Oleh: pinjambuku | 27 September 2014

(masih) kangen jogja

sebagai umat yg kabur kanginan, jogja pernah saya pilih sebagai kampung halaman. seperti lagu desaku yang kucinta itu. desaku yang permai yang kemudian menumbuhkan kenangan-kenangan yang tak tepermanai.

sampai kemudian jakarta memberi saya rutin-rutin sebagai seorang yang rudin. dan perlahan jogja mengendap dan bersijingkat lindap. mau bagaimana lagi, bukankah hidup terdiri atas beraneka kerutinan juga, seperti juga saya dan jakarta.

tapi jakarta bukan jogja. seperti juga jogja bukan jakarta. ketika di jogja, bagi saya dan banyak kawan di sana di sana, jakarta adalah bangsat dengan segala macam kebajinganan. sebaliknya, jogja bagi mereka yang di jakarta adalah semesta pesona, setidaknya bagi saya. setidaknya untuk suatu masa. kalau sudah begini, bagaimana bisa saya menetapkan jakarta menggantikan jogja sebagai kampung halaman. musykil sekali, bukan?

tapi waktu adalah mesin terbaik untuk menumbuhkan kenyataan-kenyataan. realitas bahwa jogja bukanlah kampung halaman saya. bahwa jakarta tidak juga bisa membangun dirinya jadi kampung halaman tidak bisa mengubah kenyataan bahwa saya tidak bisa lagi mengekalkan jogja dalam hidup saya.

maka, cukuplah warung jogja yang menyediakan mie lethek dan beras kencur macam ini sebagai hiburan. bukan untuk mengekalkan kenangan, hanya sekadar sentimentalisme cinta sekolah rendah. cukup sudah….

View on Path


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: