Oleh: pinjambuku | 22 Maret 2014

Peta Politik

Ini bukan peta politik yang sebenarnya. Ini gambar lokasi penghasil kopi spesial di nusantara. Di bawahnya adl green bean (gabah?) kopi, salah satu tahap dlm proses pengolahan kopi.
Saya blm banyak paham hal ihwal kopi, sekadar tahu betapa kompleks persoalan terkait dgn ‘sekadar’ kopi, yang biasa saya minum begitu saja.
Satu ketika, saya beruntung bisa datang ke gayo di aceh tengah (yg hari2 ini hiruk-pikuk dan kacau sebab kampanye dan pemilu). Gayo adl salah satu penghasil kopi terbaik (terenak) di dunia. Kata orang sih begitu, dan saya bersetuju. Bagi saya, arabika gayo adl kopi yg spesial, sebagaimana arabika toraja-kalosi, dan jawa. Juga arabika bajawa dan arabika entah mana lagi yang sudah pernah saya nikmati.
Dari beberapa kafe dan warung, kopi terbaik saya nikmati di horas kopi yg pas di seberang pangkalan bus jurusan medan. Karena horas ini pula, saya dan tiga kawan bersepakat tidak pindah hotel yg letaknya bertetangga, hanya bersela tiga kios saja. Tiga kafe terkenal lain di takengon, ibukota kabupaten aceh tengah alias gayo, hanya sekali-dua saya coba. Selebihnya, ya kopi yang tersedia di warung-warung kopi biasa dan kopi tradisional yang disajikan di rumah-rumah penduduk. Di gayo inilah saya pertama kali merasakan kopi luwak liar (yang katanya tinggal dipungut saja di kebun). Katanya sih, ada juga kopi ganja (yang katanya tinggal petik juga di kebun).
Tapi kopi memang istimewa. Pengolahan yang berbeda akan memberikan rasa yang berbeda. Bertemu beberapa petani dan pengusaha, jadi penasaran. Macam mana kopi gayo sebenarnya. Ada yang bilang, petik dan fermentasi tidak boleh lebih dari sehari. Tapi ada juga yang menstandarkan 3 hari. Ada juga yang kopi dipetik lalu disimpan sekian minggu di karung yang diletakkan di atas pohon kopi (ini versi ajaib petani muda yg lagi bereksperimen, kayaknya sih begitu).
Belum lagi tahap pengeringan, lalu penyortiran, dan terutama penggorengan. Nah tahap ini nampaknya yang paling berbahaya. Dengan banyak bumbu teori dan analisis, saya berkesimpulan: biji-biji kopi mesti dipilih dan dipilah berdasarkan besar dan kecilnya biji. Katanya sih ada 5 jenis kopi, yang mesti diolah tersendiri berdasarkan ukuran masing-masing. Logis juga: kalo ukurannya beda, pasti pas digoreng beda juga waktu matangnya. Yang satu mentah, yang lain gosong. Kalo dicampur, ya rusak rasanya. Tapi kebayang nggak, memilah dan memilih sekian kilo atau sekian ton kopi (yang artinya ratusan dan ribuan biji kopi)? Hmmm, starbak punya alatnya kali ya….
Menggorengnya juga tidak bisa sembarangan. Kalo pake wajan yg terbuka, yang tradisional itu, ya wajar kalo kopi jadi arang doang. Lha aromanya sudah ilang. Makanya, alat goreng alias roaster ada di kafe (dan rasa kopinya jadi oke).
Masih ada lagi. Kopi katanya menyerap aroma dan bau (makanya suka ada diberi bubuk kopi di ruangan yang jadi persinggahan orang meninggal). Nah, setiap tahap proses pengolahan kopi juga menentukan hasilnya. Di mana menjemurnya, bagaimana memilih kopinya, sampai pas menggoreng yang pakai alat itupun ditentukan sama bgmn keringat si penggorengnya. Yang lebih sangar, saya ada ketemu ‘ahli’ kopi setempat yang bilang: ketulusan si penyeduh kopi pun bisa menentukan rasanya. Beliau memberi contoh: sediakan kopi dan minta beberapa orang membikin dengan ukuran yang sama (bubuknya sama, air panasnya sama, gelasnya sama). Yang dibikin orang yang baik hatinya dan ikhlaslah yang paling enak di lidah kita. Walah….
Ada lagi keajaiban lain kopi. Kata ahli kopi lainnya, kopi yang ada di segelas kopi starbak itu setara dgn 12 ribu biji kopi mentah di gayo! (kurang lebih segini itung2annya, seingat saya). Tapi bene juga sih…. Di pak horas kopi gayo aja, kopi biasa 3 ribu, long bean 4 ribu, pea bean 5 ribu, luwak 7 ribu segelasnya….
Kenapa bisa begitu? Mungkin ini yang namanya politik dagang eh politik warung kopi. Pemerintah nggak becus bikin rakyat cuma bisa minum kopi saset. Kopi yang enak dijuwal ke luar negeri untuk dipasarkan lagi dengan harga selangit di sini. Sama kan, kayak minyak bumi, gas, dan semua kekayaan negeri ini.
Biar tdk ada yang berani bilang bahwa kopi saset itu adalah kopi rejeck dari sisa-sisa biji kopi yang dipilih dan dipilah lalu diberi parfum kimia, tapi saya mmg sdh terlanjur kena guna-guna kopi asli arabika (semoga ini tdk membuat saya divonis sbg pengikut partai yks). Yang artinya: kopi saset tdk bisa lagi menggoda saya.

Apalagi? Oh, gambar peta konstelasi kopi bukan diambil di gayo, tapi di tmii. Ra nggenah tenan, persis sama ini tulisan…. Aku ki mau arep ngopo to? Oh iyo, arep mbut gawe. Yo wis, ngopi gayo sik. Kopi anggur bungkus terakhir!!!

View on Path


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: