Oleh: pinjambuku | 16 Agustus 2008

CITA-CITA ANAK KITA

Berhala Materi:

Pendidikan dalam Penjara Profesi

“… belajar agama hanya berguna untuk mereka yang ingin menjadi agamawan atau hanya berguna untuk kehidupan di akhirat…”

“Susan, Susan, Susan. Kalau gede, mau jadi apa?” Demikian sebuah lagu anak-anak yang sangat populer sekian tahun lalu. Lagu itu tidak banyak lagi dinyanyikan kini, tapi pertanyaan yang muncul dalam lagu tersebut terus berulang jadi kalimat standar dalam percakapan antara orang dewasa dan anak-anak yang baru mereka kenal. Jauh sebelum lagu itu diciptakan dan akan hidup entah sampai kelak kapan, pertanyaan tentang cita-cita dan minat anak-anak akan dunia orang dewasa menjadi bahasan terpenting di semua lapisan sosial.

Dalam pemikiran orang dewasa, pertanyaan tersebut cukup sederhana. Jawaban yang muncul kemudian juga sangat sederhana. Jadi dokter, atau tentara, atau presiden, atau guru, atau insinyur, dan pekerjaan-pekerjaan standar lainnya. Tentu saja, semua jawaban itu lebih banyak berasal dari orang dewasa yang ada di sekitar si anak kecil, entah orang tua, kakek dan neneknya, atau saudara dan teman-teman orang tua mereka.

Apakah kehidupan masa kini mengubah pandangan masyarakat atas profesi-profesi standar yang diandaikan dapat menjamin masa depan anak-anak mereka? Rasanya tidak. Setiap orang tua biasanya mengarahkan anak-anak mereka untuk memiliki cita-cita umum untuk memilih profesi-profesi standar seperti dokter, tentara, pilot, dan pejabat negara. Mungkin dengan tambahan profesi impian khas masyarakat korban media, yakni sebagai artis sinetron atau penyanyi—yang diandaikan sebagai pekerjaan yang penuh dengan uang dan kemewahan, yang dapat dijangkau dengan jalan pintas yang sangat cepat sebagaimana banyak digambarkan dalam beraneka kontes adu bakat dan adu nekat yang diadakan oleh stasiun-stasiun televisi kita.

Mengapa tidak ada anak atau orang tua yang mengarahkan anaknya sejak kecil untuk memiliki cita-cita sebagai pengusaha atau pedagang, pelaut atau petani, atau jenis-jenis pekerjaan alternatif lainnya? Padahal, enterpreneur pengusaha atau pedagang memiliki posisi yang sangat penting untuk memaksimalkan jumlah penduduk yang luar biasa besar baik sebagai buruh ataupun konsumen. Demikian juga dengan peran pelaut dan petani untuk mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia sebagai negara agraris sekaligus maritim.

Jalan pintas dan penekanan pada hasil berupa materi yang kasat mata. Inilah strategi utama pemerintahan Orde Baru untuk menancapkan pengaruhnya di atas rezim lama yang ditumbangkannya. Jika pada era Soekarno kehidupan material rakyat Indonesia hancur lebur, maka Soeharto mencitrakan diri sebagai pemimpin baru yang lebih baik dengan melaksanaan program-program ekonomi yang bersifat instan. Penanaman modal asing masuk secara luar biasa besar, hutang luar negeri yang tak terkendali, sampai beraneka program intensifikasi pertanian yang menekankan pada hasil swasembada pangan, tepatnya beras, namun mengabaikan munculnya ketergantungan sistem pertanian dan punahnya bibit-bibit unggul lokal dan keragaman pangan.

Ideologi baru tersebut merambah ke segala lini kehidupan bangsa Indonesia. Segala cara ditempuh oleh pemerintah untuk menumbuhkan ideologi baru ini, mulai dari pemberangusan demokrasi, seni dan budaya, bahkan agama—dalam bentuk penetapan lima agama resmi yang diakui di Indonesia. Tidak bisa tidak, tiga dekade pemerintahan Soeharto lebih dari cukup untuk menjadikan ideologi pembangunan tersebut sebagai pandangan hidup yang mengakar kuat dan mendarah daging dalam pola pikir setiap manusia Indonesia.

Tujuan menghalalkan cara. Inilah ideologi yang oleh rezim Soeharto ditasbihkan kepada musuh politik yang ditumpasnya, yakni PKI. Akan tetapi, prinsip yang menekankan pada hasil akhir dan menafikan proses tersebut nyatanya menjadi sistem utama pemerintahan Soeharto selama lebih dari tiga dekade.

Sistem pendidikan menjadi salah satu agenda utama pemerintahan Orde Baru untuk mematikan pemikiran kritis yang menyempal dari ideologi penguasa. Pengendalian dan pengawasan ketat di bidang pendidikan ini memunculkan pola pembelajaran tertutup, yang mengedepankan hafalan dan teori, menjauh dari membuka cakrawala pemikiran untuk mengembangkan kecerdasan dan kearifan.

Tidak aneh jika setiap upaya belajar anak-anak dilekati dengan stigma-stigma yang mematikan kreativitas. Sebagai contoh, belajar menggambar hanya berguna untuk mereka yang ingin jadi pelukis. Dan karena menjadi seniman bukanlah profesi yang masuk dalam kategori menjamin kesuksesan secara materi, bidang ini hanya sambil lalu diajarkan di masa taman kanak-kanak atau maksimal sekolah dasar. Padahal, jika kita mau menyimak lebih jauh, pelajaran ini memiliki kelebihan mengajarkan kemampuan mengolah penguasaan garis, bidang, dan warna, juga intuisi dan rasa, aspek-aspek yang jelas dibutuhkan bukan saja untuk menjadi seniman, tetapi juga untuk beraneka profesi lain dan bahkan untuk menjalani kehidupan nyata dalam arti yang seluas-luasnya.

Belajar membaca dan menulis puisi dan sastra dianggap hanya akan menjerumuskan anak menjadi penyair atau sastrawan, profesi yang diidentikkan dengan kehidupan bohemian khas seniman di masa lalu. Tak aneh jika kemudian negeri ini, sebagaimana dikemukakan sastrawan Taufik Ismail, adalah bangsa yang buta sastra. Sementara, Seno Gumira Ajidarma menyatakan kemampuan membaca dan menulis di negeri ini sekadar untuk membaca iklan lowongan dan menulis lamaran pekerjaan.

Bisa jadi, kemampuan membaca dan menulis sebagian besar kaum terpelajar bangsa jauh lebih parah dari itu. Alih-alih memiliki budaya kritis, sebagai bagian yang timbal-balik dari kemampuan membaca dan menulis, sekadar menulis lamaran pekerjaan dan riwayat hidup atau curriculum vitae-pun harus mencontek dari buku, sebagaimana tampak pada maraknya beraneka versi buku panduan mencari pekerjaan semacam ini. Padahal, mereka yang berhasil mengoptimalkan kemampuan ini menjadi penulis yang berlimpah penghasilan dan dihormati, sebagaimana mengemuka dalam diri Andrea Hirata penulis tetralogi Laskar Pelangi, Habiburrahman El Syirazy penulis Ayat-Ayat Cinta, dan masih banyak penulis lain yang tidak banyak mendapat sorotan media seperti kedua penulis fenomenal tersebut.

Hal-hal yang berkaitan dengan seni dan budaya memang masih menjadi aspek yang diabaikan dalam proses modernisasi di negeri ini. Modern berarti kehidupan material dan apa yang tampak, berupa pembangunan infrastruktur dan ekonomi ala Orde Baru. Sementara itu, seni dan budaya berhenti sekadar sebagai slogan. Lebih parah lagi, slogan yang ditempatkan sebagai tinggalan masa lalu yang hanya pantas dilap-lap dan dilestarikan dalam almari kaca, menjadi sekadar atraksi atau suvenir untuk para turis.

Pemerintahan Orde Baru dikenal merambah ke seluruh segi kehidupan rakyatnya. Bukan hanya pada penguasaan atas kendali pemerintahan dan kekayaan alam saja, tetapi bahkan merambah ke kehidupan keluarga, antara lain pada proses pemaksaan program keluarga berencana. Demikian juga dalam proses pendidikan tertutup yang tidak hanya berlaku di bidang seni dan budaya. Pengembangan kepribadian dan kemandirian yang menjadi spirit gerakan kepanduan, misalnya, berubah menjadi bentuk pemaksaan kedisplinan khas militer. Demikian juga dengan pelatihan kemampuan wirausaha yang identik dengan koperasi dan kemampuan di bidang olah raga mengarah pada pembentukan seorang anak untuk menjadi atlet.

Zaman memang telah berubah. Orde Baru telah berganti dengan era reformasi, yang bahkan sudah mulai dibenci oleh rakyat yang terimpit dengan beraneka kesulitan hidup. Akan tetapi, sistem pendidikan dan pola pikir telah terlanjur mengakar dan menjadi bagian utuh dari bangsa kita. Disadari atau tidak, seluruh segi kehidupan bangsa ini masih memiliki pola yang sama, mengukur kesuksesan berdasarkan materi dan menjauhkan diri dari pikiran yang terbuka.

Bisa jadi, pola pikir yang demikian ini juga berlaku dalam pendidikan agama. Bahwa belajar agama hanya berguna untuk mereka yang ingin menjadi agamawan atau hanya berguna untuk kehidupan di akhirat. Demikian juga dengan penanaman nilai-nilai budi pekerti dan adat dan budaya, bisa jadi dinilai sebagai arahan untuk menuju kehidupan di masa lampau. Sebagaimana tampak pada kasus standar nilai kelulusan ujian nasional yang memunculkan kecurangan-kecurangan, standar kesuksesan hidup berdasarkan besarnya kekayaan menumbuhkan budaya korupsi di berbagai bidang kehidupan. Jika yang terjadi memang demikian, jangan heran jika degradasi moral dan sosial semakin merajalela di negeri ini. Dan, keruntuhan bangsa ini tinggal menunggu waktu, bahkan segera menjadi nyata.


Responses

  1. agama memang penting dalam kehidupan profesi apapun

  2. “… belajar agama hanya berguna untuk mereka yang ingin menjadi agamawan atau hanya berguna untuk kehidupan di akhirat…” itu kata siapa mas?
    Wah postingan ini senada benar dengan apa yang saya pikirkan selama ini. Begini:
    Bengsa kita telah terjerumus secara sengaja dalam semangat hedonisme uang, fulus dan duit. Semangat untuk mengejar kekayaan secara instan sambil mengabaikan nilai-nilai kearifan yang kita miliki.
    Hampir seluruh anak2 kita bila memilih pekerjaan pasti akan terlebih dulu mengukurnya secara materi: Kekayaan. Itulah intinya. Seniman, para penulis? Jangan coba2 nak. Hidupmu akan susah begitulah kata mereka. Padahal memelihara jiwa seni dan mengembangkan minat baca akan memperkaya khasanah berpikir kita dan membuka cakrawala wawasan. Anak-anak sekarang hanya pandai meniru saja tanpa daya kreatifitas yang timbul sendiri, Karena kreatifitas memang telah dilumpuhkan oleh pembodohan rezim dan media yang materialistis serta mengembangkan sikap konsumerisme instan.
    Bersamaan dengan itu, kekayaan diagung-agungkan. Semua mau tampil serba ‘wah’ meskipun cara memperoleh itu semua dengan main kotor dan menjual harga diri yang penting bisa mentereng. Iri hati pun berkembang beranak pinak dan dilembagakan dalam masyarakat. Kalau sudah begini negeri kita tinggal menunggu ambruknya saja..
    Maaf komentar ini terlalu panjang tapi saya sependapat dengan penulis postingan ini… Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: