Oleh: pinjambuku | 10 September 2008

Suatu Hari Ketika Aku Rindu Jogja

“maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk di bawah hujan rintik-rintik–SDD”

Selalu, setiap membaca tentang Jogja, aku jadi kangen. Ya, seberubah apapun kota itu, ada banyak hal yang membuat aku tak bisa benar-benar melupakannya. Sekali ini, aku membaca kembali tentang keraton. Tentang para penghuni tanah magersari. Berbeda dengan kasus pemerintahan, tentang status keistimewaan dan jabatan gubernur yang tidak jelas juntrungnya, keseharian orang-orang biasa dalam cerita itu membuat aku kembali merindukan Jogja. Aku rindu pada kehidupan yang biasa-biasa saja, yang sederhana, yang penuh persaudaraan dan cinta.

Masyarakat biasa yang hidup di lingkungan njeron beteng itu sesungguhnya hidup dalam keterbatasan. Dengan tinggal berhimpit-himpit di antara lorong-lorong kecil di belakang rumah besar para kerabat keraton, kondisi fisik pemukiman mereka tidak jauh berbeda dengan lingkungan marjinal di kota-kota besar lainnya. Tapi, kampung marjinal di Jogja jelas berbeda. Selalu ada nuansa kerukunan dan kultural yang bisa aku dapatkan setiap kali menyusurinya.

Bahkan meski semua itu seringkali tinggal imajinasi atau citra, ketika aku menemukan realitas yang jauh berubah dan berbeda di hari-hari terakhirku di ogja, tetap saja aku merindukannya. Ya, perubahan besar di kota itu dan hidupku membuat aku harus pergi ke Jakarta. Hampir tiga bulan sudah kutinggalkan Jogja, masa paling lama aku tidak menghirup udara Jogja dalam lima belas tahun terakhir. Aku bahkan masih terheran-heran dengan kepergianku dari Jogja, berlanjut dengan rasa takjub betapa aku tidak punya keinginan untuk sejenak kembali ke sana, entah di akhir minggu atau akhir bulan. Alangkah ajaibnya hidup. Diberinya aku kekuatan untuk pergi dan dihilangkannya keinginan untuk kembali.

Begitulah, hidup seakan berjalan dengan wajar. Seakan perubahan yang menjadi keniscayaan membuat perjalanan waktu mengalir lancar, dan aku tinggal menjalaninya saja, apa adanya. Dan aku larut dalam kehidupan kerja di Jakarta. Dan Jogja larut tinggal menjadi kenangan. Dan tiba-tiba aku temukan diriku terbangun di suatu pagi di hari Sabtu yang gaib. Hari ketika kutemukan diriku berurai air mata tanpa tahu sebabnya.

Aku mencoba menelisik benak dan batinku, otak dan jiwaku. Apakah ada yang tidak beres dalam hidupku? Tidak, semua baik-baik saja. Kecuali bahwa aku kini sendiri. Tak ada orang-orang tercinta, tak ada kawan, tak ada handai taulan. Kecuali bahwa aku kini setiap hari berangkat ke kantor, bekerja, melakukan sesuatu yang selama ini di luar idealisme dan akal sehatku: menonton televisi. Tapi semua itu sudah aku pilih. Semua itu aku jalani dengan penuh kesadaran. Jadi apa yang membuat aku bertemu dengan pagi di hari Sabtu yang ganjil itu? Barangkali semua perubahan itulah penyebabnya. Tapi rasa sentimentil dalam diriku lebih berdamai ketika aku bilang kepada diriku sendiri: kau tidak bisa menipu diri sendiri, kau tidak bisa berpaling dari kebenaran yang sembunyi di dadamu, kau harus menerimanya: kau cinta Jogja dan merindukannya.

Begitulah. Tak setiap hidup bisa dihadapi dengan logika. Apalagi cinta. Tapi tak setiap yang di luar logika tidak bisa kita selesaikan dengan akal sehat. Hanya bagaimana kita menemukan keseimbangan sehingga semua bisa bersinergi untuk hidup yang lebih baik. Ya, Sabtu yang ajaib itu memberi pelajaran (ulang) untukku: menutup dan menekan perasaan sendiri bukanlah tindakan yang dianjurkan untuk kesehatan jiwa. Jujurlah dan berbaiklah bahkan pada bagian yang paling cengeng dan tidak bermutu dari dirimu, jalani dengan kewajaran tapi waras daripada main gila dan jadi gila beneran.

Lalu, di hari yang sama, aku temukan sebuah majalah lama. Di sana termuat satu artikel tentang jagat raya, tentang perjalanan waktu dan betapa bumi ini tidak lebih dari sebutir debu. Apalah lagi dengan Jogja? Bagaimana pula dengan diriku sendiri. Alangkah semuanya hanya sebiji zarah di hadapan Allah.

Ketika itu, aku jadi teringat dengan ”Manuskrip Celestin” dan ”Sang Alkemis”, pada berlakunya daya buana atau energi semesta. Ketika aku berpasrah pada kenyataan betapa aku kangen Jogja, setelahnya diberinya aku terang betapa semua itu bukanlah apa-apa. Begitulah, setelah itu aku jadi bisa tertawa, menertawakan diri sendiri tepatnya, dan berdamai dengan dunia.

Apapun, rasa kangen dan cinta, dan harapan untuk bertemu kembali dengan seseorang (dan Jogja), meski tidak nyata, meski imajinatif, memang bisa menyalakan daya hidup kita. Semoga jadi nyala yang positif dan bukan membikin hangus!


Responses

  1. Maklum baru beberapa bulan intens di Jakarta. Dan belum lama jadi bapak. Barangkali `tokoh kita` ini sedang terjaga bahwa sehari-harinya bukanlah sebuah mimpi atau rekreasi, yang suatu saat akan kembali ke kehidupan sebelumnya. Menurut saya itu fase setelah jetlag. Setelah itu semua akan ok-ok sajah. Don`t Worry be Happy!

    Salam dari Kebon Jeruk.

  2. bahkan aku telah menghamili jakarta. makan, minum, bahkan bernafas dengan udara jakarta. Tapi kerinduan pada jogja mengental ketika malam menjelang tidur.
    Melihat anak-anak betawi yang luthuk berujar kata-kata kotor; gua tampol lu, taik, anjing lu pade…..akan jadi apa anak guwa nanti…..mulutkupun mulai tercemar.

    Selama apapun itu….aku akan pulang ke jogja…tak mau berumah di jakarta…..dapat uangnya gak apa-apa….

  3. Nah,
    daku kan belajar pada kalian berdua….
    semoga daku bisa bahagia di Jakarta dan tetap boleh rindu Jogja tanpa harus berdendam dan lebam….

    Aha,
    menyadur Chairil pernah bilang:
    hilang secepuh cemas, hilang secepuh segan
    tidak setapak berjarak dengan jakarta!

  4. saya pengin mempunyai buku tsb suatu hari aq rindu jgj……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: