Oleh: pinjambuku | 21 Maret 2014

Puisi yang Tak Ingin Bunuh Diri

puisi yang tak ingin bunuh diri

Aku Ingin Jadi Peluru. Buku puisi karya Widji Thukul yang fenomenal itu. Saya mendapatkannya di lapak obralan, hanya 3 eksemplar ini yang tersisa dan tak ada yang lainnya meski saya sdh berulang membongkar sekian banyak buku yg tertumpuk tumpah ruah.
Mungkin hanya segitu rejeki saya, semacam ganti untuk koleksi yg saya relakan unt kawan yg memintanya. Semoga mereka yg juga mencari buku ini bisa mendapatkannya di tempat dan waktu yang berbeda. Kata orang, kalo jodoh takkan kemana, kan, ya?! Hehehe…..
Tapi masihkah puisi penting hari ini? Masih adakah seseorang yg percaya bahwa puisi adalah nyawa adalah nadi adalah darah bagi kehidupannya? Masihkah adakah seseorang yang menjadikan buku puisi sebagai semacam kitab suci? Masih adakah seseorang yang hidupnya berjalan di jalan puisi, menjadikannya sebagai takdir, nujum, dan kutukan yang harus dijalani?
Nah, kata orang, hari ini adalah hari puisi dunia. Entah benar atau tidak, nyatanya saya bahkan tdk lagi peduli. Puisi, lebih-lebih penyair, sdh lama pudar pesonanya bagi saya. Saya bahkan lupa, kapan terakhir membaca puisi–oh, ya, beberapa minggu lalu, di kereta komuter: buku puisi joko pinurbo, pacar bulan atau semacam itulah. Hmm, apakah artinya masih ada ikatan di antara kami–saya dan puisi? Rasanya sih tidak. Setidaknya, saya bisa tegas mengatakan: tak ada harapan bagi saya dan puisi untuk kemesraan-tak-terpisahkan seperti dulu lagi!
Pun begitu, saya harus jujur mengatakan. Penemuan kembali 3 eksemplar buku puisi ini membawa saya kembali pada kenangan yang telah lama pudar. Aku Ingin Jadi Peluru. Ada bagian dari hidup saya mengalir kepadanya. Mungkin ketika saya membaca draft naskahnya, atau membawa file sampul dan isinya ke percetakan, atau ketika saya memasukkannya ke dus-dus untuk dikirim ke distributor dan toko buku, atau ketika saya menjaganya di pameran-pameran. 
Mungkin saja saya bahkan tidak melakukan apa-apa, bahwa semua kemungkinan itu hanya karena saya terlalu larut dalam nostalgia. Tapi kemungkinan tak melakukan apa-apa ini tidak bisa menghalangi ikatan saya dengan buku puisi ini. bahwa saya pernah jadi bagian dari lembaga yang menerbitkan buku ini. biar sekadar jadi bolo dupak, karena mengerjakan banyak urusan, saya bisa bilang: saya pernah di sana, dengan sepenuh cinta….
Tapi hidup tak pernah cukup hanya dengan cinta. Seperti juga hidup bukan hanya soal puisi. Mestinya ada banyak cerita yang bisa saya tulis tentang buku Aku Ingin Jadi Peluru ini–tentang kedatangan mbak sipon dan (seingat saya) dua anaknya, nganti wani yg ketika itu blm lagi beranjak remaja dan fajar merah yg msh belia. Atau tentang dokudrama Thukul Masih Hidup, yg sebagian diri saya ada dalam proses pembuatannya–ttp sbg bolo dupak juga. Tapi untuk apa? Untuk apa kalau kemudian saya bisa kembali jatuh cinta pada puisi, sedang hidup tak pernah cukup hanya dengan cinta, apalagi puisi?

View on Path


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: