Oleh: pinjambuku | 30 Mei 2013

sepasang kekasih yang tak lagi bercinta dan seterusnya

di rentang waktu yang memburu menderu
kau ceraikanku darimu yang tak lagi ada
lenyap di hitam angkasa malam sebelum hujan
tinggal gelap di mataku di hati remuk redam kenangan

tak ada lagi kata kita di kamus di buku-buku berdebu
tak ada lagi kata kami dalam percakapan sesama
aku sendiri dan diam
aku sendiri dan pejam
seperti tak akan pernah ada lagi pagi
sampai kemudian hujan turun dari angkasa malam
merendamku dalam kenangan tak ada lagi harapan
aku menangis dan kuyup
aku menangis dan larut

dan hujan pun berhenti
tak ada lagi kau di sini
tak ada lagi aku di mana pun juga kau tak ada

dan hujan pun berhenti
di kerlap lampu yang memendar di genangan jalanan

kutemukan lagi kau tak lagi ada
kutemukan lagi diriku
menuju pagi

 

————

sudah lama sekali tidak menulis, memang tidak berabad-abad seperti yang biasa jadi istilah untuk para penyair itu, tapi cukuplah untuk memaki diri sendiri.

dan betapa setiap hari memaki dan tetap tidak mencoba memperbaiki diri itu sungguh satu kesia-siaan. sampai kemudian terdampar ke sebuah lagu, yang kurang lebih berjudul “sepasang kekasih yang pertama kali bercinta di luar angkasa” dari kawan-kawan jogja.

ah, masih juga memakai kata “kawan-kawan” bahkan untuk sekadar sesama penghuni kota yang kini bahkan tidak lagi kuinjakkan kaki di sana–pun dalam setahun terakhir ini. tapi, memang ada satu masa aku ada di kota itu, bukan? dan lagu itu, tidakkah dibikin dan dinyanyikan oleh mereka yang tumbuh jadi para juara di masa yang sama? ah, betapa ada teramat banyak nama juara yang lahir dari kota yang sama dari masa yang sama.

dan aku di sini. tak lagi menulis. tak lagi mencipta. tak lagi melakukan sesuatu yang pada satu masa pernah mendarah daging dalam jiwa.

* di rentang waktu — lirik awal lagu yang menjadi pemantik aku memaksakan menuliskan ini, sambil memutar dan mengulang lagi youtube lagu itu versi frau dan ugoran prasad.


Responses

  1. judul lagu itu mengingatkan sajak subagio sastrowardoyo “manusia pertama di angkasa luar”. masih belum juga bisa mencari bukunya–dan tetap tidak juga mulai menata perpustakaannya, akhirnya mencari di internet dan menemu puisi itu. pertama terbit di majalah kalam, kayaknya. entah dari tahun berapa–mungkin 90-an atau awal dua ribu.

    Manusia Pertama di Angkasa Luar – Subagio Sastrowardoyo

    Beritakan kepada dunia
    Bahwa aku telah sampai pada tepi
    Darimana aku tak mungkin lagi kembali.

    Aku kini melayang di tengah ruang
    Di mana tak terpisah malam dan siang.
    Hanya lautan yang hampa di lingkung cemerlang bintang.
    Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang.
    Jagat begitu tenang. Tidak lapar

    Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di rumah.
    Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah.
    Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu
    Dengan membawa dongeng dalam mimpi tentang bota
    Dan raksasa, peri dan bidadari. Aku teringat
    Kepada buku cerita yang terlipat dalam lemari.

    Aku teringat kepada bunga mawar dari Elisa
    Yang terselip dalam surat yang membisikkan cintanya kepadaku
    yang mesra. Dia kini tentu ada di jendela
    dengan Alex dan Leo, – itu anak-anak berandal yang kucinta –
    Memandangi langit dengan sia. Hendak menangkap
    Sekelumit dari pesawatku, seleret dari
    Perlawatanku di langit tak berberita.
    Masihkah langit mendung seperti waktu
    kutinggalkan kemarin dulu?

    Apa yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita.
    Sebab semua telah terbang bersama kereta
    ruang ke jagat tak berhuni. Tetapi
    ada barangkali. Berilah aku satu kata puisi
    daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji
    yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
    yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi
    Tetapi aku telah sampai pada tepi
    Dari mana aku tak mungkin lagi kembali.

    Ciumku kepada istri, kepada anak dan ibuku
    Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang.
    Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.
    Aku makin jauh, makin jauh
    Dari bumi yang kukasih. Hati makin sepi
    Makin gemuruh

    Bunda,
    Jangan membiarkan aku sendiri.

  2. eh, iya.
    versi paling asyik lagunya di sini:

    unduh lagu versi frau di sini:
    http://yesnowave.com/yesno042/

    lirik lagunya begini:

    Direntang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan,
    sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan
    Di gigir yang curam dan dunia yang tertinggal dan membeku
    Sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh

    Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
    seperti takkan pernah pulang (yang menghilang)
    Kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
    Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan Jalan pulang yang menghilang, tertulis dan menghilang, karena kita, sebab kita, telah bercinta di luar angkasa

    diambil dari sini:
    http://frau.bandcamp.com/album/starlit-carousel


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: