Oleh: pinjambuku | 3 Juni 2008

Kisah Cinta Keluarga

Rumah Hari Minggu
——————-
>> Septina Ferniati
http://halamanganjil.blogspot.com/

 

Lelaki membangun rumah, perempuan menciptakan keluarga.
—Anonim, peribahasa Jamaika

RUMAH menjadi pusat aktivitas sehari-hari perempuan sebagai istri, ibu dan diri sendiri dalam memaknai keperempuanan. Ada perempuan yang memberdayakan rumah sebagai tempat kerja atau kegiatan, ada yang menjadikan rumah sebagai tempat tinggal semata. Bau sayur dan lauk segar, aroma kue, teh atau kopi yang menggugah selera biasa tercium dari sebuah rumah keluarga, ditambah celoteh atau pekik jerit anak-anak.

Bagi lelaki, rumah menjadi persinggahan istimewa setelah lelah bekerja seharian. Sebagian besar berharap dapat makan enak sambil melihat anak-istri tersenyum begitu kembali. Sebagian lagi menganggap rumah sebagai hal biasa yang disikapi biasa seperti hal rutin lain.

Sudah sejak hamil saya sadar satu-satunya yang dapat dilakukan agar berdaya guna untuk membantu keluarga adalah dengan bekerja di rumah. Tak terlintas di benak untuk bekerja di luar lagi, karena ingin anak mendapat ASI dua tahun penuh. Pasangan mengilhami untuk menulis dan membantu menerjemahkan. Maka begitulah awalnya. Rumah pun menjadi ajang berkreasi dan berdiskusi tentang banyak hal, meski kadang jadi ajang perselisihan dan kritik yang alot dan pedas.

Rumah bagi perempuan berarti dibangunnya beberapa tradisi dan sistem nilai baru di tengah-tengah keluarga. Sukar melakukannya. Sampai sekarang saya masih takjub dengan keguyuban keluarga besar yang tampak saat berkumpul, dalam suasana senang atau sedih. Dulu setiap Lebaran nenek rajin membuat jejorong (makanan dari tepung beras dan gula merah, diwadahi daun pisang) yang sudah jadi makanan tradisi keluarga. Kami bangga karena sangat sedikit orang bisa membuatnya. Setelah nenek meninggal tradisi jejorong pun tiada, pergi bersama nenek yang sempat putus asa karena tak seorang anak pun mampu membuat kue khas itu. Diam-diam ibu membuat tradisi makanan berbeda. Dia tak pernah lupa membuat sambel buroq berbahan dasar kulit tangkil yang pedas dan enak. Hingga kini tak satu pun di antara anak-anaknya yang mau mengikuti jejaknya membuat sayur langka itu, karena tingkat kesulitan yang tinggi.

Di rumah sendiri segalanya jadi beda. Tidak ada jejorong atau sambel buroq. Lebaran di rumah sepi makanan tradisi turun-temurun itu. Namun ada tradisi baru; menulis, minum jus sebelum sarapan beberapa kali dalam seminggu, membuat spaghetti sayuran sebulan atau dua bulan sekali, menumis kangkung dengan tomat, mengudap tahu atau tempe dengan kecap, mengobrol berjam-jam diselingi perdebatan sengit sesekali dan tradisi lain yang berbeda sama sekali, termasuk cara mendidik anak secara egaliter yang tak jarang menimbulkan masalah.

RUMAH, keluarga, perempuan, tradisi dan sistem nilai menjadi sebuah kesatuan. Kebiasaan baru menghadirkan pengalaman baru. Buat perempuan yang menulis lalu mandek menulis seperti saya, mulai menulis kembali jadi kerja keras yang butuh energi ekstra. Setelah secara berkala sering dipublikasi, mandek menulis tentu membuat gentar. Yang paling terasa, berkurangnya rasa percaya diri, juga ketakutan syaraf menulis hilang karena jarang digunakan dan dilatih. Seorang teman menyarankan agar tidak memaksakan diri, apalagi jika harus mengorbankan kepentingan diri sendiri. Berkacalah pada kekurangan dan kesalahan yang pernah dilakukan, meskipun sulit. Mengikuti sarannya, masa mandek berubah jadi masa membaca, nonton, dan main dengan anak. Entah efektif atau tidak, setidaknya beberapa buku tuntas dibaca, salah satunya bisa diresensi. Setiap menonton, selalu ada satu-dua kalimat mengesankan yang dapat menginspirasi.

Dalam serial Desperate Housewife ada kalimat penutup yang sangat menarik; “Manusia dirancang menjalani segalanya, namun kesepian bukanlah salah satunya.” Mungkin benar. Ketika sepi menyergap, kebanyakan orang menoleh, melawan dan mencari hal lain yang bisa membuatnya terhindar dari kesunyian. Itulah kenapa acara hiburan dibuat, pesta digelar, kesenangan dikejar. Manusia tak tahan kesepian, takut kesunyian. Manusia takut sendiri, diabaikan, ditinggalkan. Sambil mengabaikan suara hati, orang memaksakan banyak hal demi kepuasan semata. Hedonisme ditradisikan. Gila jika ada yang mau memerhatikan orang lain seperti dia memerhatikan diri sendiri. Musykil ada orang mau berkorban demi kepentingan orang lain. Persis ungkapan dalam iklan: hari gini!

Itu sebabnya ada rumah. Rumah berenergi positif jarang membuat orang kesepian. Ada relasi yang kuat dan sehat, intensitas, pencarian jati diri dan makna hidup masing-masing anggota keluarga. Sikap saling menghargai memberi ruang lapang untuk bebas mengatakan pendapat atau menyatakan sikap secara terbuka. Anak diajari kritis. Tidak ada worship, yang ada understanding. Akibatnya anak makin suka protes, kritis sekali. Misalnya tentang baju. Dia menolak dipilihkan, memilih sendiri sambil berkata, “Ibu mah ngatur ya? Aku juga pinter milih baju sendiri.” Jika pilihan corak dan warna baik-baik saja, saya diam. Namun jika bertabrakan atau membuat mata pusing, saya sudah harus belajar lebih hati-hati mengemukakan pendapat jika tidak mau urusan jadi runyam, toh kami ingin dia kritis. Biasanya saya bilang, “Gimana kalau oranye dengan coklat muda? Karena oranye dengan merah hati jadi tampak aneh, kurang pantas.” Biasanya kami berdebat beberapa menit lagi sebelum akhirnya dia nyerah setelah agak marah karena tetap merasa diatur, meskipun dia akui paduan oranye dan coklat cocok.

Ada paradoks menarik; di satu sisi ingin anak kritis, sisi lain sudah ada standar warna dalam kepala. Saya sering bertanya, sebenarnya untuk apa paradoks diciptakan? Apa bukan kebetulan, karena terjadi hampir di semua sendi kehidupan. Apa paradoks ada untuk meramaikan dunia, atau ada pengetahuan di situ?

Di dunia buku ada milis pasarbuku yang menurut seorang senior perbukuan Mula Harahap mirip kolam lele: jorok, komentar apa pun bisa masuk. Anehnya, setiap karya yang dikecam atau dihujat biasanya malah laku di pasar karena memicu rasa ingin tahu orang. Katakanlah, jika sebuah karya dikecam jelek, orang-orang ingin tahu, sejelek apa karya itu, apakah seburuk yang diberitakan, dan lain-lain.

Buku Supernova sangat laku justru setelah dikecam kritikus yang membuktikan Dee melakukan kesalahan dalam menerangkan sains di novelnya. Jika sengaja pasang iklan di koran ternama, entah berapa juta harus dia keluarkan. Tapi sebuah kritik atau hujatan di media bisa menjadi berkah bagi penulis manapun. Sebagian besar karya yang menuai banyak protes memang provokatif, menarik rasa ingin tahu orang, lepas bagus atau tidak. Kecaman malah menguntungkan karena berubah menjadi media promosi yang efektif.
Teori chaos menyebutkan, kepak sayap kupu-kupu di Amerika Latin bisa menyebabkan terjadinya tornado di Kanada. Hujatan di media menyebabkan ketertarikan orang yang tinggi terhadap sebuah karya. Seorang teman pernah berkata chaos sudah dirancang sedemikian rupa, sifatnya hukum alam, niscaya. Peristiwa-peristiwa dalam hidup memengaruhi pola perilaku manusia yang intinya berujung pada pencarian makna hidup agar chaos diletakkan pada posisi yang benar.

DUA bulan lalu seorang teman mengeluh hanya bisa menempati rumahnya hari minggu saja, karena masih harus tinggal di rumah dinas agar lebih dekat dengan tempat kerja. Ide ‘rumah hari minggu’ terlintas pertama kali di kepala. Jika diselisik, hari kerja dari Senin sampai Jumat memang menguras stamina. Sering suami saya pulang kelelahan dan tidur setelah makan dan mengobrol sebentar. Kadang-kadang dia bangun menjelang subuh untuk menulis. Jika masih terjaga, kami biasa ngobrol sampai pagi. Jika tidak, maka waktu ngobrol beberapa saat sebelum dia ke kantor terasa cukup mahal. Karenanya tradisi ‘rumah hari minggu’ diperlukan. Minggu menjadi hari berbagi supaya kami bisa saling memerhatikan, merawat, dan membantu. Hubungan perlu difasilitasi tidak dengan materi saja, tetapi dari keinginan membagi sesuatu dari dalam diri. Entah itu cerita, energi, pengetahuan, atau pengalaman. Minggu adalah hari ideal saat pasangan bisa saling berbagi satu sama lain, agar tercipta hubungan yang sehat dan terbuka.

Maka saya merancang beberapa hal berbeda untuk hari Minggu. Kami saling bercerita, berjalan kaki ke pasar membeli sayur, lauk, makanan; membaca buku yang berbeda dan saling menceritakan isinya; jadi istimewa karena semua orang tergerak untuk melakukan dan menjadi sesuatu. Minggu jadi satu-satunya hari saat suami mau membantu memotong sayur dan menjemur baju; anak mau pergi ke warung jika ada bahan yang kurang, membagi makanan dan melipat pakaian; berbagi cerita tentang harapan dan optimisme.

Kadang-kadang bisa terjadi sebaliknya. Jika ada undangan, Minggu di rumah sepi makanan selain makanan sisa semalam. Kalau ada tulisan yang harus diselesaikan, Minggu jadi penunaian deadline. Namun Minggu tetap spesial, karena kami bisa ngobrol dengan nyaman. Sungguh, Minggu adalah hari ketika energi positif menular menjalari orang seisi rumah dan selalu ditunggu-tunggu. Hari itu kami membangun tradisi ngobrol santai beralas karpet sambil memasak, makan, nonton bersama, kadang-kadang diselingi pertengkaran kecil antara anak dan ayah atau saya. Hari itu rumah kami punya nama khusus; ‘Rumah Hari Minggu.’[]

Septina Ferniati,

eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.

[diambil dari http://www.halamanganjil.blogspot.com ]

 


Responses

  1. ini cerita tentang keluarga apa cerpen………………….hmm……?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: