Oleh: pinjambuku | 18 Desember 2008

Puisi, Catatan Kaki

JAKARTA

I

Setiap kali duduk di meja kantin itu, selalu ia teringat pada sebait sajak, yang berkisah tentang kesepian dan perih yang menyelinap di antara orang-orang. Ia kesepian. Ia rindu pada rumah, rumah dan semua yang ada di kota asal yang harus ditinggalkannya. Ia rindu pada orang-orang dan suasana, pada sapaan dan tawa yang tumbuh di bibir setiap orang, pada ejekan dan makian yang hangat dan akrab, pada lamunan yang tak penting dan nostalgia yang terus berdering nyaring. Ia rindu pada sepi yang lain, bukan sepi yang beku di udara pendingin ruangan, bukan sepi mengering di panas matahari, bukan sepi yang terbakar oleh curiga dan dengki.

Ia kesepian setiap kali duduk di meja kantin itu, setiap duduk di ruang kerjanya, setiap malam menjelang tidur dan ketika ia terbangun kesiangan. Ia selalu bergegas dan kehabisan waktu untuk meresapi kesunyian hidupnya. Ia rindu sepi, yang melintas-lintas dan menggodanya untuk pergi, untuk pulang ke rumah lama yang telah ditinggalkannya.

Ia tahu, rumah itu telah hilang, kota lama itu telah hilang, orang-orang itu telah lama berubah. Ia tahu rindunya bagai rindu pungguk merindukan bulan.

Di kota ini, lampu-lampu berlomba di tempat terang, dan kegelapan menyembunyikan nista setiap orang.

Ia kesepian.


Responses

  1. salam kenal….ya jlan-jalan di dunia maya menghantarkanku ke blog ini…tulisan yang bagus…met berkarya terus….saya tunggu kenjungan baliknya ke blog puisi dan sajak indahku

  2. keren..kpn2bikinin aq dunx..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: