yogyakarta, sebagian berlanjut sampai Solo, Malang dan Surabaya. Ada Fajar Utama, Argo Lawu, Taksaka, Senja Utama, Argo Dwipangga, Bima, dan Gajayana. Setiap pekan, lebih-lebih di hari libur panjang, kesemua kereta itu selalu penuh dengan penumpang.

Benar bahwa sebagian penumpang kereta itu adalah para wisatawan atau mereka yang kebetulan memiliki urusan bisnis atau keluarga di kota ini. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar pengisi gerbong-gerbong kereta itu adalah warga Yogyakarta yang bekerja di kota-kota lainnya, terutama Jakarta. Para pekerja ini menjadi penglajo yang setiap bulan atau, beberapa minggu, atau bahkan setiap satu minggu sekali pulang ke kota ini untuk menengok keluarga mereka.

Tujuh sampai sepuluh jam lebih perjalanan mereka tempuh seusai hari-hari kerja yang melelahkan. Setiap datang, mereka membawa uang hasil keringat mereka untuk diberikan kepada keluarganya. Uang itu menjadi salah satu penggerak penting roda-roda perekonomian di kota ini. Barangkali belum selesai mereka meredakan penat dan letih kerja dan perjalanan itu, satu atau dua hari berikutnya mereka harus kembali menempuh perjalanan yang sama untuk kembali menempuh hari-hari kerja di Jakarta, jauh dari keluarga tercinta.

Belum tentu mereka dapat menikmati kenyamanan selama perjalanan. Kereta-kereta eksekutif semakin mahal ongkosnya, sudah begitu selalu habis tempat duduknya di hari-hari libur itu. Di kereta bisnis dan ekonomi, mereka rebah di sepanjang lorong dan sambungan gerbong. Beralaskan koran, berbantalkan tas berisi pakaian ganti, dihibur oleh suara pengamen dan pedagang asongan yang tiada henti mengusik lelap mereka. Tapi mereka tak peduli, bahkan meski tubuh mereka seakan menjadi keset dan terinjak oleh lalu lalang pedagang dan pengamen itu. Ketika mereka pulang, barangkali mereka terlelap dalam mimpi betapa keluarga tercinta menanti di rumah. Ketika mereka pergi, barangkali mereka terlelap untuk mempersiapkan energi menempuh hari-hari kerja.

Mengapa mereka melakukan semua itu? Mengapa mereka bertahan dengan semua kegilaan itu? Karena kota ini tidak memberikan banyak ruang untuk mereka memperoleh penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarga, itulah sebabnya mereka pergi ke Jakarta. Mengapa mereka tidak membawa keluarga mereka ke Jakarta? Karena biaya hidup di sana mahal luar biasa. Sebagian besar mereka berkata, Yogyakarta adalah kota terbaik untuk kehidupan rumah tangga, untuk pengasuhan anak-anak, untuk pendidikan dan masa depan anak-anak mereka. Sebagian yang lain karena romantisme akan kota tempat mereka besar atau menempuh pendidikan ini. Mereka menghabiskan lebih banyak waktunya di Jakarta. Tapi mereka selalu dan dengan bangga mengaku diri mereka sebagai “Wong Jogja”. Dan semua ini adalah juga sebentuk cinta, sebuah hubungan antara kota dan penghuninya yang lebih dari sekadar urusan KTP atau tata tertib dan peraturan atau ukuran-ukuran formal lainnya.

Alangkah setia mereka pada kota ini. Alangkah besar pengorbanan mereka untuk kesetiaan itu. Alangkah gila rasa cinta mereka pada kota ini. Tapi siapa yang peduli? PT Kereta Api? Tidak. Pemerintah kota? Entahlah….

[dimuat di rubrik “Keliling Kota”, Kompas edisi Jogja, Rabu, 28/5/08]


Responses

  1. hmmm…marahi nambah kangen wae tulisan iki. Aku sering berkhayal aaku punya awan kinton untuk kendaraan nglajo yogya – jakarta. Setiap hari bisa bolak-balik. Cari uang di Jkarta untuk hidup di jogja..hmmm..nyamannya.

  2. Saya lebih menyetujui alasan ekonomi-lah yang membuat para `penglajo` itu rela melakukan itu semua. Buktinya jika kita tanyai satu persatu alasan mereka di Jakarta, pasti alasan pekerjaan mereka di jakarta. Saya rasa jika ada sebuah pekerjaan yang hasil uangnya sama, dan itu ada di kampungnya, maka mereka akan memilih yang terdekat. Saya rasa alasan romantis mereka tentang jogja sebagai sebuah kota yang nggak bakal mereka tinggal pergi sudah larut di tahun tahun pertama mereka ngelajo. Pisss!

  3. wah aku dadi ra iso ninggal’ke jogja,jogja tempat lahirku yg qw cintai,banyak kenangan djogja,jogja banyak orng” ramah” , qw bahagia dpt dilahirkan dijogja
    Aku mencintai jogja

    • aku dulu sangat-sangat adiktif dengan jogja… dan kemudian nasib membawaku pergi jauh.
      nyatanya, benar pepatah orang tua: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung… di mana jua kita berada, ciptakan saja cinta yang bisa bikin kita bahagia…. hehehe, gak nyambung ya….
      yah, bagai ungkapan melo cinta tak harus memiliki, biar tidak di jogja lagi, selama yang baik dan indah dari jogja bisa kita bawa–tentu yang membuat hidup kita positif, rasanya dunia memang tidak selebar daun kelor kok….

  4. wah kulo sampon kangen kalian tlatah ngayogyokarto seng endah, tambah no lagi pirang wulan lho” kiro2 lagi loro setengah wulan’ aku seko NEW YORK-karto…..”,

  5. aku pengen lan kangen karoooooooo lemah sing kanggo nandur puserku yoiku ndeso jogjaku from cah mbantullllllll


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: